07, 2026
Nasional

Petani dan Nelayan Bakal Ikut Menikmati Pembiayaan Karbon

Lestari Saputra
Lestari Saputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Petani dan Nelayan Bakal Ikut Menikmati Pembiayaan Karbon

Petani dan nelayan di Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu kelompok penerima manfaat dari skema pembiayaan karbon yang tengah disiapkan pemerintah. Kebijakan ini membuka peluang baru bagi sektor pertanian dan perikanan untuk memperoleh insentif ekonomi melalui perdagangan kredit karbon, seiring meningkatnya perhatian global terhadap upaya pengurangan emisi gas rumah kaca.

Skema pembiayaan karbon atau carbon financing merupakan mekanisme yang memberikan nilai ekonomi terhadap upaya penyerapan dan pengurangan emisi karbon. Melalui skema ini, aktivitas yang berkontribusi terhadap penurunan emisi dapat dikonversi menjadi unit kredit karbon yang memiliki nilai jual di pasar karbon, baik domestik maupun internasional.

Pengamat kebijakan lingkungan menilai langkah tersebut sebagai terobosan penting karena selama ini pembiayaan berbasis karbon lebih banyak dinikmati oleh sektor energi dan kehutanan. Sektor pertanian dan perikanan dinilai memiliki potensi besar yang belum tergarap optimal, terutama dalam hal praktik budidaya ramah lingkungan yang berkontribusi pada penyerapan karbon.

Potensi Kredit Karbon dari Sektor Pertanian

Dalam sektor pertanian, sejumlah praktik dinilai berpeluang menghasilkan kredit karbon. Pengelolaan lahan dengan sistem agroforestri, penggunaan pupuk organik, pengurangan pembakaran lahan, hingga penerapan pertanian regeneratif menjadi beberapa contoh aktivitas yang dapat dihitung sebagai upaya penyerapan karbon. Lahan pertanian yang dikelola dengan pendekatan konservasi mampu menyimpan karbon dalam tanah dalam jumlah signifikan.

Sementara itu, pada lahan sawah, teknik pengelolaan air yang lebih efisien berpotensi menekan emisi metana yang selama ini menjadi salah satu sumber emisi utama dari aktivitas persawahan. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi emisi, tetapi juga meningkatkan efisiensi produksi dan mengurangi biaya operasional petani.

Beberapa program percontohan telah menunjukkan bahwa petani yang menerapkan praktik ramah lingkungan dapat memperoleh pendapatan tambahan dari penjualan kredit karbon. Nilai tambahan tersebut menjadi insentif tersendiri bagi petani untuk bertransformasi menuju pola pertanian yang lebih berkelanjutan.

Peluang dari Sektor Kelautan dan Perikanan

Dari sisi perikanan, ekosistem pesisir seperti mangrove, padang lamun, dan terumbu karang memiliki kemampuan menyerap karbon dalam jumlah besar, yang dikenal sebagai blue carbon. Mangrove menjadi salah satu ekosistem dengan kapasitas penyerapan karbon tertinggi dibandingkan ekosistem daratan. Nelayan yang terlibat dalam upaya rehabilitasi dan konservasi mangrove berpeluang memperoleh manfaat ekonomi dari skema kredit karbon biru.

Selain mangrove, praktik budidaya perikanan yang ramah lingkungan, seperti akuakultur terintegrasi dengan vegetasi pesisir, turut membuka peluang perolehan kredit karbon. Nelayan yang menjaga kelestarian ekosistem pesisir sekaligus menjalankan aktivitas penangkapan ikan secara berkelanjutan dapat menikmati dua sumber penghasilan: hasil tangkapan dan pendapatan dari kredit karbon.

Namun, pemanfaatan potensi tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya keterbatasan data dan metodologi pengukuran karbon yang terverifikasi, kapasitas kelembagaan kelompok tani dan nelayan, serta akses terhadap informasi pasar karbon. Tanpa dukungan pendampingan teknis, dikhawatirkan manfaat skema ini tidak merata dan hanya dinikmati kelompok yang memiliki akses modal lebih baik.

Tantangan dan Kebutuhan Pendampingan

Pemerintah disebut tengah menyiapkan kerangka regulasi dan infrastruktur pendukung, termasuk sistem registri karbon nasional, agar perdagangan kredit karbon dapat berjalan transparan dan akuntabel. Bursa karbon yang telah diluncurkan menjadi salah satu instrumen penting dalam ekosistem ini, meski volume transaksinya masih perlu terus didorong.

Asosiasi petani dan nelayan berharap kebijakan ini disertai dengan skema pendampingan yang menyeluruh, mulai dari pelatihan pengukuran karbon, penguatan kelembagaan kelompok, hingga fasilitasi akses pasar. Mereka juga meminta kepastian terkait mekanisme pembagian manfaat agar pendapatan dari kredit karbon benar-benar sampai ke tingkat petani dan nelayan, bukan hanya dinikmati pihak perantara.

Dari sisi pembiayaan, sejumlah lembaga keuangan mulai melirik potensi kredit karbon sebagai instrumen yang dapat meningkatkan kelayakan usaha petani dan nelayan. Kredit karbon dapat dijadikan agunan atau sumber pendapatan yang memperkuat akses pembiayaan formal, yang selama ini menjadi kendala bagi banyak pelaku usaha kecil di sektor pertanian dan perikanan.

Kalangan akademisi menekankan pentingnya perhitungan yang transparan dan berbasis sains. Setiap klaim penyerapan karbon harus dapat diverifikasi oleh pihak independen agar tidak menimbulkan persoalan kredibilitas di pasar internasional. Risiko greenwashing atau klaim berlebihan atas manfaat lingkungan menjadi perhatian utama yang harus diantisipasi sejak awal.

Prospek dan Arah Kebijakan ke Depan

Jika dirancang dan diimplementasikan dengan baik, pembiayaan karbon berpotensi menjadi sumber pendapatan baru yang signifikan bagi petani dan nelayan sekaligus mendorong praktik produksi yang lebih berkelanjutan. Skema ini juga sejalan dengan komitmen Indonesia menurunkan emisi gas rumah kaca sesuai target iklim nasional.

Ke depan, keberhasilan kebijakan ini akan sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga riset, lembaga keuangan, dan organisasi masyarakat sipil. Partisipasi aktif petani dan nelayan dalam setiap tahap perencanaan menjadi kunci agar skema ini tidak sekadar menjadi kebijakan di atas kertas, melainkan benar-benar memberi manfaat nyata bagi kesejahteraan mereka yang menggarap lahan dan mengarungi laut.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Lestari Saputra

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter