31, 2026
Nasional

Soal Deklarasi Sumpah Pemuda, Polda Metro Jaya Sampaikan Permohonan Maaf

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2019/12/09/5dedf4373fe8d-gedung-polda-metro-jaya-sudirman_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Dian Simanjuntak
Dian Simanjuntak Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Polda Metro Jaya Minta Maaf atas Isu Deklarasi Sumpah Pemuda

Polda Metro Jaya secara resmi menyampaikan permohonan maaf atas munculnya isu deklarasi sumpah pemuda yang berpotensi menimbulkan keresahan di masyarakat. Permohonan maaf ini disampaikan oleh Kepala Polda Metro Jaya, Irjen Pol Fadil Imran, dalam sebuah konferensi pers yang digelar pada Rabu (5/12/2019).

Menurut Fadil, isu tersebut muncul akibat adanya interpretasi yang salah terhadap kegiatan yang digelar oleh Polda Metro Jaya dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda. Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan untuk membangun semangat persatuan dan kesatuan di kalangan aparatur kepolisian, bukan untuk mengganti atau memodifikasi sejarah Indonesia.

"Kami mohon maaf atas kejadian ini. Tidak ada niat untuk mengubah atau mengganti sejarah Sumpah Pemuda. Tujuan kami hanya membangun kebersamaan dan semangat kepolisian yang berintegritas," ujar Fadil dalam konferensi pers tersebut.

Kronologi Munculnya Isu Deklarasi Sumpah Pemuda

Isu deklarasi sumpah pemuda muncul setelah Polda Metro Jaya menggelar sebuah acara yang disebut "Deklarasi Kepolisian" dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 2019. Dalam acara tersebut, para perwira kepolisian membacakan deklarasi yang isinya diyakini oleh sebagian masyarakat sebagai pengganti Sumpah Pemuda.

Video yang menampilkan acara tersebut tersebar luas di media sosial dan memicu reaksi keras dari berbagai kalangan. Banyak pihak menilai bahwa tindakan Polda Metro Jaya merupakan bentuk pengabaian terhadap sejarah dan jasa para pahlawan yang telah mengucapkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Reaksi tersebut semakin memanas ketika Kepala Polda Metro Jaya saat itu, Irjen Pol Mochamad Iriawan alias Irwan, dalam konferensi pers menyatakan bahwa deklarasi tersebut merupakan "penegasan kembali" sumpah pemuda dalam konteks kepolisian modern. Pernyataan ini semakin memperkuat persepsi bahwa Polda Metro Jaya bermaksud mengganti Sumpah Pemuda asli.

Respon dari Berbagai Pihak

Munculnya isu ini memicu berbagai respons dari berbagai kalangan. Sejumlah sejarawan dan aktivis mengecam tindakan Polda Metro Jaya. Mereka menilai bahwa kegiatan tersebut menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap sejarah nasional oleh aparat kepolisian.

"Sumpah Pemuda adalah warisan sejarah yang sangat sakral bagi bangsa Indonesia. Tidak ada pihak yang berhak mengganti atau memodifikasinya," kata seorang sejarawan yang meminta namanya tidak disebutkan.

Di sisi lain, ada juga pihak yang meminta agar isu ini tidak dipolitisasi. Mereka berpendapat bahwa mungkin ada kesalahpahaman dalam interpretasi acara tersebut dan seharusnya ada dialog untuk menjelaskan maksimal tujuan kegiatan tersebut.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga ikut memberikan respons terhadap isu ini. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan bahwa Polda Metro Jaya harus lebih hati-hati dalam menyampaikan pesan-pesan yang berkaitan dengan sejarah nasional.

Tindakan Polda Metro Jaya

Setelah mendapat berbagai kritik, Polda Metro Jaya akhirnya mengambil langkah untuk mengklarifikasi isu tersebut. Polda menggelar rapat internal untuk mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukan.

Hasil evaluasi tersebut menunjukkan bahwa memang ada kesalahan dalam penyampaian pesan dan pelaksanaan kegiatan. Pihak kepolisian mengakui bahwa deklarasi yang dibacakan dalam acara tersebut tidak tepat karena menggunakan istilah yang mirip dengan Sumpah Pemuda asli.

"Kami menyadari bahwa ada kesalahan dalam penyampaian pesan. Kami tidak bermaksud mengabaikan atau mengganti Sumpah Pemuda. Itu adalah kesalahan yang kami akui," ujar Fadil Imran sebagai Kepala Polda Metro Jaya yang baru.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban, Polda Metro Jaya juga menghapus video acara tersebut dari kanal media sosial resmi mereka. Selain itu, mereka juga berjanji akan lebih hati-hati dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan sejarah nasional di masa depan.

Pelajaran dari Kejadian

Kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua pihak, terutama bagi aparat kepolisian dalam menyampaikan pesan-pesan publik. Terutama pesan-pesan yang berkaitan dengan sejarah dan identitas nasional yang sangat sensitif.

Sejarawan menekankan bahwa penting bagi semua pihak, termasuk aparat kepolisian, untuk memiliki pemahaman yang mendalam tentang sejarah bangsa. Sejarah bukan hanya sekadar fakta masa lalu, tetapi juga bagian dari identitas dan jati diri bangsa.

"Sejarah adalah fondasi bangsa. Jika kita tidak menghormati sejarah kita, maka kita tidak akan memiliki arah yang jelas untuk masa depan," ujar seorang akademisi yang mempelajari sejarah Indonesia.

Dengan menyampaikan permohonan maaf, Polda Metro Jaya berharap dapat menyelesaikan polemik ini dan kembali fokus pada tugas utama menjaga keamanan dan ketertiban di ibu kota. Polda juga berharap kejadian ini tidak mengulang di masa depan dengan adanya pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya menjaga keutuhan sejarah nasional.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Dian Simanjuntak

Peneliti muda yang tertarik pada data, inflasi, dan daya beli masyarakat.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter