Perkuat Penanganan Karhutla di Sumsel, Polri Kirim 200 Personel Brimob Tambahan
Polri mengirimkan 200 personel Brimob (Brigade Mobil) tambahan untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Penambahan personel ini dilakukan sebagai respons terhadap kondisi yang semakin memprihatinkan akibat kebakaran hutan dan lahan yang melanda beberapa wilayah di provinsi tersebut dalam beberapa pekan terakhir.
Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sumsel, Inspektur Jenderal Polisi (Irjen) Ahmad Haydar, mengatakan bahwa penambahan 200 personel Brimob ini merupakan bagian dari upaya pihaknya untuk mengendalikan dan memadamkan api yang masih menyisakan titik api di berbagai lokasi. "Kita sudah mengirim 200 personel Brimob untuk membantu penanganan karhutla di Sumsel. Mereka akan ditempatkan di titik-titik api yang masih aktif," ujar Kapolda Haydar saat dikonfirmasi, Rabu (25/10/2023).
Kondisi Karhutla di Sumsel
Menurut data yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga aktober 2023, terdapat sebanyak 87 titik api yang tersebar di 11 kabupaten/kota di Sumsel. Luas area yang terbakari diperkirakan mencapai 1.200 hektare, dengan sebagian besar terjadi di lahan gambut dan hutan sekunder. Kabupaten yang paling terdampak adalah Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, dan Muara Enim.
Kebakaran hutan dan lahan di Sumsel mengakibatkan dampak signifikan terhadap kesehatan masyarakat. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di beberapa wilayah bahkan mencapai level berbahaya (merah) akibat kabut asap tebal. Pemerintah Provinsi Sumsel telah mengumumkan keadaan darurat bencana karhutla sejak 15 Oktober 2023 lalu.
Upaya Penanganan yang Dilakukan
Sebelum penambahan 200 personel Brimob, Polri sudah mengerahkan sekitar 500 personel gabungan dari Polri, TNI, dan unsur Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan untuk memadamkan api. Selain itu, pihak juga menggunakan alat berat untuk membuat parit tali air di sekitar area terbakar guna mencegah penyebaran api lebih luas.
"Kita menggunakan berbagai metode untuk memadamkan api, mulai dari penyiraman langsung, pembuatan jalur tali air, hingga teknik back burning. Namun, kondisi cuaca yang kering dan angin kencini membuat sulit untuk mengendalikan api sepenuhnya," jelas Kepala Satuan Tugas Penanggulangan Karhutla Sumsel, Komisaris Besar (Kompol) Hendra.
Dampak terhadap Masyarakat
Kondisi kabut asap tebal akibat karhutla telah mengganggu aktivitas masyarakat di Sumsel. Beberapa sekolah di wilayah yang terdampak harus diliburkan sementara waktu. Selain itu, tercatat sebanyak 1.200 orang mengalami gangguan pernapasan akibat asap, dengan sebagian diantaranya dirawat di puskesmas dan rumah sakit sekitar.
Pemerintah Provinsi Sumsel telah membuka pusko pengungsian di beberapa titik untuk warga yang terdampak asap tebal. Selain itu, pihak juga mendistribusikan masker gratis dan alat pelindung diri lainnya kepada masyarakat. "Kami sudah menyiapkan posko di 11 kabupaten/kota yang terdampak. Selain itu, kami juga mendistribusikan 10.000 masker dan 5.000 unit alat pelindung diri lainnya," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Edi Suharto.
Koordinasi Antar Instansi
Untuk mempercepat penanganan karhutla, pemerintah provinsi mengkoordinasikan berbagai instansi terkait, termasuk Polri, TNI, BPBD, Dinas Kehutanan, dan Dinas Lingkungan Hidup. Selain itu, pihak juga berkoordinasi dengan pemerintah provinsi di sekitar Sumsel seperti Jambi dan Bengkulu untuk mencegah penyebaran asak ke wilayah tetangga.
"Kami juga bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk mendapatkan dukungan dalam hal sumber daya alat berat dan personel tambahan. Selain itu, kami juga sedang mempersiapkan program penyirawan awan (cloud seeding) jika kondisi cuaca memungkinkan," tambah Edi Suharto.
Tantangan yang Dihadapi
Menurut para ahli, salah satu tantangan utama dalam penanganan karhutla di Sumsel adalah kondisi lahan gambut yang kering dan rawan terbakar. "Lahan gambut memiliki potensi kebakaran yang tinggi jika kondisinya kering. Oleh karena itu, diperlukan upaya pencegahan jangka panjang seperti pemulihan lahan gambut dan pengendalian penggunaan lahan," kata Dr. Ahmad Rizal, sepakat ekolog dari Universitas Sriwijaya.
Selain itu, perubahan iklim yang menyebabkan musim kemarau yang lebih panjang juga dianggap sebagai faktor utama meningkatnya risiko karhutla. "Kita perlu memperhatikan dampak perubahan iklim terhadap kestabilan ekosistem di Sumsel. Upaya penanggulangan karhutla tidak hanya sebatas pemadaman api, tetapi juga perlu perencanaan jangka panjang," tambah Dr. Rizal.
Peran Masyarakat
Dalam upaya penanganan karhutla, pihak berwenang juga mengajak partisipasi masyarakat. "Kita meminta masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar dan melaporkan jika ada titik api di sekitar wilatan tempat tinggal mereka. Selain itu, masyarakat juga bisa membantu dengan menyiapkan air di sekitar rumah sebagai antisipasi jika terjadi kebakaran," ujar Kapolda Haydar.
Untuk mencegah karhutla berulang, pemerintah provinsi berencana melakukan berbagai program penanggulangan jangka panjang, seperti pemulihan lahan gambut, pembangunan saluran irigasi, dan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya pelestarian lingkungan.
Komentar (0)