01, 2026
Nasional

Ada Bocah Bekasi 'Sekolah' di Barcelona

Tidak banyak anak-anak di dunia yang berkesempatan merasakan latihan di akademi Barcelona. Salah satunya adalah bocah asal Bekasi, Arfa Senopati Ibrahim.]]>

Taufik Syahputra
Taufik Syahputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Ada Bocah Bekasi 'Sekolah' di Barcelona

Bocah Bekasi Belajar Sepak Bola di Barcelona

Seorang anak berusia sebelas tahun asal Bekasi, Jawa Barat, menjadi sorotan setelah mendapat kesempatan mengikuti program pelatihan sepak bola di Barcelona, Spanyol. Kesempatan itu diperoleh melalui seleksi yang diikuti ribuan peserta dari berbagai negara. Bocah bernama Rafi itu berlatih bersama anak-anak lain di sebuah akademi sepak bola yang bekerja sama dengan sejumlah klub Eropa.

Perjalanan Rafi ke Barcelona bukan tanpa liku. Ia merupakan putra seorang pedagang keliling dan ibunya bekerja sebagai buruh cuci. Keluarga itu tinggal di kawasan padat penduduk di Bekasi. Sejak kecil, Rafi menunjukkan kegemaran bermain sepak bola di gang sempit dekat rumahnya. Bakatnya mulai terlihat ketika ia bergabung dengan sebuah sekolah sepak bola lokal pada usia tujuh tahun.

Dari Lapangan Kampung ke Akademi Eropa

Menurut keterangan pelatih di sekolah sepak bola lokal, Rafi memiliki kecepatan dan penguasaan bola yang menonjol dibandingkan anak-anak seusianya. Ia juga dinilai cepat memahami instruksi taktik. Prestasi itu membawanya terpilih mewakili daerah dalam sejumlah turnamen kelompok umur. Puncaknya, ia mengikuti seleksi yang diselenggarakan sebuah yayasan olahraga dan berhasil lolos ke tahap akhir bersama belasan anak lain dari berbagai provinsi.

Program yang diikuti Rafi berlangsung selama beberapa pekan. Selama di Barcelona, ia menjalani latihan pagi dan sore, termasuk sesi penguatan fisik serta pembelajaran video analisis pertandingan. Ia juga mengikuti pertandingan uji coba melawan akademi lain. Materi latihan mencakup pengembangan teknik individu, kerja sama tim, dan disiplin pemulihan kondisi tubuh.

Kesempatan itu tidak lepas dari dukungan sejumlah pihak. Biaya keberangkatan dan akomodasi sebagian ditanggung program beasiswa yayasan, sebagian lagi dari bantuan donatur dan komunitas sepak bola di Bekasi. Pemerintah daerah setempat menyatakan turut membantu pengurusan dokumen perjalanan serta memberikan dukungan administratif.

Kondisi Sarana di Tanah Air

Kisah Rafi sekaligus menyoroti persoalan pembinaan usia dini di Indonesia. Fasilitas latihan yang terbatas, minimnya kompetisi rutin, serta sulitnya akses pembinaan lanjutan menjadi kendala yang kerap dihadapi anak-anak berbakat dari keluarga kurang mampu. Sejumlah pengamat sepak bola menilai perlu ada sistem pembinaan berjenjang yang terhubung antara sekolah sepak bola, klub, dan asosiasi di tingkat daerah maupun nasional.

Di sisi lain, pengalaman Rafi menunjukkan bahwa bakat dapat muncul dari lingkungan sederhana. Keberhasilannya menembus seleksi internasional membuktikan bahwa anak-anak dari daerah pun mampu bersaing bila mendapat kesempatan dan pendampingan yang tepat. Hal itu juga menjadi motivasi bagi rekan-rekan seusianya di sekolah dan lingkungan tempat tinggalnya.

Reaksi Keluarga dan Rencana Lanjutan

Orang tua Rafi menyatakan bersyukur atas kesempatan yang diperoleh anaknya. Mereka berharap pengalaman itu menjadi bekal untuk melanjutkan pembinaan tanpa mengabaikan pendidikan formal. Pihak keluarga juga menegaskan pentingnya menjaga kesehatan dan kesiapan mental anak selama menjalani program yang padat.

Setelah kembali ke Indonesia, Rafi berencana melanjutkan latihan rutin bersama klub lokal sambil mengikuti kompetisi kelompok umur. Pengurus yayasan yang mengirimnya menyatakan akan memantau perkembangan anak tersebut dan membuka peluang untuk mengikuti program lanjutan jika memenuhi kriteria. Mereka juga berencana memperluas jangkauan seleksi ke daerah-daerah lain agar lebih banyak anak berbakat yang terjaring.

Sejumlah pihak menilai kisah semacam ini perlu ditindaklanjuti dengan kebijakan yang lebih sistematis. Tanpa dukungan pembinaan berkelanjutan, pengalaman singkat di luar negeri berisiko tidak berlanjut. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, klub, sekolah, dan komunitas dinilai menjadi kunci agar bakat anak-anak seperti Rafi tidak berhenti di satu perjalanan saja.

Hingga berita ini ditulis, Rafi masih menjalani rangkaian kegiatan pascaprogram, termasuk berbagi pengalaman kepada juniornya di sekolah sepak bola tempatnya berlatih. Ia menyatakan ingin terus bermain sepak bola dan bercita-cita menjadi pemain profesional yang membela tim nasional Indonesia.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Taufik Syahputra

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter