Perak Jatuh 6% Sepekan, Tersengat Inflasi AS-Sinyal Hawkish The Fed
Harga perak mengalami penurunan signifikan sepanjang pekan ini, mencatatkan penurunan sebesar 6% akibat tekanan dari data inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari ekspektasi dan sinyal hawkish dari The Federal Reserve. Logam mulia ini yang biasanya dianggap sebagai perlindungan terhadap inflasi ternyata tidak mampu bertahan dari tekanan pasar yang semakin ketat.
Pada penutupan pasar Kamis (15/6), harga perak kontrak Juli berada di level US$22,38 per troy ounce, turun dari level US$23,79 di awal pekan. Penurunan ini menjadi yang terburuk sejak pertengahan Mei lalu, menunjukkan ketidakpastian yang melanda pasar logam mulia akhir-akhir ini.
Data Inflasi AS Memanas Kembali
Penurunan harga perak ini tidak terlepas dari data inflasi Amerika Serikat yang dirilis pada Rabu (14/6). Menurut Bureau of Labor Statistics (BLS), Indeks Harga Konsumen (CPI) AS bulan Mei naik 0,1% secara bulanan dan 4,0% secara tahunan. Data ini lebih tinggi dari ekspektasi pasar yang menunggu kenaikan 0,1% bulanan dan 3,9% tahunan.
"Kenaikan inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi membuat pasar khawatir akan kelonggaran kebijakan moneter yang semakin jauh," ujar analis dari sebuah perantaian investasi asing. "Ini membuat daya tarik perak sebagai aset safe semakin menurun."
Sinyal Hawkish The Fed
Selain data inflasi, pernyataan para pejabat The Federal Reserve juga berkontribusi pada tekanan harga perak. Ketika The Fed menunjukkan sikap hawkish atau lebih agresif menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi, logam mulia seperti perak cenderung kehilangan daya tariknya karena biaya opportunity memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil meningkat.
Gubernur The Fed Christopher Waller menyatakan bahwa bank sentral AS siap menaikkan suku bunga lagi jika data inflasi terus menunjukkan pelemahan. "Kami masih melihat inflasi terlalu tinggi dan akan bertindak sesuai diperlukan untuk mencapai target 2%," ujar Waller.
Sementara itu, Ketua The Fed Jerome Powell dalam pidato terakhirnya menekan bahwa bank sentral siap mengambil langkah-langkah lebih lanjut jika diperlukan. Pernyataan ini diinterpretasikan pasar sebagai sinyal bahwa suku bunga AS mungkin akan tetap tinggi untuk periode yang lebih lama dari yang sebelumnya diperkirakan.
Dampak pada Logam Mulia Lainnya
Penurunan harga perak ini juga berdampak pada logam mulia lainnya. Emas turun sekitar 2% sepanjang pekan, meskipun penurunannya tidak sebesar perak. Platinum dan paladium juga mengalami penurunan, meskipun dalam skala yang lebih kecil.
"Logam mulia secara keseluruhan sedang menghadapi tekanan karena suku bunga AS yang lebih tinggi dan dollar AS yang menguat," tambah analis tersebut. "Investor lebih memilih memegang aset berbasis dollar yang memberikan imbal hasil yang lebih menarik saat ini."
Outlook Perak di Masa Depan
Mengenai outlook perak di masa depan, para analis memiliki pandangan yang beragam. Beberapa melihat penurunan ini sebagai peluang pembelian yang menarik, mengingat fundamental permintaan perak untuk aplikasi industri dan investasi tetap kuat.
"Meskipun mengalami tekanan jangka pendek, fundamental perak tetap kuat," ujar seorang analis dari perusahaan logam mulia. "Permintaan untuk aplikasi industri seperti panel surya, elektronik, dan kesehatan terus meningkat, sementara permintaan sebagai aset safe juga akan kembali muncul jika ketidakpastian ekonomi global meningkat."
Di sisi lain, beberapa analis memperingatkan bahwa harga perak mungkin akan terus berada di bawah tekanan selama The Fed tetap menunjukkan sikap hawkish. "Kita perlu melihat apakah inflasi AS benar-benar menurun secara signifikan atau hanya fluktuasi bulanan," ujar seorang ekonom senior.
Para investor disarankan untuk memantau data inflasi AS dan pernyataan pejabat The Fed dalam waktu dekat untuk mengantisipasi pergerakan harga perak lebih lanjut. Pasar logam mulia diperkirakan akan tetap volatil sebelum adanya kejelasan mengenhi arah kebijakan moneter AS.
Komentar (0)