01, 2026
Nasional

Sambil Bekerja di Hong Kong, 26 Pekerja Migran Indonesia Berhasil Raih Gelar Sarjana UT

Reza Setiawan
Reza Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Sebanyak 26 pekerja migran Indonesia yang bekerja di Hong Kong berhasil menyelesaikan pendidikan jenjang sarjana melalui program pembelajaran jarak jauh yang diselenggarakan Universitas Terbuka. Kelulusan mereka diumumkan dalam sebuah acara wisuda yang digelar di Hong Kong, menandai capaian akademik yang diraih di tengah kesibukan bekerja sebagai asisten rumah tangga dan berbagai profesi lain di sektor jasa.

Keberhasilan ini menjadi salah satu bukti bahwa keterbatasan jarak, waktu, dan beban kerja bukan penghalang mutlak bagi pekerja migran untuk meningkatkan kualifikasi pendidikan formal. Para lulusan menjalani perkuliahan secara daring, memanfaatkan waktu senggang di sela-sela pekerjaan, serta mengikuti bimbingan dan ujian yang difasilitasi melalui kerja sama antara Universitas Terbuka dan sejumlah lembaga pendamping di Hong Kong.

Proses Kuliah di Tengah Keterbatasan Waktu

Para pekerja migran yang menempuh studi di Universitas Terbuka mayoritas bekerja sebagai asisten rumah tangga. Jam kerja yang panjang, mulai pagi hingga malam, membuat mereka harus pandai mengatur waktu. Sebagian memanfaatkan waktu istirahat siang, sebagian lagi belajar pada malam hari setelah majikan dan anggota keluarga tempat mereka bekerja beristirahat.

Meski demikian, perkuliahan jarak jauh menuntut disiplin tinggi. Materi kuliah, tugas, dan ujian disampaikan melalui platform daring yang dapat diakses menggunakan telepon pintar atau komputer. Kendala teknis seperti koneksi internet, keterbatasan perangkat, hingga kelelahan fisik menjadi tantangan yang harus diatasi sendiri oleh para mahasiswa.

Sejumlah lulusan mengaku sempat mengalami kesulitan membagi perhatian antara kewajiban pekerjaan dan tuntutan akademik. Namun, dukungan sesama pekerja migran yang tergabung dalam komunitas belajar menjadi salah satu faktor penting yang membuat mereka bertahan hingga menyelesaikan studi.

Peran Komunitas dan Pendampingan

Di Hong Kong, sejumlah komunitas pekerja migran Indonesia aktif menyelenggarakan kelas belajar bersama, diskusi kelompok, hingga pendampingan administrasi akademik. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada hari libur, ketika para pekerja migran memiliki waktu bebas dari kewajiban bekerja.

Pendampingan tersebut mencakup bantuan memahami materi kuliah, pengurusan registrasi mata kuliah, hingga persiapan menghadapi ujian. Keberadaan komunitas ini dinilai membantu menekan angka putus studi di kalangan pekerja migran yang menempuh pendidikan jarak jauh.

Selain komunitas, sejumlah organisasi sosial dan lembaga pendidikan nonformal turut memfasilitasi kegiatan belajar, termasuk penyediaan ruang diskusi dan akses komputer. Kolaborasi antara Universitas Terbuka sebagai penyelenggara pendidikan dan berbagai pihak di Hong Kong menjadi kunci kelancaran proses akademik para mahasiswa pekerja migran.

Wisuda sebagai Pengakuan atas Kerja Keras

Acara wisuda bagi 26 lulusan tersebut menjadi momen penting bagi para pekerja migran dan keluarganya. Sebagian lulusan mengikuti prosesi dengan mengenakan toga, didampingi rekan sesama pekerja migran dan perwakilan lembaga yang mendampingi selama masa studi.

Dalam berbagai kesempatan, para lulusan menyampaikan bahwa gelar sarjana bukan sekadar simbol, melainkan modal untuk memperbaiki taraf hidup setelah masa kerja di luar negeri berakhir. Beberapa di antaranya berencana melanjutkan karier di bidang pendidikan, kewirausahaan, atau kembali bekerja dengan posisi yang lebih baik.

Kelulusan ini juga menjadi dorongan bagi pekerja migran lain untuk menempuh jalur serupa. Sejumlah komunitas mencatat peningkatan minat pendaftaran program pendidikan jarak jauh dari tahun ke tahun, seiring makin terbukanya akses informasi dan teknologi.

Makna bagi Perlindungan dan Pemberdayaan Pekerja Migran

Keberhasilan 26 pekerja migran Indonesia meraih gelar sarjana di Hong Kong menegaskan pentingnya pendidikan sebagai bagian dari pemberdayaan pekerja migran. Pendidikan tidak hanya meningkatkan kompetensi, tetapi juga memperkuat posisi tawar mereka, baik selama bekerja di luar negeri maupun setelah kembali ke tanah air.

Pemerintah Indonesia melalui perwakilan di Hong Kong secara berkala mendorong program peningkatan kapasitas bagi pekerja migran, termasuk pendidikan formal dan pelatihan keterampilan. Program semacam ini dinilai sejalan dengan upaya perlindungan yang tidak hanya berfokus pada aspek ketenagakerjaan, tetapi juga pengembangan sumber daya manusia.

Bagi Universitas Terbuka, keberadaan mahasiswa dari kalangan pekerja migran menjadi bagian dari pelaksanaan pendidikan terbuka dan jarak jauh yang menjangkau warga negara Indonesia di luar negeri. Model pembelajaran ini memungkinkan pekerja migran tetap menempuh pendidikan tanpa harus meninggalkan pekerjaan dan kewajiban mereka.

Tantangan Ke Depan

Meski capaian ini positif, sejumlah tantangan masih membayangi upaya pendidikan bagi pekerja migran. Beban kerja yang tinggi, keterbatasan waktu istirahat, serta risiko stres dan kelelahan menjadi faktor yang dapat menghambat penyelesaian studi. Selain itu, biaya kuliah dan kebutuhan perangkat pendukung menjadi pertimbangan tersendiri bagi sebagian pekerja migran.

Karena itu, dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak diperlukan agar lebih banyak pekerja migran dapat mengakses dan menyelesaikan pendidikan tinggi. Dukungan tersebut dapat berupa penyediaan informasi, fasilitasi belajar, hingga skema bantuan biaya bagi yang membutuhkan.

Kelulusan 26 pekerja migran Indonesia di Hong Kong menunjukkan bahwa pendidikan dapat menjadi jalan pemberdayaan yang nyata, bahkan di tengah keterbatasan. Capaian mereka sekaligus menjadi pengingat bahwa kesempatan belajar perlu terus diperluas bagi warga negara Indonesia yang bekerja di luar negeri.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Reza Setiawan

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter