Sebuah survei terbaru mengungkapkan bahwa mayoritas pengemudi ojek online (ojol) di Indonesia terjun ke sektor transportasi berbasis aplikasi bukan karena pilihan karier, melainkan akibat sempitnya peluang kerja formal. Temuan ini memperlihatkan bahwa pekerjaan sebagai pengemudi ojol telah berubah menjadi semacam jaring pengaman terakhir bagi angkatan kerja yang gagal terserap industri formal.
Hampir Tiga Perempat Responden Masuk Ojol karena Keterpaksaan
Survei tersebut mencatat bahwa 73 persen responden mengaku menjadi pengemudi ojol karena tidak memiliki pilihan lain setelah kesulitan mendapatkan pekerjaan tetap. Hanya sebagian kecil yang menyatakan bahwa mereka memang sejak awal bercita-cita bekerja di sektor transportasi daring. Angka itu menunjukkan bahwa keputusan untuk "narik" — istilah yang lazim digunakan para pengemudi — lebih banyak didorong oleh kebutuhan bertahan hidup ketimbang daya tarik profesi itu sendiri.
Responden yang terlibat dalam survei ini berasal dari berbagai kota besar dan daerah penyangga, dengan latar belakang pendidikan beragam, mulai dari lulusan sekolah menengah atas hingga sarjana. Fakta bahwa lulusan perguruan tinggi turut masuk ke dalam kelompok ini memperkuat indikasi bahwa persoalan bukan sekadar soal tingkat pendidikan, melainkan soal ketersediaan lapangan kerja yang memadai.
Rendahnya Serapan Kerja Formal Jadi Akar Masalah
Ekonom menilai fenomena ini berkaitan erat dengan lambatnya pertumbuhan sektor formal di Indonesia. Setiap tahun, jutaan angkatan kerja baru masuk ke pasar kerja, sementara lapangan kerja tetap yang tersedia tidak tumbuh secepat itu. Akibatnya, sektor informal, termasuk transportasi daring, menyerap kelebihan tenaga kerja tersebut.
Kondisi itu diperparah oleh gelombang pemutusan hubungan kerja di berbagai industri dalam beberapa tahun terakhir. Banyak pekerja yang kehilangan pekerjaan kemudian beralih menjadi pengemudi ojol untuk memenuhi kebutuhan harian. Sektor ini relatif mudah dimasuki karena hanya membutuhkan kendaraan, ponsel, dan keanggotaan pada platform aplikasi.
Namun, kemudahan masuk tersebut tidak diikuti oleh jaminan kesejahteraan. Sebagian besar pengemudi berstatus sebagai mitra, bukan pekerja tetap, sehingga tidak memperoleh hak-hak dasar seperti upah minimum, jaminan sosial yang utuh, maupun pesangon. Pendapatan mereka sangat bergantung pada jumlah pesanan, tarif yang ditetapkan platform, serta potongan yang berlaku.
Pendapatan Tak Sebanding dengan Beban Kerja
Survei juga menyoroti bahwa banyak pengemudi harus bekerja lebih dari delapan jam sehari untuk mencapai pendapatan yang layak. Sebagian dari mereka mengaku harus menambah jam operasional pada malam hari atau akhir pekan demi menutupi biaya bahan bakar, perawatan kendaraan, cicilan, dan kebutuhan rumah tangga.
Beban kerja yang panjang itu menimbulkan risiko kesehatan dan keselamatan. Kelelahan saat berkendara meningkatkan potensi kecelakaan lalu lintas. Selain itu, ketidakpastian pendapatan membuat perencanaan keuangan jangka panjang menjadi sulit, termasuk untuk pendidikan anak, tabungan pensiun, maupun dana darurat.
Ketergantungan pada Aplikasi dan Tekanan Kompetisi
Persaingan antar pengemudi juga semakin ketat. Jumlah mitra yang terus bertambah di sejumlah wilayah membuat pesanan harus diperebutkan oleh lebih banyak orang. Sistem penilaian, bonus, dan insentif yang berubah-ubah membuat penghasilan sulit diprediksi. Ketergantungan penuh pada algoritma platform menempatkan pengemudi pada posisi tawar yang lemah.
Beberapa organisasi pengemudi mendesak adanya perbaikan tata kelola, termasuk transparansi perhitungan tarif dan potongan, serta keterlibatan perwakilan pengemudi dalam pengambilan keputusan yang menyangkut pendapatan mereka. Mereka juga meminta pemerintah memperkuat perlindungan sosial bagi pekerja sektor informal.
Implikasi bagi Kebijakan Ketenagakerjaan
Temuan survei ini menjadi cerminan bahwa persoalan ojol bukan semata isu transportasi, melainkan persoalan ketenagakerjaan yang lebih luas. Selama penciptaan lapangan kerja formal tidak dipercepat, sektor transportasi daring akan terus menampung tenaga kerja yang tidak tertampung di tempat lain.
Pemerintah menghadapi tantangan ganda: mendorong investasi yang mampu menciptakan pekerjaan layak, sekaligus memperbaiki kondisi kerja di sektor berbasis platform yang kini menampung jutaan orang. Tanpa langkah itu, pekerjaan sebagai pengemudi ojol akan tetap menjadi pilihan terakhir yang diambil bukan karena keinginan, tetapi karena keterpaksaan.
Komentar (0)