08, 2026
Teknologi

Prabowo Ingin Rekrutmen TNI-Polisi Diubah: Boleh Pakai Kacamata Asal Pintar

Eko Wibowo
Eko Wibowo Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Presiden Prabowo Subianto menginginkan adanya perubahan dalam sistem rekrutmen anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Salah satu poin yang disorot adalah persyaratan kesehatan, khususnya terkait kondisi penglihatan calon anggota. Prabowo menilai bahwa seseorang yang memiliki gangguan penglihatan ringan dan memerlukan alat bantu seperti kacamata tetap layak dipertimbangkan, sepanjang yang bersangkutan memiliki kecerdasan dan kemampuan intelektual yang memadai.

Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo dalam sejumlah forum resmi yang membahas soal pembinaan sumber daya manusia di lingkungan institusi pertahanan dan keamanan. Menurutnya, selama ini proses seleksi masuk TNI dan Polri kerap terlalu kaku pada aspek fisik, sehingga berpotensi mengeliminasi kandidat-kandidat berkualitas yang sebenarnya memiliki keunggulan di bidang lain. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara syarat fisik dan kapasitas intelektual.

Latar Belakang Kebijakan Rekrutmen

Rekrutmen TNI dan Polri selama ini mengacu pada serangkaian persyaratan yang telah diatur dalam peraturan masing-masing institusi. Syarat tersebut mencakup usia, tinggi badan, berat badan, kesehatan jasmani, kesehatan mata, serta sejumlah tes akademik dan psikologi. Dalam praktiknya, kondisi penglihatan menjadi salah satu faktor yang paling sering menjadi penyebab gugurnya calon anggota, bahkan pada tahap awal seleksi.

Standar kesehatan mata bagi calon anggota TNI dan Polri umumnya mensyaratkan penglihatan normal tanpa bantuan alat, dengan batasan tertentu bergantung pada kecabangan atau unit yang dituju. Calon yang menggunakan kacamata dengan ukuran lensa di atas ambang tertentu biasanya dinyatakan tidak memenuhi syarat. Ketentuan ini diterapkan dengan alasan kesiapan operasional, mengingat anggota dituntut bekerja dalam berbagai kondisi lapangan yang ekstrem.

Namun, sejumlah pengamat menilai bahwa pendekatan tersebut perlu ditinjau ulang seiring perkembangan teknologi dan perubahan karakter ancaman. Modernisasi alutsista dan sistem informasi membuat kebutuhan akan personel dengan kompetensi teknologi, analisis data, siber, serta kecerdasan buatan semakin besar. Pada bidang-bidang itu, kemampuan intelektual menjadi faktor yang jauh lebih menentukan dibanding ketajaman penglihatan tanpa alat bantu.

Respons dan Pandangan Berbagai Pihak

Wacana perubahan rekrutmen ini mendapat tanggapan beragam. Sebagian pihak mendukung gagasan tersebut karena dinilai membuka peluang lebih luas bagi putra-putri terbaik bangsa yang memiliki keterbatasan penglihatan ringan namun berprestasi di bidang akademik. Mereka berpendapat bahwa sistem seleksi yang terlalu kaku dapat menyebabkan hilangnya talenta potensial yang justru dibutuhkan di era perang modern.

Di sisi lain, sejumlah kalangan mengingatkan bahwa pelonggaran syarat kesehatan, terutama terkait penglihatan, harus dikaji secara hati-hati. Mereka menekankan bahwa tugas TNI dan Polri memiliki risiko tinggi dan menuntut kesiapan fisik prima. Kacamata dianggap berpotensi menjadi kendala dalam situasi tertentu, misalnya saat terjadi kontak fisik, operasi di medan berat, atau kondisi cuaca ekstrem yang dapat mengganggu fungsi alat bantu penglihatan.

Mereka yang menolak pelonggaran juga menyoroti aspek keselamatan personel itu sendiri. Dalam operasi lapangan, gangguan pada kacamata dapat membahayakan anggota maupun rekan satu tim. Karena itu, penyesuaian aturan dinilai perlu disertai kajian teknis yang mendalam dan pemetaan kebutuhan di tiap satuan kerja, sehingga kebijakan tidak diterapkan secara seragam untuk semua posisi.

Wacana Penyesuaian Standar

Prabowo disebut mendorong adanya klasifikasi ulang terhadap persyaratan rekrutmen berdasarkan jenis tugas dan kecabangan. Artinya, standar penglihatan yang ketat tetap diberlakukan untuk posisi yang menuntut kemampuan tempur langsung, sementara posisi yang lebih bersifat teknis, administratif, analitis, atau berbasis teknologi dapat memiliki ambang batas yang berbeda.

Pendekatan semacam ini sejalan dengan praktik di sejumlah negara yang menerapkan standar kesehatan berbeda untuk tiap peran dalam angkatan bersenjata. Beberapa negara bahkan telah mengizinkan personel dengan koreksi penglihatan tertentu untuk bertugas pada bidang siber, intelijen teknologi, kesehatan militer, hingga rekayasa. Kebijakan itu diambil dengan mempertimbangkan kebutuhan kompetensi spesifik yang tidak selalu berkaitan dengan ketajaman mata.

Selain soal kacamata, isu rekrutmen juga menyentuh aspek lain seperti penekanan pada kecerdasan, integritas, dan loyalitas. Prabowo berulang kali menegaskan bahwa kualitas sumber daya manusia menjadi kunci dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Ia menilai institusi pertahanan dan keamanan perlu menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman tanpa mengorbankan disiplin dan profesionalisme.

Implikasi bagi Institusi

Jika wacana ini berlanjut menjadi kebijakan resmi, maka diperlukan revisi terhadap peraturan yang menjadi dasar pelaksanaan rekrutmen. Proses revisi tersebut melibatkan pembahasan lintas instansi, termasuk Kementerian Pertahanan, Markas Besar TNI, dan Markas Besar Polri. Penyesuaian juga harus mempertimbangkan aspek pembinaan, pelatihan dasar, serta ketersediaan fasilitas pendukung bagi personel yang menggunakan alat bantu penglihatan.

Terlepas dari pro dan kontra, gagasan ini membuka ruang diskusi publik mengenai bagaimana sebuah institusi strategis seharusnya mendefinisikan standar kualitas personelnya. Perdebatan tidak hanya berkisar pada syarat fisik semata, tetapi juga pada visi jangka panjang pembangunan kekuatan pertahanan dan keamanan nasional. Keputusan akhir akan bergantung pada kajian menyeluruh yang mempertimbangkan kesiapan operasional, kebutuhan organisasi, serta kepentingan bangsa secara keseluruhan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Eko Wibowo

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter