18, 2026
Nasional

Suporter Ricuh di Banten, Pelatih Persita Ingatkan Tragedi Kanjuruhan

Kericuhan suporter pecah saat di Banten International Stadium (BIS). Pelatih Persita Tangerang Carlos Pena mengingatkan Tragedi Kanjuruhan.]]>

Nadia Santoso
Nadia Santoso Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Suporter Ricuh di Banten, Pelatih Persita Ingatkan Tragedi Kanjuruhan

Suporter Ricuh di Banten, Pelatih Persita Ingatkan Tragedi Kanjuruhan

Tragedi Kanjuruhan masih menjadi peringatan bagi seluruh pihak terkait sepak bola Indonesia. Terkini, insiden ricuh yang melibatkan suporter Persita Tangerang dan Persikabo 1973 di Stadion PT Pamengsi, Kabupaten Tangerang, Sabtu (15/7/2023) kembali mengingatkan akan pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban di tribun.

Insiden tersebut terjadi saat laga uji coba antara Persita melawan Persikabo 1973. Konflik pecah di tribun utara stadion yang didominasi oleh suporter Persikabo. Laga harus dihentikan sementara sekitar menit ke-80 karena kondisi yang tidak kondusif. Beban suporter kedua tim saling melempar batu dan benda keras lainnya hingga memaksa wasit untuk menghentikan pertandingan.

Pelatih Persita, Widodo Cahyono Putro, menegaskan bahwa insiden tersebut adalah pengingat akan pentingnya menjaga keamanan di stadion. Ia khawatir jika situasi tidak segera dikendalikan, bisa berujung pada tragedi serupa yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang pada Oktober 2022 lalu yang menewas puluhan suporter Arema FC.

Kronologi Insiden di Stadion PT Pamengsi

Laga uji coba yang bertajuk "Piala Wali Kota Tangerang" ini berlangsung cukup seng hingga menit ke-80. Pada babak kedua, Persita unggul 2-1 atas Persikabo 1973. Konfeks bermula ketika suporter Persikabo tidak terima dengan keputusan wasit yang dianggap tidak adil.

Suporter Persikabo melempar berbagai benda ke arah lapangan, termasuk botol air dan batu. Tim security yang berada di stadion terlihat kesulitan mengendalikan situasi. Wasit yang memimpin laga, M. Fauzi, akhirnya memutuskan untuk menghentikan pertandingan sementara.

Ketika wasit memberi isyarat untuk melanjutkan laga, situasi kembali memanas. Suporter Persita yang berada di tribun utara merespons dengan melempar benda keras ke arah tribun suporter Persikabo. Kedua kubu suporter akhirnya bentrok di area penonton.

Respons dari Pihak Terkait

Manajer Persita, Dedi Sulaeman, meminta maaf atas insiden yang terjadi. Ia mengakui bahwa ada kekelirahan dari pihaknya dalam mengantisipasi aksi suporter. "Kami minta maaf atas apa yang terjadi. Kami akan mengevaluasi kinerja keamanan di stadion untuk menghindari insiden serupa di masa depan," ujarnya.

Sementara itu, Kabid P2P Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Yusri Yunus, mengatakan bahwa pihaknya sudah membawa pulang beberapa suporter yang terlibat dalam konflik untuk dimintai keterangan. "Kami sedang melakukan penyelidikan untuk mengidentifikasi para pelaku. Tindakan ini tidak akan kami biarkan berlarut-larut," kata Yusri.

PT LIB, sebagai operator Liga 1, menyatakan akan mengambil langkah tegas terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab. "Kami akan menggelar rapat dengan seluruh pihak terkait untuk mengevaluasi insiden ini. Keamanan dan kenyamanan penonton adalah prioritas utama," ujar Juru Bicara PT LIB, Ahmad Hidayat.

Ingatkan Tragedi Kanjuruhan

Pelatih Persita, Widodo Cahyono Putro, menunjukkan kecemasannya terhadap insiden tersebut. Ia mengingatkan bahwa tragedi Kanjuruhan harus menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak.

Widodo menambahkan bahwa komunikasi antara suporter, tim manajemen, dan aparat keamanan menjadi kunci untuk mencegah insiden serupa. "Kita harus bisa berkomunikasi dengan baik. Suporter juga harus sadar bahwa mereka bagian dari tim dan harus mendukung tim secara positif," tambahnya.

Tindakan Pencegahan ke Depan

Demi mencegah insiden serupa, PT LIB berencana untuk menggenjot penerapan protokol keamanan di seluruh stadion. Beberapa langkah yang akan diambil antara lain:

Pertama, meningkatkan jumlah personel keamanan dan satuan pengamanan (Satpam) di setiap laga. Kedua, memperketat pemeriksaan barang-barang yang dibawa oleh penonton. Ketiga, memastikan ada komunikasi yang baik antara aparat keamanan, tim manajemen, dan suporter.

Menurut Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, insiden di Banten harus menjadi pembelajaran bagi seluruh elemen sepak bola Indonesia. "Kita tidak ingin melihat lagi tragedi seperti Kanjuruhan. Semua pihak harus bekerja sama untuk menjaga keamanan dan kenyamanan di stadion," ujar Erick.

Insiden di Stadion PT Pamengsi kembali menunjukkan bahwa masalah keamanan di stadion masih menjadi tantangan besar bagi sepak bola Indonesia. Dengan terusnya insiden-insiden ricuh, diperlukan komitmen yang kuat dari seluruh pihak untuk mewujudkan atmosfer pertandingan yang aman dan nyaman untuk semua penikmat sepak bola.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Nadia Santoso

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter