06, 2026
Nasional

Puan Minta Polisi Usut Penyerangan Koordinator BEM UI

Vino Pratama
Vino Pratama Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Puan Desak Polisi Usut Tuntas Penyerangan Koordinator BEM UI

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Puan Maharani, meminta aparat kepolisian bergerak cepat mengusut kasus penyerangan yang menimpa Koordinator Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia. Insiden tersebut menjadi sorotan publik karena menyangkut keselamatan aktivis mahasiswa yang tengah menyuarakan aspirasi kritis terhadap kebijakan pemerintah.

Dalam pernyataannya, Puan menegaskan bahwa tindak kekerasan terhadap siapa pun, termasuk mahasiswa yang sedang menjalankan peran intelektualnya, tidak dapat ditoleransi. Ia menyebut penyerangan itu sebagai perbuatan yang bertentangan dengan prinsip demokrasi dan kebebasan berpendapat yang dijamin konstitusi.

"Kami meminta kepolisian mengusut tuntas dan menangkap pelaku. Tidak boleh ada pembiaran terhadap kekerasan yang menyasar mahasiswa," ujar Puan di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta.

Puan menekankan bahwa mahasiswa memiliki posisi penting dalam menjaga keseimbangan demokrasi. Kritik yang mereka sampaikan, menurutnya, merupakan bagian dari mekanisme kontrol sosial yang sah dan dilindungi undang-undang. Karena itu, ia meminta aparat keamanan memberikan jaminan perlindungan kepada mahasiswa yang menjadi korban maupun kepada aktivis lain yang berpotensi mengalami hal serupa.

Kronologi Insiden dan Respons Kampus

Penyerangan terhadap koordinator BEM UI terjadi saat korban berada di luar kampus. Sejumlah pihak menduga aksi tersebut berkaitan dengan sikap kritis mahasiswa terhadap sejumlah kebijakan pemerintah yang belakangan menjadi perbincangan hangat di ruang publik. Hingga berita ini diturunkan, korban dilaporkan tengah menjalani perawatan dan pendampingan hukum.

Pihak kampus Universitas Indonesia mengecam tindak kekerasan tersebut. Manajemen UI menyatakan akan memberikan pendampingan kepada mahasiswa yang menjadi korban serta berkoordinasi dengan aparat penegak hukum untuk memastikan proses investigasi berjalan transparan. Kampus juga menegaskan komitmennya menjaga kebebasan akademik dan ruang berekspresi bagi seluruh mahasiswa.

Sejumlah organisasi mahasiswa dari berbagai kampus menyatakan solidaritas terhadap korban. Mereka menuntut aparat kepolisian mengungkap dalang di balik penyerangan, bukan hanya pelaku di lapangan. Aksi solidaritas berupa penyalaan lilin dan pernyataan sikap digelar di sejumlah kampus sebagai bentuk protes atas kekerasan yang dinilai mengancam iklim demokrasi.

Desakan Investigasi Transparan

Puan Maharani menekankan pentingnya transparansi dalam penanganan kasus ini. Ia meminta kepolisian membuka perkembangan penyelidikan kepada publik agar tidak menimbulkan spekulasi yang berkembang liar di tengah masyarakat. Menurutnya, kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum hanya bisa dibangun jika proses hukum dijalankan secara profesional dan akuntabel.

Ia juga mengingatkan bahwa kekerasan terhadap aktivis mahasiswa berpotensi menimbulkan efek jera yang merugikan demokrasi. Jika dibiarkan, hal itu dapat membuat generasi muda enggan menyampaikan pendapat kritis karena takut menjadi sasaran kekerasan. Padahal, partisipasi mahasiswa dalam mengawal kebijakan publik merupakan bagian penting dari proses pembangunan bangsa.

"Jangan sampai mahasiswa takut menyampaikan pendapat. Negara wajib hadir melindungi mereka," tegas politikus PDI Perjuangan itu.

Senada dengan Puan, sejumlah anggota DPR dari berbagai fraksi mendorong pembentukan pengawasan khusus terhadap penanganan kasus ini. Mereka meminta Komisi III DPR memanggil pihak kepolisian untuk meminta penjelasan mengenai progres penyelidikan. Langkah itu dinilai penting agar publik mendapat informasi yang utuh dan tidak terjadi kesan pembiaran.

Respons Kepolisian dan Proses Hukum

Kepolisian menyatakan telah menerima laporan resmi terkait insiden tersebut dan langsung melakukan olah tempat kejadian perkara. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan, sementara rekaman kamera pengawas di sekitar lokasi dikumpulkan sebagai bahan penyelidikan. Polisi belum merinci motif di balik penyerangan dan meminta publik bersabar menunggu hasil investigasi.

Meski demikian, sejumlah pihak mendesak agar penyelidikan tidak berhenti pada pelaku lapangan. Mereka menduga penyerangan terorganisasi dan melibatkan pihak-pihak tertentu yang ingin membungkam kritik mahasiswa. Karena itu, pengungkapan aktor intelektual menjadi tuntutan utama dalam penanganan kasus ini.

Pengamat hukum menilai kasus ini menjadi ujian bagi komitmen negara dalam melindungi kebebasan berpendapat. Penanganan yang lambat atau tidak transparan berpotensi memperkuat persepsi bahwa kekerasan terhadap aktivis dibiarkan. Sebaliknya, penyelesaian yang tegas dapat memperkuat kepercayaan publik terhadap penegakan hukum.

Perlindungan terhadap Kebebasan Akademik

Insiden ini kembali membuka diskusi tentang pentingnya perlindungan terhadap kebebasan akademik dan kebebasan berekspresi di lingkungan kampus. Universitas dipandang sebagai ruang aman bagi mahasiswa untuk berpikir kritis, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat tanpa rasa takut. Kekerasan terhadap aktivis mahasiswa dinilai sebagai ancaman serius terhadap prinsip tersebut.

Puan Maharani menegaskan bahwa DPR akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas. Ia berharap aparat kepolisian bekerja tanpa tekanan dari pihak mana pun dan mengungkap seluruh pelaku berdasarkan bukti yang sah. Selain itu, ia meminta pemerintah memastikan tidak ada lagi kekerasan serupa terhadap mahasiswa di masa mendatang.

"Negara ini dibangun dari semangat mahasiswa. Melindungi mereka berarti melindungi masa depan demokrasi kita," pungkas Puan.

Perkembangan kasus penyerangan koordinator BEM UI masih terus berjalan. Publik menantikan langkah konkret aparat kepolisian dalam mengungkap pelaku dan motif di baliknya. Penanganan yang transparan dan profesional menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap proses hukum sekaligus memastikan kekerasan terhadap mahasiswa tidak terulang kembali.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Vino Pratama

Reporter lapangan yang kerap menyoroti UMKM dan ekonomi kerakyatan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter