Prancis dan Jerman bergerak seiring dalam merumuskan respons Eropa terhadap derasnya arus kendaraan listrik asal China. Kedua negara, yang selama ini kerap berbeda sikap dalam kebijakan perdagangan Uni Eropa, kini menyamakan langkah: mempertahankan instrumen tarif sebagai benteng sementara, sekaligus mempercepat pembangunan kapasitas industri otomotif dan baterai di dalam negeri.
Langkah itu ditempuh ketika merek-merek China semakin agresif memperluas pangsa pasar di Benua Biru, mulai dari segmen mobil listrik berbiaya rendah hingga kendaraan kelas menengah. Produsen seperti BYD, SAIC, Geely, dan sejumlah merek pendatang baru menawarkan kendaraan dengan harga yang, menurut sejumlah analisis industri, sulit ditandingi pabrikan Eropa karena keunggulan rantai pasok baterai dan skala produksi di Tiongkok.
Tarif sebagai Instrumen Pertahanan Pertama
Uni Eropa telah memberlakukan bea masuk tambahan terhadap kendaraan listrik berbaterai (battery electric vehicle/BEV) buatan China. Besaran tarif bervariasi antarpabrikan, mulai dari sekitar 7,8 persen hingga 35,3 persen, di atas tarif impor standar 10 persen yang berlaku umum. Kebijakan itu lahir dari penyelidikan antisubsidi yang menyimpulkan adanya dukungan finansial negara yang mendistorsi persaingan.
Prancis termasuk negara yang paling vokal mendukung pengenaan tarif. Pemerintah di Paris berargumen bahwa tanpa tindakan korektif, industri otomotif Eropa akan kehilangan kemampuan berinvestasi dalam transisi energi. Paris juga menerapkan skema insentif pembelian kendaraan listrik yang memperhitungkan jejak karbon produksi, sebuah mekanisme yang secara praktis mempersempit ruang bagi kendaraan yang dirakit di luar Eropa.
Jerman semula menempuh jalur berbeda. Kekhawatiran utama Berlin adalah risiko pembalasan terhadap pabrikan premiumnya yang memiliki kepentingan besar di pasar Tiongkok. Namun posisi itu bergeser ketika tekanan terhadap basis industri dalam negeri Jerman meningkat, terutama setelah sejumlah pabrikan mengumumkan efisiensi besar-besaran dan penutupan kapasitas produksi.
Pergeseran Posisi Berlin
Perubahan sikap Jerman tidak terjadi seketika. Berlin tetap menekankan pentingnya dialog dengan Beijing dan menghindari eskalasi perdagangan. Meski demikian, pemerintah koalisi di Jerman mulai menyuarakan perlunya kerangka Eropa yang lebih tertata: tarif dipandang sebagai alat transisi, bukan tujuan akhir.
Dalam berbagai forum industri, perwakilan Jerman dan Prancis mendorong pendekatan dua jalur. Jalur pertama adalah penegakan aturan perdagangan yang setara, termasuk penelusuran asal komponen dan kewajiban kandungan lokal. Jalur kedua adalah dukungan fiskal dan regulasi bagi produksi baterai, kendaraan listrik, serta komponen kritis di dalam Eropa.
Kedua negara juga mendorong skema insentif yang terkoordinasi di tingkat Uni Eropa agar tidak terjadi fragmentasi kebijakan antarnegara anggota. Sejumlah negara telah memiliki program subsidi masing-masing, dan perbedaan besaran insentif dikhawatirkan menciptakan distorsi baru di pasar tunggal.
Tekanan Nyata bagi Produsen Eropa
Produsen Eropa menghadapi tiga tekanan sekaligus: biaya transisi ke kendaraan listrik, harga energi yang relatif tinggi, serta persaingan dari kendaraan impor berbiaya rendah. Volkswagen, Stellantis, Renault, dan Mercedes-Benz menjalankan program efisiensi dengan intensitas berbeda, termasuk pengurangan kapasitas dan peninjauan kembali rencana ekspansi.
Di sisi lain, sejumlah pabrikan China telah mengumumkan rencana membangun atau merakit kendaraan di Eropa, antara lain di Hongaria, Spanyol, dan Turkiye. Langkah ini dipandang sebagai upaya menyesuaikan diri dengan struktur tarif sekaligus mendekatkan diri ke pasar tujuan. Bagi Brussels, fenomena tersebut menghadirkan pertanyaan baru: sejauh mana kendaraan yang dirakit di Eropa tetapi menggunakan komponen impor dapat dianggap sebagai produk lokal.
Aturan asal menjadi titik perdebatan. Prancis mendorong penghitungan yang lebih ketat terhadap nilai tambah lokal, sementara sejumlah negara anggota mengingatkan bahwa aturan terlalu restriktif dapat menghambat investasi yang justru dibutuhkan untuk menciptakan lapangan kerja.
Baterai sebagai Medan Tempur Utama
Inti persaingan sesungguhnya berada di rantai pasok baterai. Sel baterai menyumbang porsi signifikan dari biaya produksi kendaraan listrik, dan penguasaan teknologi serta kapasitas produksi sel menentukan daya saing harga. Eropa berupaya membangun ekosistem baterai domestik melalui sejumlah proyek pabrik, meski menghadapi kendala pendanaan, ketersediaan bahan baku, dan keterampilan tenaga kerja.
Prancis dan Jerman mendukung penguatan rantai nilai regional, mulai dari pemurnian material, produksi katoda, hingga perakitan sel dan daur ulang. Dukungan diberikan melalui kerangka bantuan negara yang dilonggarkan, kredit pajak, serta kemitraan antara pemerintah dan swasta.
Namun, ketergantungan pada komponen impor tetap sulit dihindari dalam jangka pendek. Sejumlah analis menilai tanpa kepastian pasokan bahan baku dan harga energi yang kompetitif, kapasitas baterai Eropa akan sulit mencapai skala ekonomis dalam beberapa tahun ke depan.
Risiko Pembalasan dan Jalur Negosiasi
Kebijakan tarif membawa risiko pembalasan. Tiongkok telah membuka penyelidikan terhadap sejumlah produk Eropa, termasuk minuman beralkohol suling dan produk peternakan, yang berdampak langsung pada kepentingan Prancis. Ancaman ini menjadi alasan mengapa Paris dan Berlin menekankan pentingnya negosiasi paralel.
Uni Eropa dan Tiongkok dilaporkan membahas mekanisme komitmen harga, yakni skema yang memungkinkan eksportir menetapkan harga minimum sebagai alternatif tarif. Bila tercapai, kesepakatan semacam itu dapat menurunkan tensi tanpa mencabut kerangka perlindungan yang sudah ada.
Bagi Prancis dan Jerman, kunci keberhasilan bukan pada besaran tarif, melainkan pada kemampuan industri Eropa menurunkan biaya produksi, mempercepat inovasi, dan membangun rantai pasok yang tangguh. Tanpa itu, perlindungan perdagangan hanya memberi waktu, bukan solusi.
Peta Jalan yang Menanti Ujian
Koordinasi Paris-Berlin akan diuji dalam pembahasan anggaran, kebijakan iklim, dan revisi aturan pasar tunggal. Kedua negara memiliki kepentingan industri yang tidak sepenuhnya identik: Prancis lebih terlindungi dari eksposur pasar Tiongkok, sedangkan Jerman lebih rentan terhadap pembalasan.
Meski demikian, keduanya sepakat bahwa dominasi kendaraan impor tanpa hambatan akan mengancam basis manufaktur yang menopang jutaan lapangan kerja di Eropa. Karena itu, arah kebijakan tampak jelas: mempertahankan instrumen pertahanan dagang sambil mengejar kemandirian kapasitas produksi di dalam kawasan.
Hasil akhirnya akan ditentukan oleh kecepatan eksekusi. Selama pabrik baterai, jaringan pengisian daya, dan rantai pasok komponen belum matang, persaingan harga dengan produsen China akan tetap menjadi titik lemah yang sulit ditutup hanya dengan tarif.
Komentar (0)