12, 2026
Nasional

Selain Makanan, Biaya Hunian Kuras Pendapatan Warga RI

Taufik Syahputra
Taufik Syahputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Selain Makanan, Biaya Hunian Kuras Pendapatan Warga RI

Biaya hidup di Indonesia terus meningkat, menjadi beban berat bagi mayoritas masyarakat. Meskipun inflasi makanan sering menjadi sorotan utama, biaya hunian sebenarnya menjadi penguras pendapatan yang lebih signifikan bagi sebagian besar keluarga. Data terkini menunjukkan bahwa pengeluaran untuk tempat tinggi telah mengalahai alokasi untuk kebutuhan pangan di banyak daerah, terutama kota-kota besar.

Beban Biaya Hunian Menjadi Tertinggi

Survei terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa pengeluaran untuk perumahan, air, listrik, bahan bakar, dan pemeliharaan rumah tangga secara konsisten menempati posisi teratas dalam anggaran beli rumah tangga di Indonesia. Rata-rata, keluarga menghabiskan 30-40% dari total pendapatan mereka hanya untuk kebutuhan hunian, jauh di atas proporsi yang diperkirakan secara internasional.

Dalam kota-kota metropolitan seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung, proporsi ini bisa mencapai 50% atau lebih bagi keluarga berpenghasilan menengah. Angka ini menjadikan biaya hunian sebagai penguras terbesar pendapatan, bahkan melebihi pengeluaran untuk makanan yang rata-rata sekitar 25-30% dari total pengeluaran.

Faktor Pendorong Kenaikan Biaya Hunian

Beberapa faktor turut andil dalam kenaikan biaya hunian yang signifikan. Pertama, harga properti terus mengalami apresiasi, terutama di pusat kota. Keterbatasan lahan dan tingginya permintaan menciptakan pasar yang kompetitif, mendorong harga jual dan sewa ke tingkat yang tidak terjangkau bagi banyak calon pembeli atau penyewa.

Kedua, biaya konstruksi bangunan juga meningkat akibat kenaikan harga bahan material seperti besi, semen, dan kayu. Selain itu, biaya izin membangun dan biaya tukah yang semakin mahal turut mempertinggi harga akhir properti, baik yang dibangun developer maupun secara mandiri.

Ketiga, sistem pembiayaan perumahan yang belum seluruhnya memungkinkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah juga menjadi hambatan. Meski terdapat program subsidi perumahan dari pemerintah, aksesnya masih terbatas dan seringkali tidak sesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Dampak pada Kualitas Hidup Masyarakat

Beban biaya hunian yang berat berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat. Keluarga seringkali harus mengorbankan kebutuhan pokok lain seperti kesehatan, pendidikan, dan tabungan demi membayar sewa atau cicilan rumah. Situasi ini menciptakan lingkaran setan di mana sulit untuk menyisihkan dana untuk masa depan karena sebagian besar pendapatan langsung terserap oleh biaya tempat tinggal.

Bagi generasi muda, keterjangkauan hunian menjadi tantangan besar. Banyak pekerja profesional muda harus menunda rencana menikah atau memiliki anak hanya karena sulit menemukan hunian yang sesuai dengan kemampuan finansial. Di sisi lain, para pekerja informal seringkali terpaksa menempati permukiman liar (kumuh) yang tidak layak karena tidak mampu menyewa atau membeli rumah yang memenuhi standar.

Upaya Mengatasi Masalah Keterjangkauan Hunian

Pemerintah telah berupaya memberikan berbagai solusi untuk mengatasi masalah keterjangkauan hunian. Program Rumah Susun (Rusun) dan Rumah Sederhana (Rusunawa) telah dibangun di berbagai daerah untuk memberikan alternatif hunian terjangkau. Selain itu, pemerintah juga memberikan insentif fiskal seperti Pajak Penghasilan (PPh) yang lebih rendah bagi pembeli rumah pertama.

Swasta juga turut berpartisipasi melalui pengembangan proyek perumahan dengan harga terjangkau yang seringkali berlokasi di pinggiran kota. Meski demikian, aksesibilitas terhadap fasilitas umum seperti transportasi, kesehatan, dan pendidikan di area-area tersebut masih menjadi tantangan tersendiri.

Tantangan Masa Depan

Menghadapi tantangan keterjangkauan hunian membutuhkan pendekatan holistik yang melibatkan berbagai pihak. Perencanaan tata ruang yang lebih baik diperlukan untuk mengoptimalkan penggunaan lahan dan mencegah monopoli lahi oleh pihak tertentu. Selain itu, perlu adanya kebijakan yang lebih inklusif yang memungkinkan semua lapisan masyarakat, termasuk pekerja informal, untuk mendapatkan akses terhadap perumahan layak.

Transformasi digital dalam sektor properti juga dapat menjadi solusi alternatif melalui platform yang menghubungkan penyedia hunian dengan calon penghuni secara langsung, mengurangi biaya perantara. Namun, keamanan hukum dan perlindungan bagi kedua belah pihak tetap menjadi prioritas utama dalam pengembangan model bisnis baru ini.

Secara fundamental, masalah keterjangkauan hunian mencerminkan ketimpangan ekonomi yang lebih luas dalam masyarakat. Tanpa solusi yang komprehensif dan berkelanjutan, beban biaya tempat tinggal akan terus menguras pendapatan masyarakat dan menghambat upaya untuk mencapai kesejahteraan yang lebih adil dan merata.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Taufik Syahputra

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter