Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad tengah menjadi sorotan publik setelah momen pemakaman istrinya, Siti Hasmah Mohamad Ali, yang meninggal dunia pada usia 99 tahun. Prosesi pemakaman yang berlangsung di Kuala Lumpur pada Sabtu (19/7/2025) itu memperlihatkan potret duka mendalam seorang pemimpin yang telah mendampingi sang istri selama lebih dari tujuh dekade. Mahathir terlihat tertunduk lesu saat mengantar jenazah Siti Hasmah ke peristirahatan terakhir. Kabar duka ini menutup babak panjang pasangan yang menjadi ikon politik dan sosial Malaysia sejak era 1950-an.
Prosesi Pemakaman Penuh Haru
Jenazah Siti Hasmah dimakamkan di Pemakaman Muslim Bukit Damansara, Kuala Lumpur, tidak jauh dari kediaman keluarga. Prosesi dimulai setelah salat jenazah di Masjid Negara yang dihadiri sejumlah tokoh nasional, termasuk pejabat pemerintah, mantan menteri, dan kerabat dekat. Sejumlah warga juga tampak memadati area pemakaman untuk memberikan penghormatan terakhir. Pengawalan ketat dilakukan aparat keamanan mengingat status Mahathir sebagai negarawan senior yang masih memiliki pengaruh besar di Malaysia.
Dalam rekaman yang beredar, Mahathir yang mengenakan kemeja gelap dan peci hitam tampak berjalan perlahan menuju liang lahat. Ia beberapa kali menundukkan kepala, menatap tanah tempat istrinya dikebumikan. Momen paling mengharukan terjadi ketika Mahathir berdiri di sisi makam, menunduk dalam doa, sebelum menaburkan tanah. Ekspresi wajahnya yang tegang dan mata yang berkaca-kaca menjadi simbol kehilangan seorang suami yang kehilangan pendamping hidupnya.
Kisah Cinta yang Bertahan Lebih dari Tujuh Dekade
Mahathir dan Siti Hasmah menikah pada 1956, jauh sebelum Malaysia merdeka sepenuhnya dan sebelum Mahathir memulai karier politiknya yang panjang. Keduanya bertemu saat menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Malaya, Singapura. Siti Hasmah dikenal sebagai sosok dokter yang cerdas dan mandiri, sementara Mahathir adalah mahasiswa berprestasi yang kemudian menjadi dokter pertama di keluarganya. Pernikahan mereka dikaruniai tujuh anak, dan Siti Hasmah setia mendampingi Mahathir selama 22 tahun menjabat Perdana Menteri Malaysia dalam dua periode berbeda, yakni 1981—2003 dan 2018—2020.
Sepanjang karier politik Mahathir, Siti Hasmah hampir selalu tampil di sisi suaminya. Ia dikenal sebagai figur yang tenang, rendah hati, dan sering menyampaikan pesan-pesan sosial, terutama tentang kesehatan dan pendidikan perempuan. Publik Malaysia mengenal Siti Hasmah sebagai "Ibu Negara" yang tidak banyak berbicara politik, namun memiliki pengaruh moral yang kuat. Ketika Mahathir kembali menjadi perdana menteri pada 2018 setelah hiatus 15 tahun, Siti Hasmah kembali mendampingi di berbagai acara kenegaraan meski usianya telah menginjak 90-an tahun.
Reaksi Publik dan Tokoh Nasional
Kabar meninggalnya Siti Hasmah memicu gelombang ucapan belasungkawa dari berbagai kalangan. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyampaikan duka cita mendalam melalui pernyataan resmi, menyebut Siti Hasmah sebagai sosok yang berjasa bagi bangsa. Sejumlah menteri kabinet, gubernur bank sentral, hingga tokoh oposisi juga menyampaikan penghormatan terakhir. Media sosial dipenuhi tagar duka dan potret pasangan Mahathir-Siti Hasmah dari berbagai periode, mulai dari foto pernikahan hitam-putih hingga momen kebersamaan terakhir mereka di depan publik.
Warga yang hadir di sekitar pemakaman mengaku datang untuk memberikan penghormatan, bukan hanya karena Siti Hasmah adalah istri seorang mantan perdana menteri, tetapi karena kontribusinya sebagai dokter dan figur publik. Beberapa di antara mereka membawa bunga dan mengikuti prosesi dari kejauhan. Aparat keamanan membatasi akses masuk area pemakaman untuk menjaga ketertiban, namun tidak menghalangi warga yang ingin melihat dari luar pagar.
Kesehatan Mahathir dan Masa Depan Politik
Kehilangan Siti Hasmah menjadi pukulan berat bagi Mahathir yang kini berusia 100 tahun. Dalam beberapa tahun terakhir, kesehatan Mahathir memang terus menjadi perhatian publik. Ia beberapa kali dirawat di rumah sakit karena masalah jantung dan infeksi paru-paru. Namun, hingga kini Mahathir masih aktif menyuarakan pandangan politiknya, meski tidak lagi memegang jabatan formal. Kepergian Siti Hasmah diprediksi akan memengaruhi kondisi psikologis dan kesehatan Mahathir ke depan.
Sejumlah pengamat politik menilai peran Siti Hasmah tidak bisa dipisahkan dari stabilitas keluarga Mahathir selama puluhan tahun berkecimpung di dunia politik. Siti Hasmah dikenal sebagai penyeimbang yang menjaga rumah tangga tetap harmonis di tengah tekanan politik. Kini, dengan kepergiannya, Mahathir menghadapi masa senja tanpa pendamping setia yang telah menemaninya sejak sebelum Malaysia merdeka.
Warisan Siti Hasmah
Selain sebagai istri negarawan, Siti Hasmah meninggalkan warisan di bidang kesehatan dan kemanusiaan. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Badan Kesejahteraan Keluarga Malaysia dan aktif dalam kampanye kesehatan ibu dan anak. Universitas dan organisasi sosial di Malaysia telah menyampaikan penghargaan atas dedikasinya. Bagi banyak warga Malaysia, Siti Hasmah bukan sekadar "istri Mahathir", melainkan figur yang menginspirasi perempuan untuk berperan di ruang publik tanpa kehilangan jati diri.
Pemakaman pada Sabtu itu menjadi penutup perjalanan panjang seorang perempuan yang hidup melintasi hampir satu abad sejarah Malaysia. Mahathir, yang biasanya tampil tegas dan vokal, tampak rapuh saat melepas kepergian istrinya. Momen tertunduk lesu di makam menjadi potret pilu yang akan dikenang publik sebagai akhir dari salah satu kisah cinta paling berpengaruh di Malaysia modern.
Komentar (0)