Penerbangan di Bandara Singkawang Terhenti Sebulan Akibat Kabut Asap
Penerbangan di Bandara Internasional Supadio, Singkawang, Kalimantan Barat, terpaksa dihentikan selama sebulan penuh akibat kondisi kabut asap yang sangat pekat. Penundaan ini berdampak signifikan terhadap mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi di wilayah tersebut.
Kepala Bandara Supadio, Singkawang, menjelaskan bahwa sejak pertengahan September hingga pertengahan Oktober, seluruh aktivitas penerbangan komersial di bandara tersebut diliburkan total. Keputusan ini diambil setelah tingkat visibilitas di bandara menurun drastis hingga di bawah batam minimal operasional yang ditetapkan.
Kondisi Kabut Asak Ekstrem
Kondisi kabut asap yang melanda wilayah Kalimantan Barat dalam beberapa pekan terakhir termasuk yang paling parah dalam sejarah. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di sejumlah titik di Singkawang dan sekitarnya secara konsisten berada di level berbahaya, sering kali melebihi angka 500.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Singkawang mengatakan bahwa kabut asap ini berasal dari kebakaran lahan dan hutan (karhutla) yang terjadi di wilayah provinsi tetangga seperti Kalimantan Tengah dan Riau. Angin yang bertiup dari arah timur-tengara membawa partikel-partikel asak ke wilayah Singkawang.
"Kondisi ini membuat aktivitas penerbangan menjadi sangat berbahaya. Visibilitas yang rendah membuat pesawat tidak bisa mendarat atau lepas landa dengan aman. Keputusan untuk menghentikan penerbangan adalah langkah yang harus kita ambil demi keselamatan penumpang dan awak pesawat," ujar seorang petugas bandara yang meminta tidak disebutkan namanya.
Dampak bagi Masyarakat dan Perekonomian
Penundaan penerbangan ini tentu saja memberikan dampak signifikan bagi masyarakat Singkawang dan sekitarnya. Banyak penumpang yang terkena dampak, baik yang hendak bepergian maupun yang tiba di kota ini.
Seorang warga Singkawang yang berniat berobat ke Pontianak mengeluhkan situasi ini. "Saya sudah menunda perawatan saya selama seminggu karena penerbangan ke Pontianak terhenti. Saya harus mencari transportasi darat yang jauh lebih lama dan tidak nyaman," ujarnya.
Sementara itu, dunia usaha juga merasakan dampaknya. Hotel-hotel dan restoran di sekitar bandara melaporakan penurunan drastis jumlah tamu. "Biasanya kami selalu ramai dengan penumpang transit atau wisatawan yang tiba pesawat. Sekarang ini, hampir tidak ada tamu sama sekali," kata se pengelola hotel yang berlokasi dekat dengan bandara.
Upaya Penanganan dan Jadwal Kembali Beroperasi
Pemerintah daerah setempat bersama pihak bandara telah berupaya keras untuk mengatasi masalah ini. Upaya penyiraman air dari udara (water bombing) dan penyiraman di titik-titik sumber asap telah dilakukan secara intensif selama seminggu terakhir.
"Tim gabungan dari BPBD, pemkab, dan TNI-Polri terus bekerja keras untuk memadamkan api di titik-titik kebakaran. Kita juga menyediakan masker gratis bagi masyarakat dan melakukan penyuluhan tentang bahaya kabut asap," kata Kepala BPBD Singkawang.
Setelah kondisi membaik, pihak bandara melakukan serangkaian uji coba pendaratan dan lepas landa sebenarnya untuk memastikan keamanan operasional. "Pada Rabu lalu, kami mengizinkan satu penerbangan khusus untuk membawa obat-obatan dan tim medis ke daerah terdampak. Hasilnya cukup memuaskan, visibilitas sudah mencapai standar minimal," jelas seorang petugas bandara.
Sejak Kamis (19/10), penerbangan komersial di Bandara Supadio, Singkawang, kembali beroperasi secara normal. Meski demikian, pihak bandara tetap waspada dan akan terus memantau perkembangan kondisi cuaca. "Kami akan tetap mengikuti prosedur operasional normal. Jika pada suatu saat kondisi memburuk kembali, kita siap kembali menghentikan operasional demi keselamatan semua pihak," tutupnya.
Komentar (0)