Perhumas: Teknologi Membutuhkan Kritis dan Empati untuk Komunikasi yang Efektif
Asosiasi Humas Indonesia (Perhumas) menegaskan bahwa penggunaan teknologi dalam komunikasi harus selalu diimbangi dengan pemikiran kritis dan empati. Dalam era digital yang serba cepat ini, para profesional humas dihadapkan pada tantangan baru di mana teknologi menjadi alat utama namun bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan komunikasi.
Ketua Umum Perhumas, Budi Santoso, menjelaskan bahwa teknologi telah merevolusi cara organisasi berkomunikasi dengan publik. Platform media sosial, aplikasi pesan instan, dan alat analitik data memungkinkan komunikasi yang lebih cepat dan terukur. Namun, tanpa pendekatan yang berimbang, teknologi bisa menjadi bumerang yang merusak citra organisasi.
Teknologi sebagai Alat, Bukan Tujuan
"Kita harus ingat bahwa teknologi hanyalah alat. Tujuan utama komunikasi adalah membangun pemahaman dan hubungan yang positif dengan publik," ujar Budi dalam sebuah forum diskusi yang diselenggarakan secara virtual baru-baru ini. Ia menekankan bahwa banyak organisasi terjebak dalam obsesi terhadap metrik teknis seperti jumlah pengikut, like, atau share, lupa melihat dampak sebenarnya dari pesan yang disampaikan.
Perhumas mengamati bahwa beberapa kasus gagalnya komunikasi organisasi dalam beberapa tahun terakhir disebabkan oleh penggunaan teknologi yang tidak mempertimbangkan konteks dan sifat manusiawi. Pesan yang secara teknis berhasil menjangkau jutaan orang ternyata tidak efektif karena tidak menyentuh hati pikiran publik.
Kritis dalam Memilih dan Menggunakan Teknologi
Salah satu aspek penting yang ditekankan Perhumas adalah perlunya pemikiran kritis dalam memilih dan menggunakan teknologi komunikasi. Budi menjelaskan bahwa setiap platform teknologi memiliki karakteristik dan audiens yang berbeda. Organisasi harus menganalisis secara kritis mana platform yang paling sesuai dengan tujuan komunikasi dan audiens yang dituju.
"Tidak semua teknologi cocok untuk semua organisasi. Kita harus menganalisis kebutuhan, sumber daya, dan tujuan sebelum memutuskan menggunakan suatu platform," tambahnya. Perhumas sering menemukan organisasi yang terburu-buru mengikuti tren teknologi baru tanpa mempertimbangkan kesiapan dan relevansinya dengan strategi komunikasi jangka panjang.
Empati sebagai Fondasi Komunikasi
Selain pemikiran kritis, empati menjadi elemen tak terpisahkan dalam komunikasi yang efektif. Perhumas menekankan bahwa para profesional humas harus mampu memasukkan diri dalam posisi audiens untuk memahami kebutuhan, keinginan, dan persepsi mereka.
"Dalam era informasi yang berlebihan, empati menjadi kunci untuk menarik perhatian dan membangun kepercayaan. Publik tidak lagi hanya menerima informasi secara pasif, mereka ingin merasa didengar dan dipahami," ujar seorang pakar komunikasi dari Perhumas, Siti Rahayu.
Ia mencontohkan bagaimana beberapa kampanye sosial berhasil karena pendekatnya yang empatik. Alih-alih memberikan instruksi atau perintah, kampanye tersebut membangun dialog dan mempertimbangkan perspektif audiens. Pendekatan ini jauh lebih efektif dalam mengubah perilaku atau meningkatkan kesadaran.
Integrasi Kritis-Empati-Teknologi
Perhumas menyoroti bahwa kombinasi ketiga elemen ini—pemikiran kritis, empati, dan teknologi—menciptakan komunikasi yang holistik dan efektif. Teknologi mempercepat penyebaran informasi, pemikiran kritis memastikan informasi relevan dan tepat sasaran, sementara empati memastikan informasi diterima dengan baik dan menciptakan hubungan yang positif.
Untuk membantu para profesional humas mengembangkan kompetensi ini, Perhumas merencanakan berbagai program pelatihan dan workshop yang fokus pada integrasi ketiga elemen tersebut. Program ini tidak hanya akan membahas penggunaan teknologi terkini, tetapi juga akan melatih kemampuan analisis kritis dan pengembangan empati dalam komunikasi.
Dengan semakin kompletnya tantangan komunikasi di era digital, Perhumas percaya bahwa pendekatan seimbang antara teknologi, pemikiran kritis, dan empati akan menjadi kunci bagi organisasi untuk tetap relevan dan membangun citra positif di mata publik.
Komentar (0)