22, 2026
Teknologi

Telkom Hadirkan Inovasi Pembelajaran Numerasi di 100 Sekolah Wilayah 3T

Telkom Indonesia luncurkan program BISA PandAI Numerasi untuk tingkatkan pembelajaran matematika dan STEM di 100 sekolah dasar di daerah 3T.]]>

Intan Kusuma
Intan Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Telkom Hadirkan Inovasi Pembelajaran Numerasi di 100 Sekolah Wilayah 3T

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menghadirkan inovasi pembelajaran numerasi di 100 sekolah yang tersebar di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Langkah ini diarahkan untuk memperkuat kemampuan berhitung peserta didik sekaligus mempersempit kesenjangan mutu pembelajaran antara sekolah di daerah 3T dan sekolah di wilayah lain yang memiliki fasilitas lebih lengkap.

Numerasi dipilih karena menjadi salah satu kompetensi dasar yang menentukan kemampuan siswa memahami pelajaran lain, mulai dari sains hingga ilmu sosial. Kemampuan ini juga berkaitan erat dengan kecakapan hidup, seperti mengelola keuangan, membaca data, dan mengambil keputusan berbasis informasi. Selama ini, capaian numerasi siswa di Indonesia masih menjadi perhatian berbagai pihak, terutama di daerah yang menghadapi keterbatasan tenaga pengajar dan sarana belajar.

Kesenjangan Numerasi di Wilayah 3T

Wilayah 3T memiliki karakteristik yang menantang bagi penyelenggaraan pendidikan. Kondisi geografis yang sulit dijangkau, keterbatasan infrastruktur jalan, listrik, dan jaringan internet menjadi kendala yang kerap dijumpai. Tidak jarang satu sekolah hanya memiliki seorang guru yang harus mengampu beberapa mata pelajaran sekaligus, termasuk matematika.

Keterbatasan itu berdampak pada proses pembelajaran. Materi numerasi sering disampaikan secara terbatas dengan pendekatan hafalan rumus, sehingga siswa kurang memahami konsep di balik operasi hitung. Akibatnya, kemampuan siswa menyelesaikan soal yang menuntut penalaran masih rendah, meski mereka mampu mengingat langkah-langkah pengerjaan tertentu.

Selain itu, minimnya bahan ajar yang relevan dengan kehidupan sehari-hari membuat siswa sulit melihat keterkaitan antara pelajaran di kelas dan persoalan nyata di lingkungan mereka. Kondisi ini diperparah oleh terbatasnya akses terhadap buku penunjang dan alat peraga.

Pendekatan Pembelajaran yang Kontekstual

Inovasi pembelajaran numerasi yang dihadirkan Telkom menekankan pendekatan kontekstual. Materi disusun agar berkaitan dengan pengalaman siswa di lingkungan sekitar, misalnya menghitung hasil panen, mengukur jarak antarkampung, memperkirakan harga di pasar, atau membaca data cuaca yang memengaruhi aktivitas warga.

Pendekatan tersebut disertai penggunaan alat peraga sederhana yang dapat dibuat dari bahan yang tersedia di sekitar sekolah. Guru didorong menggunakan benda nyata, permainan edukatif, dan kegiatan kelompok agar siswa lebih terlibat dalam proses belajar. Dengan cara ini, konsep numerasi diharapkan tidak lagi dipandang sebagai pelajaran abstrak yang jauh dari kehidupan sehari-hari.

Bahan ajar dan modul disesuaikan dengan kondisi tiap sekolah, termasuk tingkat kemampuan siswa dan ketersediaan sarana. Penyesuaian itu penting agar materi tidak memberatkan guru maupun siswa, terutama di sekolah dengan jumlah tenaga pengajar terbatas.

Penguatan Kapasitas Guru

Keberhasilan program tidak hanya bergantung pada ketersediaan materi, tetapi juga pada kemampuan guru menyampaikannya. Karena itu, rangkaian kegiatan mencakup pelatihan bagi guru mengenai strategi mengajar numerasi, penyusunan aktivitas kelas, serta cara menilai pemahaman siswa secara lebih menyeluruh.

Pelatihan tidak berhenti pada satu pertemuan. Pendampingan dilakukan secara berkelanjutan agar guru memperoleh ruang berdiskusi ketika menghadapi kendala di kelas. Pembentukan komunitas belajar antarguru juga menjadi bagian penting, sehingga praktik baik dari satu sekolah dapat dibagikan ke sekolah lain di wilayah yang sama.

Dalam pendekatan ini, guru berperan sebagai fasilitator yang mendorong siswa bertanya, mencoba, dan menemukan sendiri pola penyelesaian masalah. Peran tersebut berbeda dari metode ceramah yang selama ini mendominasi pembelajaran di sejumlah sekolah.

Pemanfaatan Teknologi dan Keterbatasan Infrastruktur

Telkom juga memanfaatkan teknologi untuk mendukung pembelajaran, antara lain melalui konten digital dan perangkat pendukung yang dapat digunakan guru maupun siswa. Namun, penerapannya disesuaikan dengan kondisi lapangan, mengingat pasokan listrik dan jaringan internet di sebagian wilayah 3T belum sepenuhnya memadai.

Karena itu, materi dirancang agar tetap dapat digunakan secara luring. Pendekatan ini memungkinkan sekolah dengan keterbatasan koneksi tetap menjalankan pembelajaran tanpa bergantung sepenuhnya pada perangkat digital. Teknologi diposisikan sebagai alat bantu, bukan syarat utama terselenggaranya proses belajar.

Pelaksanaan program melibatkan koordinasi dengan pemerintah daerah, dinas pendidikan, serta pengelola sekolah. Keterlibatan berbagai pihak diperlukan agar kegiatan selaras dengan kebutuhan setempat dan tidak tumpang tindih dengan program lain.

Pemantauan dan Keberlanjutan

Untuk mengukur dampak, dilakukan pemantauan dan evaluasi terhadap perkembangan kemampuan siswa serta penerapan metode oleh guru. Asesmen awal digunakan sebagai dasar penyusunan materi, sedangkan asesmen lanjutan menjadi penanda sejauh mana pemahaman siswa berkembang.

Hasil pemantauan menjadi bahan perbaikan bagi pelaksanaan program berikutnya. Selain itu, sekolah didorong memiliki rencana pengembangan pembelajaran numerasi secara mandiri agar manfaat program tetap berlanjut setelah pendampingan berakhir.

Keberlanjutan menjadi tantangan utama dalam program pendidikan di wilayah 3T. Tanpa dukungan berkelanjutan dari pemerintah daerah, sekolah, dan masyarakat, inisiatif semacam ini berisiko berhenti pada tahap kegiatan seremonial. Karena itu, penguatan kapasitas guru dan pelembagaan praktik baik di tingkat sekolah dinilai menjadi kunci.

Sebagai langkah awal, 100 sekolah menjadi titik masuk bagi penyebaran praktik pembelajaran numerasi yang lebih kontekstual di wilayah 3T. Perluasan ke sekolah lain akan bergantung pada hasil evaluasi, ketersediaan sumber daya, serta kolaborasi antara sektor swasta, pemerintah, dan komunitas pendidikan. Upaya tersebut menegaskan bahwa peningkatan mutu numerasi tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja, melainkan memerlukan kerja bersama yang berkesinambungan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Intan Kusuma

Kontributor rubrik data dan visualisasi angka penting.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter