23, 2026
Ekonomi

Prabowo Sebut Indonesia Negara Ekonomi Terbesar ke-7 di Dunia

Kevin Handayani
Kevin Handayani Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Presiden Prabowo Subianto menyebut Indonesia sebagai negara dengan perekonomian terbesar ketujuh di dunia. Pernyataan itu ia sampaikan dalam pidato yang membahas capaian pembangunan ekonomi nasional, dan menempatkan Indonesia sejajar dengan kelompok negara berpendapatan besar yang selama ini mendominasi perekonomian global.

Pernyataan tersebut langsung menjadi perhatian publik, terutama karena posisi Indonesia dalam peringkat ekonomi dunia sangat bergantung pada metode pengukuran yang digunakan. Dalam sejumlah forum internasional, Indonesia memang kerap disebut sebagai salah satu kekuatan ekonomi utama, namun angka peringkatnya berbeda-beda antara satu lembaga dengan lembaga lainnya.

Dasar Pengukuran: Paritas Daya Beli

Klaim bahwa Indonesia berada di posisi ketujuh dunia umumnya merujuk pada perhitungan produk domestik bruto (PDB) berdasarkan paritas daya beli atau purchasing power parity (PPP). Metode ini membandingkan ukuran ekonomi dengan memperhitungkan perbedaan harga barang dan jasa antarnegara, sehingga daya beli masyarakat menjadi dasar utama perhitungan.

Dalam kerangka itu, data Dana Moneter Internasional (IMF) menempatkan Indonesia di kisaran peringkat ketujuh hingga kedelapan dunia, dengan nilai PDB berdasarkan PPP sekitar 4.700 hingga 5.000 miliar dolar Amerika Serikat. Posisi tersebut berada di bawah Tiongkok, Amerika Serikat, India, Jepang, Jerman, dan Rusia, serta bersaing ketat dengan Brasil.

Dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa, Indonesia memiliki pasar domestik yang besar. Kombinasi populasi besar dan kelas menengah yang terus tumbuh menjadi faktor utama yang mendorong besarnya nilai ekonomi Indonesia dalam perhitungan PPP.

Berbeda dengan PDB Nominal

Jika menggunakan PDB nominal, yaitu perhitungan berdasarkan nilai tukar pasar, posisi Indonesia berada jauh lebih rendah, yakni di kisaran peringkat ke-16 dunia dengan nilai sekitar 1.400 miliar dolar Amerika Serikat. Dalam ukuran ini, Indonesia berada di bawah negara-negara seperti Kanada, Brasil, Rusia, Meksiko, Australia, Korea Selatan, dan Spanyol.

Perbedaan itu bukan hal yang saling bertentangan, melainkan konsekuensi dari metode pengukuran yang berbeda. PDB nominal lebih menggambarkan bobot Indonesia dalam perdagangan dan keuangan global, sementara PDB berdasarkan PPP lebih mencerminkan ukuran riil aktivitas ekonomi domestik serta daya beli penduduk.

Sejumlah ekonom menilai kedua ukuran tersebut perlu dibaca secara berimbang. Peringkat berdasarkan PPP menunjukkan potensi pasar yang besar, tetapi PDB nominal menunjukkan seberapa besar pengaruh Indonesia dalam arus investasi, perdagangan internasional, dan sistem keuangan dunia.

Pertumbuhan Ekonomi dan Target Pemerintah

Dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi Indonesia tumbuh stabil di kisaran 5 persen. Angka itu tergolong tinggi dibandingkan banyak negara lain, tetapi masih di bawah target pertumbuhan 8 persen yang dicanangkan pemerintahan Prabowo Subianto untuk mendorong Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah.

Pemerintah menempuh sejumlah langkah untuk menaikkan pertumbuhan, antara lain melalui program hilirisasi sumber daya alam, pembentukan dana investasi strategis, percepatan pembangunan infrastruktur, serta program bantuan gizi bagi kelompok rentan. Langkah-langkah itu diarahkan untuk memperluas lapangan kerja dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Namun, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa pertumbuhan yang tinggi perlu disertai perbaikan kualitas. Produktivitas tenaga kerja, penguasaan teknologi, dan penguatan sektor manufaktur dinilai menjadi kunci agar kenaikan output tidak hanya bertumpu pada konsumsi domestik dan ekspor komoditas.

Tantangan Struktural

Meski menempati posisi tinggi dalam peringkat PPP, Indonesia masih menghadapi sejumlah persoalan struktural. Ketergantungan pada ekspor komoditas mentah dan setengah jadi membuat neraca perdagangan rentan terhadap fluktuasi harga global. Selain itu, kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB cenderung stagnan dalam satu dekade terakhir.

Kesenjangan antarwilayah juga menjadi catatan. Pulau Jawa masih menyumbang lebih dari separuh perekonomian nasional, sementara sebagian wilayah timur Indonesia memiliki pertumbuhan yang lebih lambat. Pemerataan infrastruktur dan akses pembiayaan dinilai penting agar pertumbuhan ekonomi tidak terpusat di wilayah tertentu.

Dari sisi lain, besarnya populasi memberikan bonus demografi yang dapat menjadi pendorong pertumbuhan, tetapi juga menuntut ketersediaan lapangan kerja yang memadai. Tanpa penciptaan pekerjaan yang cukup, tambahan angkatan kerja setiap tahun berpotensi menjadi beban sosial dan ekonomi.

Posisi Indonesia di Antara Negara Besar

Dalam diskusi ekonomi global, Indonesia kerap dikelompokkan bersama negara-negara besar seperti Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan. Kelompok ini mewakili kekuatan ekonomi negara berkembang yang terus meningkat, meski tingkat pendapatan per kapita masih jauh di bawah negara maju.

Pendapatan per kapita Indonesia berada di kisaran 4.900 dolar Amerika Serikat per tahun berdasarkan perhitungan nominal. Angka itu masih di bawah ambang batas yang digunakan Bank Dunia untuk kategori negara berpendapatan tinggi, sehingga peningkatan kesejahteraan per penduduk tetap menjadi agenda utama.

Dengan demikian, pernyataan mengenai posisi ekonomi terbesar ketujuh dapat dipahami sebagai pengakuan atas besarnya skala ekonomi Indonesia, sekaligus pengingat bahwa ukuran total tidak selalu mencerminkan tingkat kemakmuran penduduk. Posisi tersebut dinilai menjadi modal awal, bukan tujuan akhir, dalam upaya menjadikan Indonesia sebagai negara maju pada 2045.

Pemerintah sendiri menegaskan bahwa perbaikan tata kelola, kepastian hukum, dan iklim investasi yang sehat menjadi prasyarat untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan posisi Indonesia dalam peta ekonomi dunia.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Kevin Handayani

Kontributor rubrik data dan visualisasi angka penting.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter