11, 2026
Nasional

Siswa di Prafi Dilatih Jadi Konselor Sebaya, Belajar Kenali Emosi

Remaja di Prafi, Manokwari, dilatih jadi konselor sebaya untuk bantu teman menghadapi masalah. Program ini tingkatkan rasa percaya diri dan kreativitas mereka.]]>

Nadia Santoso
Nadia Santoso Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Siswa di Prafi Dilatih Jadi Konselor Sebaya, Belajar Kenali Emosi

Siswa di Prafi Dilatih Jadi Konselor Sebaya, Belajar Kenali Emosi

Program pelatihan konselor sebaya di SMA Negeri Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, menunjukkan hasil positif dalam membantu siswa mengelola emosi dan masalah psikologis. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini melibatkan 40 siswa kelas X dan XI yang dipilih berdasarkan kriteria kematangan emosional dan kemampuan komunikasi.

Kepala SMA Negeri Prafi, Bapak Yohanis Mandenas, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk memberikan dukungan psikologis kepada siswa oleh teman sebaya yang telah dilatih profesional. "Dalam lingkungan sekolah, siswa seringkali lebih nyaman berbagi masalah dengan teman sebaya daripada dengan guru atau konselor profesional. Program ini memanfaatkan dinamika tersebut untuk membantu siswa yang membutuhkan," ujarnya.

Program Pelatihan Komprehensif

Pelatihan yang diselenggarakan oleh tim konselor sekolah dan psikolog dari Universitas Papua ini mencakup berbagai materi penting. Peserta diajarkan tentang dasar-dasar psikologi remaja, pengenali emosi, teknik komunikasi efektif, cara mendengarkan aktif, dan proses referensi jika masalah yang dihadapi melebihi kapasitas sebagai konselor sebaya.

"Kami tidak melatih siswa menjadi psikolog profesional, melainkan memberikan mereka keterampilan dasar untuk mendengar dan memahami masalah teman sejawatnya. Jika ditemukan masalah serius, siswa akan diajak merujuk ke pihak yang lebih kompeten," jelas salah satu fasilitator, Siti Aminah, M.Psi.

Selama pelatihan, peserta juga melakukan simulasi peran untuk berlatih menangani berbagai situasi seperti stres akademis, konflik interpersonal, masalah keluarga, dan gejala depresi ringan. Simulasi ini membantu siswa mempersiapkan diri secara psikologis sebelum memulai tugas sebagai konselor sebaya.

Tanggapan Positif dari Siswa

Beberapa siswa yang mengikuti pelatikan ini menyatakan merasa terbantu dan siap membantu teman-temannya. Maria, salah satu peserta pelatihan dari kelas XI, mengungkapkan bahwa ia sering melihat teman-temannya yang mengalami masalah psikologis namun tidak tahu harus berbagi kepada siapa.

"Dulu ketika ada teman yang bersedih atau stres, saya hanya bisa memberikan ucapan semoga saja. Tapi sekarang saya bisa melakukan lebih dari itu. Saya bisa mendengarkan dengan penuh perhatian dan membantu mereka menemukan solusi sederhana untuk masalah yang mereka hadapi," kata Maria dengan penuh semangat.

Sementara itu, Daniel, siswa kelas X, menambahkan bahwa pelatihan ini telah membuka matanya akan pentingnya kesehatan mental. "Sebelumnya saya pikir masalah psikologis itu hal remeh, tapi sekarang saya sadar betapa pentingnya perhatian dan dukungan emosional bagi teman-teman kita," ujarnya.

Dampak bagi Iklim Sekolah

Menurut observasi tim sekolah, sejak diberlakukannya program ini, terjadi peningkatan signifikan dalam keterbukaan siswa dalam menyampaikan masalah mereka. Hal ini tercermin dari banyaknya siswa yang menghampiri konselor sebaya untuk berdiskusi tentang masalah pribadi atau akademis.

"Kami melihat penurunan insiden bullying dan tawuran di sekolah. Ini mungkin karena siswa sekarang memiliki saluran untuk mengungkapkan emosi negatif mereka secara konstruktif," papar Bapak Yohanis.

Konselor sekolah, Ibu Rina Kartika, menambahkan bahwa program ini juga membantu mengurangi beban tugas para guru BK. "Siswa seringkali lebih mudah berbicara dengan teman sebaya. Dengan adanya konselor sebaya, kami bisa lebih fokus menangani masalah-masalah yang membutuhkan intervensi profesional," tuturnya.

Rencana Pengembangan Program

Kepala sekolah berencana mengembangkan program ini ke tingkat yang lebih lanjut dengan melibatkan lebih banyak siswa dan meningkatkan kualitas pelatihan. "Kami berencana membentuk tim konselor sebaya yang beranggotakan minimal dua siswa per kelas. Selain itu, kami juga akan mengadakan pelatihan lanjutan untuk konselor sebaya senior," papar Bapak Yohanis.

Program ini juga rencananya akan dikembangkan dalam bentuk kerjasama dengan sekolah-sekolah lain di Kabupaten Manokwari untuk membentuk jaringan dukungan psikologis bagi remaja di wilayah tersebut. "Kesehatan mental remaja adalah tanggung jawab kita bersama. Dengan program ini, kami berharap bisa menciptakan generasi yang lebih sehat secara mental dan emosional," tutupnya.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Nadia Santoso

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter