30, 2026
Politik

RI Belum Deal Interkoneksi Listrik dengan Malaysia, Bahlil: Harus Adil

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut Indonesia hingga kini belum menandatangani kesepakatan interkoneksi listrik dengan Malaysia.]]>

Dimas Permana
Dimas Permana Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

RI Belum Deal Interkoneksi Listrik dengan Malaysia, Bahlil: Harus Adil

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa Indonesia belum mencapai kesepakatan final dengan Malaysia terkait proyek interkoneksi listrik antarnegara. Menurutnya, pembahasan masih berlangsung dan pemerintah terus memastikan bahwa kerja sama tersebut memberikan keuntungan yang seimbang bagi kedua pihak.

Bahlil menegaskan bahwa prinsip keadilan menjadi syarat utama dalam negosiasi. Indonesia tidak ingin hanya menjadi pemasok listrik tanpa memperoleh nilai tambah yang memadai, baik dari sisi harga jual maupun pengembangan infrastruktur domestik.

Prinsip Keadilan dalam Negosiasi

Dalam berbagai kesempatan, Bahlil menyatakan bahwa kerja sama lintas negara di sektor ketenagalistrikan harus menguntungkan Indonesia, bukan semata memenuhi kebutuhan negara tetangga. Ia menekankan bahwa harga jual listrik ke Malaysia harus mencerminkan nilai keekonomian yang wajar dan tidak merugikan PLN maupun konsumen dalam negeri.

"Harus adil. Jangan kita hanya diminta mengirim listrik, tetapi harga dan syaratnya tidak menguntungkan kita," ujar Bahlil dalam pernyataan yang disampaikan kepada awak media. Ia menambahkan bahwa pemerintah akan terus mengkaji aspek teknis, komersial, dan regulasi sebelum menandatangani perjanjian apa pun.

Isu interkoneksi listrik Indonesia-Malaysia sebenarnya bukan hal baru. Wacana ini telah muncul dalam beberapa tahun terakhir, terutama seiring meningkatnya kebutuhan energi di kawasan ASEAN dan dorongan untuk mempercepat transisi energi melalui jaringan listrik regional. Namun, hingga kini belum ada kesepakatan menyeluruh yang mengikat kedua negara.

Peluang dan Tantangan Integrasi Listrik ASEAN

Proyek interkoneksi listrik antarnegara merupakan bagian dari kerangka ASEAN Power Grid, sebuah inisiatif kawasan untuk menghubungkan sistem kelistrikan negara-negara anggota ASEAN. Tujuan utamanya adalah meningkatkan ketahanan energi, mengoptimalkan sumber daya, dan mempercepat pemanfaatan energi terbarukan.

Bagi Indonesia, interkoneksi ini menawarkan peluang ekspor listrik, khususnya dari wilayah Sumatra dan Kalimantan yang memiliki potensi energi terbarukan besar, seperti panas bumi, hidro, dan surya. Namun, tantangan tetap besar, mulai dari kesiapan infrastruktur transmisi, biaya investasi, hingga perbedaan regulasi dan tarif antarnegara.

Selain itu, pemerintah harus memastikan pasokan listrik domestik tetap aman. Bahlil menekankan bahwa prioritas utama adalah memenuhi kebutuhan dalam negeri. Ekspor listrik hanya dapat dilakukan jika pasokan domestik sudah tercukupi dan proyek tersebut tidak mengganggu keandalan sistem kelistrikan nasional.

Posisi Indonesia dalam Negosiasi

Dalam beberapa bulan terakhir, pembahasan dengan Malaysia memang terus berjalan. Pemerintah melalui Kementerian ESDM dan PLN melakukan serangkaian pertemuan teknis untuk membahas skema kerja sama, termasuk kemungkinan pembangunan jaringan transmisi bawah laut atau kabel laut yang menghubungkan kedua negara.

Namun, belum ada keputusan mengenai kapasitas ekspor, harga, dan jangka waktu perjanjian. Bahlil menyatakan bahwa pemerintah tidak akan terburu-buru. Menurutnya, kesepakatan harus bersifat jangka panjang dan memberikan kepastian bagi kedua pihak.

Ia juga menyoroti pentingnya nilai tambah bagi industri dalam negeri. Ekspor listrik seharusnya disertai dengan pengembangan infrastruktur, transfer teknologi, dan penciptaan lapangan kerja. Dengan demikian, kerja sama tidak hanya menguntungkan secara komersial, tetapi juga berdampak pada perekonomian nasional.

Respons dan Prospek ke Depan

Kalangan pengamat menilai bahwa negosiasi interkoneksi listrik memang memerlukan kehati-hatian karena menyangkut kepentingan strategis jangka panjang. Mereka menilai sikap pemerintah yang menekankan asas keadilan merupakan langkah tepat, terutama di tengah dinamika harga energi global dan kebutuhan investasi besar di sektor ketenagalistrikan.

Di sisi lain, Malaysia juga memiliki kepentingan untuk memperoleh pasokan listrik yang stabil dan kompetitif. Karena itu, kesepakatan yang saling menguntungkan menjadi kunci keberhasilan proyek ini. Jika tercapai, interkoneksi listrik tidak hanya memperkuat hubungan bilateral, tetapi juga mempercepat integrasi energi di kawasan ASEAN.

Hingga saat ini, belum ada tenggat waktu pasti kapan kesepakatan akan ditandatangani. Pemerintah menyatakan akan terus melakukan pembahasan dengan mengedepankan kepentingan nasional. Bahlil memastikan bahwa setiap keputusan akan diambil secara transparan dan akuntabel.

Dengan posisi tersebut, masa depan proyek interkoneksi listrik Indonesia-Malaysia masih menunggu hasil negosiasi yang mempertemukan kepentingan kedua negara. Yang jelas, pemerintah menegaskan bahwa asas keadilan akan menjadi fondasi utama dalam setiap kerja sama energi lintas batas.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Dimas Permana

Reporter Politik Muda. Fokus pada gerakan pemuda, politik digital, dan representasi generasi Z.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter