30, 2026
Ekonomi

Tanpa Disadari, 7 Kebiasaan Ini Bikin Harga Tiket Pesawat Makin Mahal

Ketahui tujuh kebiasaan yang membuat harga tiket pesawat mahal. Perbaiki cara memesan untuk mendapatkan tarif lebih hemat dan nyaman dengan Traveloka.]]>

Sandi Setiawan
Sandi Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Tanpa Disadari, 7 Kebiasaan Ini Bikin Harga Tiket Pesawat Makin Mahal

Tanpa Disadari, 7 Kebiasaan Ini Bikin Harga Tiket Pesawat Makin Mahal

Harga tiket pesawat sering kali menjadi pertimbangan utama bagi masyarakat sebelum merencanakan perjalanan. Banyak orang mengira mahalnya harga tiket ditentukan sepenuhnya oleh maskapai penerbangan, lonjakan permintaan musiman, atau fluktuasi harga avtur. Padahal, sejumlah kebiasaan yang dilakukan calon penumpang saat mencari dan membeli tiket justru turut mendorong harga yang harus dibayar menjadi lebih tinggi dari seharusnya.

Praktik penetapan harga tiket pesawat bekerja dengan mekanisme yang dinamis. Sistem maskapai menyesuaikan tarif berdasarkan permintaan, sisa kursi, waktu pembelian, hingga perilaku pencarian pengguna. Artinya, semakin dekat waktu keberangkatan dan semakin tinggi minat pasar, semakin mahal harga yang ditawarkan. Tanpa disadari, pola kebiasaan penumpang memperkuat kondisi tersebut.

1. Menunda Pembelian Hingga Mendekati Jadwal Keberangkatan

Kebiasaan paling umum adalah menunggu sampai waktu keberangkatan semakin dekat. Sistem maskapai umumnya memberlakukan tarif berjenjang. Ketika kursi dengan harga murah sudah habis terjual, kategori tarif berikutnya otomatis lebih mahal. Penumpang yang baru membeli tiket beberapa hari sebelum berangkat hampir selalu berhadapan dengan harga tertinggi. Pada rute populer, selisih harga antara pembelian awal dan pembelian mendadak bisa mencapai puluhan persen.

2. Terlalu Sering Mengulang Pencarian pada Situs yang Sama

Melakukan pencarian berulang untuk rute dan tanggal yang sama dapat memicu kenaikan harga. Sejumlah platform pemesanan dan sistem maskapai menggunakan data permintaan untuk menyesuaikan tarif secara real time. Aktivitas pencarian yang intensif pada satu rute menunjukkan tingginya minat, sehingga harga yang ditampilkan dapat ikut naik. Kebiasaan membuka dan menutup aplikasi berkali-kali tanpa tujuan jelas justru memperbesar risiko ini.

3. Membeli Tiket untuk Satu Orang dalam Beberapa Transaksi

Sebagian orang memesan tiket secara terpisah untuk anggota keluarga atau rombongan. Cara ini sering kali membuat biaya lebih mahal. Ketika pemesanan dilakukan satu per satu, kursi dengan tarif murah bisa habis di transaksi pertama, sehingga penumpang berikutnya harus membayar tarif yang lebih tinggi. Memesan dalam satu transaksi untuk seluruh rombongan biasanya lebih efisien dari sisi harga.

4. Memilih Jadwal Penerbangan yang Paling Diminati

Jam keberangkatan berpengaruh besar terhadap harga. Penerbangan pagi hari dan sore hari menjelang pulang kerja menjadi favorit penumpang bisnis maupun wisatawan. Karena permintaan tinggi, maskapai menetapkan tarif lebih mahal pada jam-jam tersebut. Penumpang yang bersikeras memilih jadwal favorit tanpa mempertimbangkan alternatif di luar jam sibuk akan membayar lebih.

5. Mengabaikan Kebijakan Bagasi dan Biaya Tambahan

Harga tiket murah kerap tidak mencerminkan total biaya perjalanan. Maskapai bertarif rendah umumnya memisahkan biaya bagasi, pemilihan kursi, dan layanan tambahan lain. Penumpang yang tidak mencermati detail ini bisa membayar biaya tambahan di bandara dengan tarif lebih tinggi dibandingkan pembelian saat pemesanan. Akibatnya, total pengeluaran melampaui harga tiket pada maskapai dengan layanan lebih lengkap.

6. Membeli Tiket Pulang-Pergi Secara Terpisah

Pemesanan tiket pulang dan pergi dalam satu paket sering menawarkan harga lebih murah dibandingkan pembelian terpisah. Maskapai memberikan insentif bagi penumpang yang memesan perjalanan bolak-balik sekaligus. Kebiasaan memesan satu arah lalu mencari tiket pulang di lain waktu membuat penumpang kehilangan potongan harga dan menghadapi tarif yang sudah berubah.

7. Tidak Memanfaatkan Waktu Terbaik untuk Membeli

Riset industri penerbangan menunjukkan ada rentang waktu ideal untuk membeli tiket, umumnya beberapa minggu hingga beberapa bulan sebelum keberangkatan, bergantung pada rute. Penumpang yang membeli terlalu cepat saat tarif awal belum dibuka penuh, atau terlalu lambat ketika kursi tersisa sedikit, sama-sama berpotensi membayar lebih. Selain itu, mencari tiket pada hari kerja dan menghindari akhir pekan juga dapat membantu menemukan harga yang lebih kompetitif.

Dampak pada Pengeluaran Rumah Tangga

Kenaikan harga tiket akibat kebiasaan ini berdampak langsung pada anggaran perjalanan keluarga, pelaku usaha kecil, hingga pekerja yang harus bepergian dinas. Selisih biaya yang tampak kecil per tiket dapat berlipat ketika dikalikan jumlah anggota keluarga atau frekuensi perjalanan. Dalam jangka panjang, kebiasaan belanja tiket yang tidak cermat turut menyumbang inflasi biaya transportasi bagi rumah tangga.

Pengamat penerbangan menilai pemahaman konsumen terhadap mekanisme penetapan harga masih rendah. Edukasi mengenai waktu pembelian, fleksibilitas jadwal, dan perbandingan total biaya dinilai penting agar penumpang tidak terjebak tarif yang tidak perlu. Maskapai dan platform pemesanan juga didorong untuk lebih transparan menampilkan komponen biaya sejak awal pencarian.

Langkah Praktis Menekan Biaya

Beberapa langkah sederhana dapat dilakukan untuk menghindari harga tiket yang membengkak. Pertama, tetapkan tanggal perjalanan jauh hari dan beli tiket lebih awal. Kedua, gunakan mode penjelajahan yang netral atau bandingkan beberapa platform. Ketiga, pertimbangkan jadwal di luar jam sibuk. Keempat, hitung total biaya termasuk bagasi sebelum memutuskan. Kelima, manfaatkan paket pulang-pergi dan pesan seluruh rombongan dalam satu transaksi.

Dengan memahami bahwa harga tiket dipengaruhi oleh perilaku pembeli, konsumen dapat mengambil kendali atas pengeluaran perjalanan. Kebiasaan kecil yang selama ini dianggap sepele ternyata berkontribusi nyata terhadap mahalnya harga tiket pesawat yang harus dibayar.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Sandi Setiawan

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter