01, 2026
Nasional

Susunan Pengurus PBNU 2026-2031, Jusuf Kalla-Ma'ruf Amin jadi Mustasyar

Nadia Kusuma
Nadia Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Jakarta – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi menetapkan susunan kepengurusan periode 2026–2031. Dalam struktur yang baru saja diumumkan, sejumlah nama nasional masuk dalam jajaran Mustasyar atau dewan penasihat organisasi. Dua tokoh yang mencuri perhatian adalah mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan mantan Wakil Presiden Ma'ruf Amin.

Keduanya menempati posisi strategis dalam jajaran Mustasyar PBNU, sebuah lembaga yang bertugas memberikan pertimbangan dan nasihat kepada pengurus harian dalam menjalankan roda organisasi. Kehadiran figur-figur lintas pengalaman pemerintahan itu dinilai memperkuat posisi NU sebagai organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia dalam peta kebangsaan lima tahun ke depan.

Selain Jusuf Kalla dan Ma'ruf Amin, susunan Mustasyar juga diisi sejumlah kiai sepuh dan tokoh yang memiliki rekam jejak panjang di lingkungan Nahdlatul Ulama. Komposisi ini mencerminkan upaya PBNU menggabungkan kekuatan ulama, akademisi, serta tokoh publik yang memiliki pengaruh di tingkat nasional.

Struktur Kepengurusan Baru

Dalam susunan PBNU 2026–2031, posisi Rais Aam dan Ketua Umum tetap menjadi jabatan tertinggi dalam organisasi. Struktur kepengurusan dibagi ke dalam beberapa lembaga, antara lain Mustasyar, Ahlul Halli wal Aqdi, Syuriyah, dan Tanfidziyah. Pembagian ini mengikuti tradisi organisasi yang menempatkan aspek keagamaan dan aspek operasional secara seimbang.

Mustasyar berperan sebagai dewan penasihat yang memberikan arahan strategis. Sementara itu, Syuriyah bertanggung jawab pada bidang keagamaan, dan Tanfidziyah menjalankan fungsi eksekutif sehari-hari. Keberadaan tokoh-tokoh nasional di jajaran Mustasyar diharapkan menjembatani kepentingan organisasi dengan dinamika kebangsaan yang lebih luas.

Jusuf Kalla, yang pernah menjabat Wakil Presiden dua periode dan aktif dalam berbagai misi perdamaian, membawa pengalaman panjang di bidang pemerintahan, diplomasi, dan ekonomi. Sementara Ma'ruf Amin, yang juga merupakan ulama senior Nahdlatul Ulama, memiliki pemahaman mendalam tentang fikih, ekonomi syariah, dan kebijakan publik.

Respons dan Harapan

Masuknya kedua tokoh tersebut mendapat tanggapan positif dari sejumlah kalangan internal NU. Mereka menilai kolaborasi antara pengalaman pemerintahan dan kapasitas keulamaan akan memperkuat peran NU dalam menghadapi tantangan kebangsaan, mulai dari isu ekonomi, sosial, hingga kerukunan antarumat beragama.

Sejumlah pengurus juga menyebut bahwa susunan baru ini dirancang untuk mempercepat program-program prioritas organisasi. Di antaranya penguatan pendidikan pesantren, pemberdayaan ekonomi warga, serta penguatan moderasi beragama di tengah dinamika politik nasional yang terus berkembang.

Selain itu, PBNU menegaskan komitmennya menjaga marwah organisasi sebagai rumah besar umat Islam yang mengedepankan nilai-nilai wasathiyah atau jalan tengah. Prinsip ini menjadi landasan dalam setiap kebijakan yang diambil, termasuk dalam menyikapi persoalan kebangsaan dan hubungan antarkelompok.

Tantangan Lima Tahun ke Depan

Periode 2026–2031 diprediksi menjadi masa yang menantang bagi NU. Organisasi menghadapi berbagai persoalan, seperti transformasi digital, perubahan lanskap politik, hingga kebutuhan memperkuat kaderisasi di tingkat akar rumput. Kehadiran tokoh-tokoh berpengalaman di jajaran Mustasyar diharapkan mampu memberikan perspektif strategis dalam merespons perubahan tersebut.

Pengamat menilai komposisi kepengurusan yang menggabungkan ulama, akademisi, dan tokoh pemerintahan merupakan langkah tepat. Namun, efektivitas struktur baru akan sangat bergantung pada sinergi antara Mustasyar, Syuriyah, dan Tanfidziyah dalam menerjemahkan visi organisasi menjadi program nyata di lapangan.

Dengan susunan yang baru, PBNU diharapkan tetap menjadi kekuatan moral yang mampu menjembatani kepentingan umat dan kepentingan bangsa. Kehadiran Jusuf Kalla dan Ma'ruf Amin menjadi sinyal bahwa organisasi ini membuka ruang bagi kolaborasi lintas pengalaman demi kemaslahatan yang lebih luas.

Pengumuman susunan pengurus ini juga menjadi penanda dimulainya babak baru kepemimpinan Nahdlatul Ulama. Seluruh elemen organisasi kini dituntut bergerak bersama, menjaga tradisi, sekaligus menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan identitas ke-NU-an yang menjadi akar kekuatannya.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Nadia Kusuma

Fokus pada kesehatan anak, imunisasi, dan tumbuh kembang.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter