24, 2026
Nasional

Relawan Kebakaran Hutan Diimbau Jangan Abaikan Kelelahan

Putri Gunawan
Putri Gunawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

**Relawan Kebakaran Hutan Diimbau Jangan Abaikan Kelelahan** Kebakaran hutan dan lahan menuntut kerja cepat, tanggap, dan berkelanjutan. Di tengah tekanan untuk segera memadamkan api, relawan sering kali terdorong bekerja melebihi kemampuan tubuh. Karena itu, muncul imbauan agar para relawan tidak mengabaikan kelelahan. Kelelahan bukan tanda kelemahan, melainkan sinyal bahwa tubuh dan pikiran memerlukan pemulihan. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat menurunkan kewaspadaan, memperlambat pengambilan keputusan, dan meningkatkan risiko kecelakaan di lapangan. Beban kerja relawan kebakaran hutan memang tidak ringan. Mereka menghadapi panas tinggi, asap tebal, medan yang sulit, peralatan berat, serta jam kerja yang tidak menentu. Ada kalanya mereka harus bertugas pada malam hari, berpindah lokasi, dan tetap siaga ketika api belum sepenuhnya padam. Dalam kondisi seperti itu, kelelahan fisik maupun mental dapat muncul tanpa disadari. Tubuh mungkin masih mampu bergerak, tetapi konsentrasi sudah menurun. Akibatnya, risiko tersandung, terjatuh, dehidrasi, gangguan pernapasan, hingga masalah jantung bisa meningkat. Kelelahan juga berdampak pada kesehatan mental. Relawan yang terus-menerus berada di bawah tekanan, melihat kerusakan lingkungan, dan kurang tidur dapat mengalami stres, cemas, mudah tersinggung, atau sulit berkonsentrasi. Jika tidak dikelola, kondisi ini bisa memengaruhi kerja tim dan keselamatan bersama. Oleh sebab itu, imbauan untuk tidak mengabaikan kelelahan harus dipahami sebagai bagian dari upaya perlindungan terhadap relawan, bukan sekadar formalitas. Pengaturan shift menjadi langkah penting. Relawan perlu mendapatkan waktu istirahat yang terjadwal, bukan menunggu sampai tubuh benar-benar kehabisan tenaga. Rotasi tugas harus dilakukan secara adil, dengan mempertimbangkan kondisi fisik, pengalaman, dan kebutuhan pemulihan. Koordinator lapangan sebaiknya memantau tanda-tanda kelelahan pada anggota tim, termasuk perubahan sikap, gerakan yang melambat, atau keluhan yang sering diabaikan. Relawan juga harus berani melapor ketika merasa lelah. Jangan sampai budaya “tetap kuat” justru membuat seseorang memaksakan diri hingga celaka. Kebutuhan cairan dan makanan tidak boleh disepelekan. Di lingkungan panas dan berasap, tubuh kehilangan cairan lebih cepat. Relawan dianjurkan minum secara rutin sebelum rasa haus muncul, bukan hanya setelah istirahat. Konsumsi kopi atau minuman berenergi secara berlebihan bukan pengganti istirahat yang cukup. Makanan bergizi, waktu tidur yang memadai, dan tempat istirahat yang layak sama pentingnya dengan peralatan pemadaman. Perlengkapan pelindung diri, masker, serta pakaian yang sesuai juga harus digunakan dengan benar agar paparan panas dan asap tidak memperburuk kondisi tubuh. Pemeriksaan kesehatan sebelum bertugas perlu dilakukan, terutama bagi relawan yang memiliki riwayat penyakit tertentu. Tekanan darah, kondisi pernapasan, dan keluhan awal harus diperhatikan. Jika muncul gejala seperti pusing, mual, kram otot, lemas berlebihan, jantung berdebar, kebingungan, sesak napas, atau kulit terasa panas, relawan harus segera berhenti dari aktivitas berat dan mencari bantuan medis. Mengabaikan gejala kecil dapat berujung pada kondisi yang lebih serius. Selain itu, relawan sebaiknya bekerja dalam kelompok dan menjaga komunikasi. Bekerja berpasangan memudahkan deteksi dini ketika ada rekan yang menunjukkan tanda kelelahan atau disorientasi. Jalur evakuasi, titik kumpul, dan saluran komunikasi harus diketahui bersama. Peralatan komunikasi perlu dipastikan berfungsi. Dalam situasi darurat, kemampuan untuk meminta bantuan dengan cepat sangat menentukan. Dukungan logistik dan manajemen lapangan juga memegang peranan besar. Relawan membutuhkan air bersih, makanan, tempat berlindung, fasilitas medis, dan transportasi yang memadai. Mereka bukan mesin yang bisa terus bekerja tanpa henti. Setelah bertugas, perlu ada masa pemulihan, rehidrasi, tidur yang cukup, dan pemeriksaan kesehatan bila diperlukan. Dukungan dari keluarga, rekan kerja, dan masyarakat juga membantu menjaga semangat serta kesejahteraan mental para relawan. Yang terpenting, keselamatan harus menjadi prioritas utama. Api memang perlu dipadamkan, tetapi upaya itu tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan kesehatan relawan. Jangan memberi stigma kepada mereka yang memilih beristirahat atau melapor kelelahan. Sebaliknya, sikap tersebut harus dihargai sebagai bentuk tanggung jawab. Dengan pengaturan istirahat yang baik, pengawasan yang ketat, dan budaya kerja yang peduli pada keselamatan, relawan dapat menjalankan tugas secara lebih efektif. Mengabaikan kelelahan bukan tanda keberanian; justru menjaga kondisi tubuh adalah langkah bijak agar misi pemadaman dapat berjalan aman dan berkelanjutan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Putri Gunawan

Analis pasar modal dengan pengalaman lebih dari satu dekade di industri.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter