30, 2026
Nasional

Prabowo Bakal Bentuk Timsus Buat Pendidikan Gratis, Pembiayaan Ditargetkan Rampung dalam 1 Bulan

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2023/08/29/64edf2b626f04-ilustrasi-siswa-sekolah-dasar-siswa-sd-murid-sekolah-dasar-murid-sd_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Melati Handayani
Melati Handayani Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Presiden Prabowo Subianto berencana membentuk tim khusus untuk menyiapkan skema pendidikan gratis bagi seluruh jenjang sekolah. Tim tersebut nantinya bertugas merumuskan model pembiayaan yang dinilai paling realistis dan berkelanjutan. Target penyelesaian kajian pembiayaan itu ditetapkan rampung dalam waktu satu bulan sejak tim dibentuk.

Latar Belakang Kebijakan

Wacana pendidikan gratis bukan hal baru dalam agenda pemerintahan saat ini. Program wajib belajar yang selama ini berjalan masih menyisakan sejumlah persoalan, terutama terkait biaya yang harus ditanggung keluarga. Meski sekolah negeri digratiskan pada tingkat dasar dan menengah, berbagai pungutan nonformal masih memberatkan sebagian orang tua. Kondisi itu menjadi salah satu alasan dorongan agar negara mengambil alih pembiayaan secara lebih menyeluruh.

Kebijakan ini juga bersinggungan dengan janji politik yang menekankan pemerataan akses layanan dasar. Pemerintah menilai pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia. Karena itu, penyusunan skema pembiayaan dianggap memerlukan kajian lintas sektor, bukan sekadar penambahan anggaran pada pos tertentu.

Tugas dan Susunan Tim

Tim khusus yang akan dibentuk disebut melibatkan perwakilan dari kementerian keuangan, kementerian pendidikan, serta lembaga perencanaan pembangunan. Selain itu, pemerintah berencana menggandeng kalangan akademisi dan praktisi untuk memberi masukan teknis. Ruang lingkup kerja tim mencakup penghitungan kebutuhan anggaran per jenjang, proyeksi penerimaan negara, hingga pemetaan sumber dana alternatif.

Salah satu opsi yang dibahas adalah pengalihan sebagian belanja yang dinilai kurang produktif untuk menopang sektor pendidikan. Opsi lain mengarah pada pemanfaatan dana abadi pendidikan serta optimalisasi penerimaan pajak. Pemerintah menegaskan bahwa keputusan akhir akan mengacu pada kemampuan fiskal negara dan tidak boleh mengganggu stabilitas anggaran pendapatan dan belanja negara.

Skema Pembiayaan yang Dipertimbangkan

Beberapa pendekatan pembiayaan yang masuk dalam pembahasan antara lain:

  • Peningkatan alokasi anggaran fungsi pendidikan sesuai amanat konstitusi.
  • Penajaman subsidi agar tepat sasaran kepada keluarga berpenghasilan rendah.
  • Pemanfaatan dana abadi pendidikan dan hasil pengelolaannya.
  • Kerja sama dengan pemerintah daerah untuk membagi beban pembiayaan.
  • Insentif bagi sekolah swasta yang menerima peserta didik dari keluarga kurang mampu.

Pendekatan berlapis itu dinilai perlu karena struktur pendidikan Indonesia sangat beragam, baik dari sisi geografis maupun kapasitas fiskal daerah. Pemerintah daerah dengan penerimaan rendah membutuhkan dukungan pusat agar kebijakan seragam dapat diterapkan tanpa menimbulkan ketimpangan.

Tantangan dan Respons Publik

Sejumlah pengamat menilai target satu bulan cukup ambisius mengingat kompleksitas persoalan. Mereka mengingatkan bahwa pendidikan gratis membutuhkan kesiapan infrastruktur, tenaga pengajar, dan sistem pengawasan agar mutu tidak turun. Kekhawatiran lain menyangkut potensi penurunan kualitas jika gratis dipahami sekadar penghapusan biaya tanpa perbaikan tata kelola.

Di sisi lain, kalangan orang tua menyambut baik rencana ini. Mereka berharap kebijakan tersebut benar-benar menghilangkan beban biaya, termasuk untuk seragam, buku, dan transportasi. Organisasi guru juga meminta pemerintah memastikan kesejahteraan pendidik tetap terjaga dalam skema baru. Menurut mereka, pendidikan gratis tidak boleh dibiayai dengan menekan anggaran operasional sekolah atau tunjangan guru.

Dampak yang Diharapkan

Jika terealisasi, kebijakan pendidikan gratis berpotensi menaikkan angka partisipasi sekolah pada jenjang menengah dan perguruan tinggi. Pemerintah juga berharap kebijakan ini menekan angka putus sekolah dan mengurangi ketimpangan antarwilayah. Dalam jangka panjang, kualitas tenaga kerja diharapkan meningkat seiring bertambahnya akses pendidikan yang lebih merata.

Meski demikian, keberhasilan kebijakan sangat bergantung pada disiplin pelaksanaan dan transparansi anggaran. Masyarakat menanti rincian teknis, termasuk mekanisme pengawasan agar dana yang digelontorkan benar-benar sampai ke sekolah dan peserta didik. Pemerintah menyatakan akan membuka ruang konsultasi publik sebelum aturan resmi diterbitkan, dengan catatan tenggat satu bulan tetap menjadi acuan awal kerja tim.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Melati Handayani

Peliput olahraga nasional dan perkembangan liga domestik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter