Bak Tsunami, Banjir Bandang Hantam Nepal dan Hancurkan Puluhan Rumah
NEPAL - Banjir bandang yang terjadi di wilayah pegunungan Nepal menghantam sejumlah desa dengan kekuatan dahsyat, menghancurkan puluhan rumah dan memaksa ratusan warga mengungsi. Bencana alam yang disebut mirip tsunami ini terjadi pada Sabtu (19/8) dini hari waktu setempat, mengakibatkan korban jiwa dan kerugian materiil yang signifikan.
Menurut laporan awal dari Badan Penanggulangan Bencana Nepal (NDMA), banjir bandang yang mengalir dari pegunungan menuju lembah telah menghancurkan 32 rumah di distrik Sindhupalchowk dan 28 rumah di distrik Nuwakot. Ratusan rumah lainnya mengalami kerusakan berat akibat terjangan air yang berdebu dan batu-batan besar yang ikut terbawa arus.
Kepala NDMA, Ganesh Raj Pokharel, mengatakan bahwa banjir ini terjadi secara tiba-tiba dan dengan kecepatan luar biasa. "Warga terjaga dari tidur mereka oleh suara gemuruh yang luar biasa. Dalam hitungan menit, air telah masuk ke rumah mereka dengan ketinggian mencapai tiga meter. Ini benar-benar mirip tsunami," ujarnya dalam konferensi pers di Kathmandu, ibu kota Nepal.
Dampak Bencara dan Evakuasi Massal
Dampak bencana terasa sangat menghancurkan di wilayah terdampak. Selain kerusakan infrastruktur hunian, banjir juga mengakibatkan terputurnya akses jalan menuju beberapa desa, sehingga tim penyelamat kesulitan untuk mencapai lokasi. Jembatan-jembatan kecil di sepanjang aliran sungai juga hanyut terbawa arus memperparah isolasi wilayah.
Pihak berwenang telah mengungsi lebih dari 500 warga ke pusat pengungsian sementara yang disiapkan di sekolah dan gedung pemerintah setempat. Warga pengungsi mengungkapkan kepanikan mereka saat terjangan air datang tanpa peringatan sebelumnya.
"Saya terjaga oleh suara yang tak biasa. Ketika saya meluar dari rumah, air sudah sampai ke pinggang. Saya berlari menyelamatkan diri dengan membawa anak-anak, meninggalkan semua barang di rumah. Sekarang kami tidak punya apa-apa," kata Maya Tamang, salah seorang korban bencana di desa Melamchi.
Upaya Penyelamatan dan Penanganan Darurat
Tentara Nepal bersama tim sukarela telah dikerahkan untuk membantu evakuasi korban dan distribusi bantuan darurat. Pemerintah pusat telah mengumumkan status darurat di wilayah terdampak dan mengalokasikan dana sebesar 50 juta rupee Nepal (sekitar 377 ribu dolar AS) untuk penanganan darurat.
Menteri Dalam Negeri Nepal, Ravi Shankar Das, mengatakan bahwa tim penyelamat bekerja keras untuk mencari warga yang masih hilang. "Kami khawatir ada beberapa warga yang masih terjebak di rumah mereka atau di area terpencil. Tim kami sedang melakukan pencarian intensif," ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga telah mengirim tim kesehatan ke pusat pengungsian untuk mencegah penyebaran penyakit. Di beberapa area, air bersih menjadi langka karena sistem pasokan terhambat oleh bencana.
Faktor Penyebab dan Ancaman Berulang
Menurut para ahli, banjir bandang di Nepal sering terjadi akibat curah hujan ekstrem dan kondisi geografis yang rentan. Nepal, yang terletak di pegunungan Himalaya, sangat rentan terhadap bencana alam seperti banjir, tanah longsor, dan gempa bumi.
"Pada musim hujan seperti sekarang, tanah di pegunungan menjadi jenuh air dan rawan longsor. Apabila terjadi hujan deras, air bisa mengalir dengan cepat membawa batu-batu dan lumpur, membentuk banjir bandang yang dahsyat," jelas Dr. Prakash Shrestha, seorang ahli hidrologi dari Universitas Tribhuvan.
Pemerintah Nepal telah berencana untuk meningkatkan sistem peringatan dini bencana dan memperkuat infrastruktur di daerah rawan banjir. Namun, keterbatasan anggaran dan tantangan geografis menjadi hambatan utama dalam implementasi program tersebut.
Korban bencana masih membutuhkan bantuan makanan, air bersih, tempat tinggal sementara, dan perawatan kesehatan. Pemerintah mengimbau masyarakat dan organisasi kemanusiaan untuk membantu korban banjir bandang di Nepal melalui donasi dan dukungan logistik.
Komentar (0)