Aksi suporter Persija Jakarta, Jakmania, membentangkan spanduk bertuliskan "All Eyes on Karhutla" pada laga melawan Arema FC berujung dihentikan petugas. Steward yang berjaga di area tribun mendatangi kelompok suporter dan meminta spanduk tersebut segera diturunkan. Alasan yang disampaikan kepada suporter sederhana: klub berpotensi terkena denda.
Momen itu terekam dalam video yang beredar luas di media sosial. Spanduk berukuran cukup besar terlihat dibentangkan di salah satu sektor tribun penonton, tepat ketika pertandingan berlangsung. Tak lama kemudian, sejumlah steward mendekat, berbincang dengan suporter yang memegang spanduk, lalu gulungan kain itu diturunkan dan dilipat kembali.
"Nanti kena denda," ujar salah seorang steward kepada suporter, seperti terdengar dalam rekaman yang beredar. Kalimat itu menjadi penjelasan singkat mengapa spanduk bertema kebakaran hutan dan lahan tersebut tidak dibiarkan tampil lebih lama di tribun.
Alasan Steward Menurunkan Spanduk
Steward bukan pihak yang menentukan besaran sanksi. Tugas mereka di stadion adalah memastikan pertandingan berjalan aman, tertib, dan sesuai regulasi yang berlaku, termasuk aturan soal atribut serta materi yang dibawa penonton ke dalam stadion. Ketika sebuah spanduk dinilai menyalahi ketentuan, steward berkewajiban menindaklanjutinya sebelum pertandingan berakhir.
Dalam penyelenggaraan kompetisi sepak bola nasional, klub memang menanggung konsekuensi atas perilaku penontonnya. Regulasi disiplin yang diterapkan operator liga dan federasi mengatur sanksi bagi klub apabila suporter terbukti melanggar, mulai dari teguran, denda finansial, penutupan sebagian tribun, hingga pertandingan tanpa penonton. Karena itu, permintaan steward agar spanduk diturunkan umumnya merupakan upaya pencegahan agar klub tidak masuk ke proses pemeriksaan komite disiplin.
Sejumlah pihak menilai instruksi tersebut datang dari kebutuhan prosedural, bukan penilaian atas isi pesan spanduk. Steward di lapangan bekerja berdasarkan arahan dan daftar ketentuan yang sudah ditetapkan sebelum pertandingan dimulai.
Spanduk Non-Sepak Bola dan Batas Aturan
Persoalan utama dalam kasus ini bukan sekadar ukuran spanduk, melainkan isi pesannya. Atribut yang dibawa ke stadion diarahkan untuk mendukung tim, bukan untuk menyampaikan kampanye di luar konteks pertandingan. Regulasi kompetisi umumnya melarang materi bernuansa politik, kampanye, ujaran kebencian, serta pesan yang dinilai tidak berkaitan dengan pertandingan.
Spanduk "All Eyes on Karhutla" berada di wilayah abu-abu. Isinya bukan dukungan kepada klub, bukan pula serangan kepada pihak lain. Pesan itu menyoroti bencana lingkungan yang berulang setiap tahun di Indonesia. Namun karena berada di luar tema pertandingan, panitia dan steward menempatkannya sebagai materi yang tidak sesuai ketentuan.
Pendekatan serupa pernah diterapkan pada berbagai spanduk bertema sosial yang muncul di tribun stadion dalam beberapa tahun terakhir. Pengelolaan atribut di stadion umumnya dilakukan secara seragam: setiap materi yang tidak lolos penyaringan dianggap berpotensi menimbulkan sanksi, terlepas dari muatan pesannya.
Isu Karhutla di Balik Spanduk
Kebakaran hutan dan lahan merupakan persoalan yang berulang di Indonesia, terutama pada musim kemarau. Titik panas muncul di sejumlah provinsi, memicu kabut asap, menurunkan kualitas udara, dan mengganggu aktivitas masyarakat. Dampaknya tidak jarang melintasi batas daerah bahkan negara tetangga.
Format "All Eyes on..." sendiri merupakan pola kampanye yang lazim digunakan warganet untuk menarik perhatian publik internasional terhadap suatu isu. Pola itu kemudian diadopsi suporter sepak bola sebagai cara menyuarakan kepedulian tanpa mengganggu jalannya pertandingan.
Bagi sebagian suporter, stadion dipandang sebagai ruang publik yang sah untuk menyampaikan keprihatinan. Bagi penyelenggara, stadion adalah area yang diatur ketat oleh regulasi kompetisi. Dua pandangan itu bertemu di titik yang sama: tribun penonton.
Reaksi Jakmania dan Warganet
Video permintaan penurunan spanduk itu memicu beragam tanggapan di media sosial. Sebagian suporter menyayangkan sikap petugas, dengan alasan pesan tentang karhutla bukan kampanye politik dan tidak merugikan siapa pun. Mereka menilai kepedulian terhadap bencana lingkungan seharusnya tidak dipersoalkan di stadion.
Sebagian warganet lain menilai langkah steward dapat dipahami. Menurut mereka, petugas hanya menjalankan kewajiban menjaga agar klub tidak dirugikan oleh sanksi administratif. Kritik kemudian diarahkan bukan kepada steward, melainkan kepada regulasi yang dinilai terlalu kaku dalam memilah materi yang boleh dan tidak boleh dibawa ke stadion.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari manajemen Persija maupun pihak penyelenggara kompetisi mengenai insiden tersebut.
Peran Steward di Stadion
Steward merupakan petugas yang direkrut penyelenggara untuk membantu pengamanan dan pelayanan penonton di dalam stadion. Tugas mereka mencakup pemeriksaan atribut di pintu masuk, pengaturan arus penonton, pencegahan kepadatan di tribun, serta penyampaian informasi kepada suporter. Dalam banyak kasus, steward menjadi pihak pertama yang berhadapan langsung dengan suporter ketika terjadi pelanggaran.
Karena berada di garis depan, steward kerap menerima reaksi spontan dari penonton, baik berupa protes maupun dukungan. Posisi itu menuntut kemampuan berkomunikasi, sebab keputusan yang diambil di lapangan bisa berdampak luas, termasuk pada citra penyelenggaraan pertandingan dan hubungan klub dengan pendukungnya.
Insiden spanduk "All Eyes on Karhutla" memperlihatkan bagaimana pertemuan antara kebebasan berekspresi suporter dan kepatuhan pada regulasi kompetisi masih menjadi persoalan yang belum menemukan titik seimbang. Di satu sisi, suporter ingin menyuarakan hal yang mereka anggap penting. Di sisi lain, penyelenggara terikat aturan yang menempatkan klub sebagai pihak yang menanggung risiko.
Komentar (0)