18, 2026
Ekonomi

Peternak Ayam Terancam Bangkrut 2 Bulan Lagi, Kenapa?

Peternak ayam broiler mandiri terancam bangkrut akibat harga jual ayam yang merosot dan biaya pakan yang meningkat.]]>

Teguh Syahputra
Teguh Syahputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Peternak Ayam Terancam Bangkrut 2 Bulan Lagi, Kenapa?

Peternak Ayam Terancam Bangkrut 2 Bulan Lagi, Kenapa?

Peternak ayam di Indonesia menghadapi krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam dua bulan mendatang, ribuan peternak ayam potong dan petelur berisiko bangkrut akibat serangkaian tantangan ekonomi dan operasional yang menghantui industri unggulan nasional ini. Krisis yang melanda sejak awal kuartal pertama tahun ini tampaknya semakin memburuk dengan munculnya berbagai masalah yang saling terkait.

Lonjakan Harga Pakan Ternak

Salah satu penyebab utama krisis ini adalah lonjakan harga pakan ternak yang mencapai level tertinggi dalam satu dekade terakhir. Harga bahan baku pakan seperti jagung, kedelai, dan bahan tambahan lainnya meningkat drastis sejak akhir tahun lalu. Lonjakan ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah ketidakstabilan harga komoditas global pasca-pandemi COVID-19 dan konflik geopolitik yang memengaruhi rantai pasokan bahan pakan impor.

Menurut data Asosiasi Peternak Ayam Indonesia (AAPI), harga pakan ayam saat ini telah mencapai Rp5.000 per kilogram, naik sekitar 40% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. "Kenaikan ini tidak proporsional dengan harga jual ayam yang hanya naik 10-15% saja," ujar Budi Santoso, Ketua AAPI dalam sebuah wawancara terkait.

Biaya Produksi Meningkat, Harga Jual Stagnan

Dampak langsung dari lonjakan harga pakan ternak adalah meningkatnya biaya produksi bagi peternak. Selain pakan, biaya operasional lainnya seperti listrik, transportasi, dan tenaga kerja juga mengalami kenaikan yang signifikan. Namun, harga jual ayam di tingkat konsumen ternyata tidak mengalami peningkatan yang sebanding.

Rudi Hartono, sepeternak ayam skala menengah di Jawa Barat, mengungkapkan kondisi sulit yang dialaminya. "Saya harus memproduksi 1.000 ekor ayam setiap bulan dengan biaya yang semakin mahal, tetapi harga jualnya tetap. Laba per ekor ayam sekarang sudah minus, artinya saya rugi setiap memproduksi satu ekor ayam," keluhnya.

Minimnya Akses Modal dan Kredit

Salah satu tantangan lain yang dihadapi peternak adalah sulitnya akses modal dan kredit untuk menopang operasional usaha. Beberapa bank dan lembaga keuangan cenderung berhati-hati dalam memberikan pinjaman kepada sektor peternakan mengingat risiko yang relatif tinggi. Selain itu, bunga kredit yang tinggi juga menjadi beban tersendiri bagi para peternak.

"Kami sudah berusaha mencari pinjaman untuk menutupi biaya operasional, tetapi prosesnya sangat sulit. Beberapa bank meminta jaminan yang berlebihan, sementara lembaga mikro keuungan memberikan bunga yang terlalu tinggi," tambah Rudi yang sudah 15 tahun menggeluti usaha peternakan ayam.

Penurunan Permintaan Pasar

Ironisnya, meskipun biaya produksi meningkat, permintaan pasar terhadap produk ayam justru mengalami penurunan. Fenomena ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah peningkatan harga ayam yang membuat konsumen beralih ke protein alternatif yang lebih murah. Selain itu, gaya hidup sehat yang mendorong konsumen mengurangi konsumsi daging juga turut memengaruhi permintaan.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa konsumsi daging ayam per kapita di Indonesia mengalami penurunan sebesar 8% pada kuartal pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan permintaan ini semakin memperparah kondisi para peternak yang sudah terjebak dalam krisis biaya produksi.

Upaya Solusi dan Tantangan Mendatang

Untuk mengatasi krisis ini, pemerintah telah mengumumkan beberapa langkah antisipasi, di antaranya adalah subsidi pakan ternak dan program bantuan modal untuk peternak skala mikro dan kecil. Selain itu, pemerintah juga berencana untuk mengimpor pakan ternak guna menstabilkan harga domestik.

Asosiasi Peternak Ayam Indonesia (AAPI) juga telah mengusulkan berbagai kebijakan kepada pemerintah, termasuk pemberian insentif fiskal bagi peternak dan penyesuaian tarif impor bahan baku pakan. Namun, implementasi kebijakan-kebijakan ini masih dianggap terlambat bagi sebagian besar peternak yang sudah mengalami kerugian signifikan.

Dengan kondisi saat ini, prediksi bahwa ribuan peternak ayam akan bangkrut dalam dua bulan ke depan bukanlah khayalan yang berlebihan. Tanpa intervensi yang cepat dan tepat, industri peternakan ayam yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat pedesaan di Indonesia berisiko runtuh.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Teguh Syahputra

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter