22, 2026
Internasional

RI-China Kerja Sama Kembangkan PLTS 90 MWp di Sulawesi

Perusahaan Indonesia dan China menjajaki pengembangan energi surya di Sulawesi Tengah dengan kapasitas 90 MWp.]]>

Rizal Fahmi
Rizal Fahmi Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

RI-China Kerja Sama Kembangkan PLTS 90 MWp di Sulawesi

Pemerintah Indonesia bersama mitra dari China mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 90 megawatt peak (MWp) di Sulawesi. Proyek ini menjadi salah satu langkah konkret dalam memperluas pemanfaatan energi terbarukan di kawasan timur Indonesia, sekaligus memperkuat kerja sama energi lintas negara yang selama ini didominasi sektor batu bara dan infrastruktur jaringan.

Pengembangan PLTS skala utilitas tersebut menambah daftar proyek energi bersih yang masuk ke dalam rencana pembangunan pembangkit nasional. Kapasitas 90 MWp tergolong besar untuk ukuran pembangkit surya di Indonesia, yang selama ini didominasi instalasi atap berskala kecil dan menengah. Kehadiran pembangkit berskala ini diharapkan mendorong terbentuknya rantai pasok komponen, jasa instalasi, hingga tenaga kerja teknis di daerah.

Latar Belakang Kerja Sama Energi Indonesia-China

China merupakan salah satu mitra investasi terbesar Indonesia di sektor energi dan infrastruktur. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan-perusahaan China mulai menggeser sebagian fokus investasinya dari pembangkit berbahan bakar fosil ke proyek energi terbarukan, seiring tekanan global untuk menurunkan emisi karbon dan kebutuhan negara tujuan investasi atas pasokan listrik yang lebih bersih.

Bagi Indonesia, kehadiran investor asing di sektor surya dinilai penting karena kapasitas terpasang PLTS nasional masih jauh di bawah potensi. Pemerintah menargetkan penambahan kapasitas energi terbarukan secara signifikan hingga akhir dekade ini, dan pembangkit surya menjadi salah satu pilihan utama karena waktu pembangunannya relatif singkat dibandingkan pembangkit hidro atau panas bumi.

Kerja sama ini juga mencakup aspek pengembangan kapasitas, mulai dari pelatihan teknis bagi operator lokal, transfer pengetahuan dalam perawatan panel, hingga penerapan sistem pemantauan produksi listrik berbasis digital. Pola kemitraan semacam ini dipandang lebih berkelanjutan dibandingkan model investasi yang hanya berhenti pada tahap konstruksi.

Kontribusi 90 MWp bagi Sistem Kelistrikan

Pembangkit berkapasitas 90 MWp menghasilkan listrik pada siang hari, ketika intensitas matahari berada pada titik tertinggi. Dengan asumsi faktor kapasitas yang wajar untuk wilayah Indonesia, produksi listrik tahunan diperkirakan mencapai lebih dari 120 gigawatt-jam. Angka itu setara dengan kebutuhan listrik puluhan ribu rumah tangga dan membantu mengurangi ketergantungan pembangkit berbahan bakar diesel yang masih banyak beroperasi di sejumlah wilayah Sulawesi.

Dari sisi lingkungan, pemanfaatan energi surya dalam skala tersebut diperkirakan mampu menghindari emisi karbon dioksida sekitar 100 ribu ton per tahun dibandingkan pembangkit fosil dengan beban produksi setara. Pengurangan emisi ini sejalan dengan komitmen Indonesia menurunkan intensitas karbon dalam bauran energi nasional.

Potensi Surya di Sulawesi

Sulawesi memiliki karakteristik geografis yang mendukung pemanfaatan energi surya. Wilayah ini berada di sekitar garis khatulistiwa dengan radiasi matahari yang relatif stabil sepanjang tahun, sehingga fluktuasi musiman tidak seekstrem wilayah lintang tinggi. Sejumlah daerah di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara memiliki lahan terbuka yang dapat dimanfaatkan untuk pembangkit fotovoltaik skala besar.

Selain itu, kebutuhan listrik di Sulawesi terus tumbuh seiring perkembangan sektor industri pengolahan, khususnya smelter nikel di bagian tengah dan tenggara pulau. Pertumbuhan beban ini menuntut penambahan kapasitas pembangkit, dan energi surya menawarkan opsi yang lebih ramah lingkungan apabila didukung oleh perencanaan jaringan yang memadai.

Tantangan Integrasi ke Jaringan

Meski menjanjikan, pengoperasian PLTS skala besar menghadapi tantangan teknis. Sifat produksi yang intermiten menuntut sistem kelistrikan memiliki cadangan daya yang cukup dan kemampuan mengatur fluktuasi beban. Tanpa dukungan penyimpanan energi atau pembangkit fleksibel, porsi energi surya dalam sistem tidak dapat dinaikkan tanpa risiko gangguan pasokan.

Karena itu, pengembangan pembangkit perlu disertai penguatan infrastruktur transmisi dan distribusi. Di beberapa wilayah Sulawesi, kapasitas jaringan masih terbatas, sehingga penambahan pembangkit baru harus direncanakan bersama perluasan gardu induk dan saluran penghubung agar listrik dapat disalurkan secara optimal.

Dampak Ekonomi dan Lapangan Kerja

Pembangunan PLTS 90 MWp membuka peluang kerja pada tahap konstruksi, mulai dari pekerjaan sipil, pemasangan struktur penyangga, instalasi panel, hingga pengujian sistem. Setelah beroperasi, pembangkit membutuhkan tenaga kerja tetap untuk perawatan dan pemantauan, meski jumlahnya lebih kecil dibandingkan pembangkit fosil berkapasitas serupa.

Dampak ekonomi tidak berhenti pada lapangan kerja langsung. Kehadiran pembangkit dapat mendorong tumbuhnya usaha jasa lokal, seperti penyediaan akomodasi, transportasi, dan katering selama masa konstruksi. Pemerintah daerah diharapkan menyiapkan regulasi dan fasilitas pendukung agar manfaat ekonomi tersebut dapat dirasakan masyarakat sekitar.

Iklim Investasi dan Pendanaan

Pengembangan proyek energi terbarukan masih menghadapi kendala pembiayaan, terutama terkait persepsi risiko dan suku bunga pinjaman. Skema kerja sama dengan mitra asing menjadi salah satu cara mengatasi keterbatasan modal domestik. Namun, kepastian kerangka regulasi, termasuk mekanisme pembelian listrik dan jaminan pengembalian investasi, tetap menjadi faktor penentu keberlanjutan proyek.

Selain itu, kandungan lokal menjadi perhatian dalam proyek semacam ini. Penggunaan komponen dan jasa dalam negeri, sejauh memungkinkan secara teknis dan kompetitif, akan memperkuat dampak pembangunan bagi industri nasional. Di sisi lain, produsen panel surya dalam negeri masih memiliki kapasitas terbatas, sehingga sebagian komponen kemungkinan besar masih diimpor.

Prospek ke Depan

Proyek PLTS 90 MWp di Sulawesi menjadi indikator arah kebijakan energi Indonesia yang semakin condong ke sumber terbarukan. Keberhasilannya bergantung pada disiplin pelaksanaan, kesiapan jaringan, dan konsistensi kebijakan di tingkat pusat maupun daerah. Jika berjalan sesuai rencana, pembangkit ini dapat menjadi rujukan bagi pengembangan proyek serupa di wilayah lain, sekaligus memperkuat posisi energi surya dalam bauran listrik nasional.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Rizal Fahmi

Menulis review produk kesehatan, suplemen, dan teknologi wearables.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter