Pelatih PSS Sleman, Pieter Huistra, menyoroti keputusan wasit yang melibatkan Video Assistant Referee (VAR) dalam pertandingan melawan Persik Kediri. Dalam laga yang berakhir dengan kekalahan timnya, Huistra menilai sejumlah keputusan ofisial pertandingan berpengaruh besar terhadap jalannya pertandingan dan meminta para pengadil lapangan melakukan evaluasi diri.
Kekecewaan pelatih asal Belanda itu disampaikan dalam sesi konferensi pers usai pertandingan. Ia menegaskan tidak ingin menyalahkan satu pihak secara personal, namun merasa perlu menyuarakan apa yang ia nilai sebagai ketidaksesuaian antara penerapan teknologi dan aturan permainan yang seharusnya dijalankan.
Huistra Persoalkan Proses Pengambilan Keputusan
Menurut Huistra, persoalan utama bukan semata pada hasil akhir, melainkan pada proses bagaimana keputusan diambil. Ia menilai sejumlah momen krusial seharusnya ditinjau lebih cermat melalui teknologi, terutama yang berkaitan dengan pelanggaran di kotak penalti dan potensi situasi yang menentukan arah pertandingan.
"Saya tidak akan berbicara soal hasil, karena hasil sudah menjadi keputusan. Yang saya soroti adalah cara keputusan itu diambil," ujar Huistra, seperti dikutip dari keterangannya kepada media.
Ia menyebut timnya telah berusaha tampil disiplin dan mengikuti rencana permainan yang disiapkan. Namun, menurutnya, momentum yang seharusnya bisa dimanfaatkan PSS Sleman justru berubah setelah keputusan ofisial pertandingan. Huistra menilai hal tersebut memengaruhi psikologis para pemain, terutama di fase-fase akhir laga ketika timnya berupaya mengejar ketertinggalan.
Minta Ofisial Lakukan Introspeksi
Lebih lanjut, Huistra berharap agar para ofisial pertandingan, termasuk wasit utama dan tim VAR, melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja mereka. Menurutnya, keterbukaan dan konsistensi dalam penerapan teknologi menjadi kunci agar kompetisi tetap menjaga kredibilitasnya.
"Saya minta mereka mengevaluasi diri. Bukan hanya untuk pertandingan ini, tetapi untuk semua pertandingan, karena setiap tim berhak mendapatkan keputusan yang konsisten," kata Huistra.
Ia juga menyinggung pentingnya komunikasi antara wasit dan tim pelatih. Menurut Huistra, penjelasan yang jelas atas setiap keputusan, khususnya yang melibatkan tinjauan VAR, akan membantu mengurangi kesalahpahaman di lapangan dan meredam tensi pertandingan.
Meski begitu, Huistra menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mengajukan protes resmi. Ia memilih menyerahkan persoalan tersebut kepada mekanisme evaluasi yang berlaku di kompetisi, sambil tetap fokus mempersiapkan tim untuk laga-laga berikutnya.
Dampak bagi Posisi PSS Sleman
Kekalahan dari Persik Kediri menjadi pukulan tersendiri bagi PSS Sleman dalam upaya memperbaiki posisi di klasemen. Tambahan nol poin membuat tim berjuluk Super Elang Jawa itu semakin dituntut untuk tampil konsisten pada pertandingan selanjutnya.
Huistra mengakui bahwa tekanan kompetisi memang tinggi, terlebih bagi tim yang berada di papan bawah. Namun, ia menilai anak asuhnya masih memiliki peluang untuk keluar dari situasi sulit apabila mampu menjaga fokus dan memperbaiki efektivitas di lini serang maupun pertahanan.
"Kami harus tetap bekerja. Tidak ada waktu untuk terus menyesali keputusan. Kami akan menganalisis pertandingan ini, memperbaiki apa yang bisa diperbaiki, dan bersiap untuk pertandingan berikutnya," tuturnya.
Ia juga menyoroti pentingnya ketenangan pemain dalam menghadapi situasi pertandingan yang penuh tekanan. Menurut Huistra, reaksi berlebihan terhadap keputusan wasit justru berpotensi merugikan tim sendiri, terutama karena risiko hukuman kartu.
Konteks Penerapan VAR di Liga 1
Penerapan VAR dalam kompetisi sepak bola Indonesia telah menjadi perhatian publik sejak diperkenalkan pada musim 2024/2025. Teknologi ini diharapkan meningkatkan akurasi keputusan, terutama pada situasi krusial seperti gol, penalti, kartu merah, dan kesalahan identitas pemain.
Namun, implementasinya tak lepas dari kritik. Sejumlah pelatih dan pengamat menilai konsistensi penerapan, kualitas sumber daya manusia, serta kecepatan pengambilan keputusan masih perlu dibenahi. Sorotan serupa juga muncul dari berbagai klub yang merasa dirugikan oleh keputusan yang dianggap kontroversial.
Di sisi lain, operator kompetisi dan federasi menegaskan bahwa proses evaluasi terhadap kinerja wasit dilakukan secara rutin. Setiap keputusan yang dianggap bermasalah dianalisis untuk kemudian dijadikan bahan pembinaan bagi para pengadil lapangan.
Fokus ke Pertandingan Berikutnya
Bagi Huistra, persoalan VAR kini menjadi catatan tersendiri, tetapi perhatian utamanya tetap tertuju pada perbaikan performa tim. Ia menegaskan bahwa PSS Sleman harus lebih efisien dalam memanfaatkan peluang dan lebih disiplin dalam menjaga organisasi pertahanan.
Ia juga berharap para pemain tetap menjaga motivasi meski hasil kurang menguntungkan. Menurutnya, semangat dan kerja keras di sesi latihan menjadi kunci untuk mengubah situasi dalam beberapa pekan ke depan.
"Kami harus jujur pada diri sendiri soal penampilan kami. Evaluasi bukan hanya untuk wasit, tetapi juga untuk kami sebagai tim," kata Huistra.
Sementara itu, Persik Kediri berhak merayakan tambahan poin yang mereka raih. Hasil tersebut menjadi modal penting bagi mereka untuk menjaga momentum di kompetisi. Kemenangan atas PSS Sleman juga disebut menjadi bukti bahwa tim mampu tampil disiplin, terutama ketika menghadapi tekanan di fase akhir pertandingan.
Dengan kompetisi yang masih panjang, sorotan terhadap konsistensi keputusan wasit diprediksi akan terus muncul. Bagi PSS Sleman, laga-laga berikutnya menjadi ajang pembuktian bahwa tim mampu bangkit, terlepas dari berbagai kontroversi yang mengiringi hasil pertandingan.
Komentar (0)