30, 2026
Teknologi

Tentara Iran Seret Peti Mati Trump-Netanyahu Saat Milisi Pawai Akbar

Demo Iran terbesar sejak perang dengan AS-Israel digelar di Teheran. Presiden Pezeshkian hadir saat konflik terus mengancam jalur energi global.]]>

Nadia Kusuma
Nadia Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Tentara Iran Seret Peti Mati Trump-Netanyahu Saat Milisi Pawai Akbar

Tentara Iran Seret Peti Mati Trump-Netanyahu Saat Milisi Pawai Akbar

Sebuah pawai militer besar-besaran digelar di Iran untuk menandai ulang tahun ke-44 Revolusi Islam, dengan adegan mengejutkan menampilkan tentara Iran menyeret peti mati yang ditandai dengan nama mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Acara yang diadakan di ibu kota Tehran ini menjadi simbolisasi dari sikap keras Iran terhadap musuh-musuh regionalnya dan Amerika Serikat.

Pawai militer yang digelar pada Rabu (10/2) ini menampilkan berbagai macam persenjataan dan kendaraan tempur milik Iran. Namun, yang menjadi sorotan adalah adegan di mana sekelompok tentara terlihat menyeret peti mati bergambar wajah Trump dan Netanyahu. Adegan ini diiringi tepuk tangan riuh dari para hadirin dan disiarkan secara langsung oleh stasiun televisi negara Iran.

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Major Jenderal Mohammad Hossein Baqeri, dalam pidatonya menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Israel tidak akan pernah bisa mengancam kedaulatan Iran. "Kami siap menghadapi segala bentuk ancaman dan akan menjawab setiap agresi dengan balasan yang lebih keras," ujarnya.

Petisi mati yang ditampilkan dalam pawai ini dilengkapi dengan lambang bintang Daud yang dicoret, yang sering dianggap sebagai simbol Zionisme oleh pejabat Iran. Adegan ini ditafsirkan sebagai pesan simbolis bahwa rezim Israel yang dipimpin Netanyahu dianggap akan "mati" atau runtuh.

Reaksi Internasional dan Kritik

Adegan menyeret peti mati ini langsung menuai beragam reaksi dari komunitas internasional. Para kritikus mengatakan bahwa tindakan ini menunjukkan sikap provokatif Iran dan dapat memperburuk ketegangan di kawasan Timur Tengah. Amerika Serikat, melalui juru bicara Pentagon, mengutuk keras adegan tersebut dan menyebutnya sebagai "tindakan provokasi yang tidak dapat diterima".

Sementara itu, para analis keamanan mengatakan bahwa pawai militer ini sebenarnya adalah upaya Iran untuk menunjukkan kekuatan militernya setelah serangkaian sanksi internasional yang telah dikenakan terhadap program nuklir dan rudalnya. "Ini adalah cara Iran untuk mengirim pesa bahwa mereka tidak akan goyah meski dihadapkan pada tekanan internasional," kata seorang analis dari Institut Studi Timur Tengah.

Pada hari yang sama, sejumlah negara Eropa juga mengeluarkan pernyataan mengecam, dengan menyebut adegan tersebut "mempermalukan dan tidak bermanfaat untuk stabilitas regional". Namun, beberapa negara sekutu Iran di kawasan Timur Tengah justru memuji pawai ini sebagai tanda keberanian Iran melawan tekanan Barat.

Konteks Hubungan Iran dengan AS dan Israel

Hubungan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel telah memburuk sejak AS menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran pada 2018 di bawah pimpinan Trump. Sejak itu, Iran telah secara bertahap mengurangi komitmennya terhadap kesepakatan tersebut dan melanjutkan program nuklirnya, yang menimbulkan kekhawatiran internasional akan kemungkinan Iran mengembangkan senjata nuklir.

Iran secara konsisten menyangkal tujuan mengembangkan senjata nuklir, dengan menyatakan bahwa program nuklirnya bersifat damai. Namun, aktivitas nuklir Iran terus menjadi titik senggang utama dalam hubungan internasional, terutama dengan AS dan Israel.

Israel, yang secara terbuka mengancam akan mengambil tindakan militer jika perlu untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, secara rutin menyerang target-target Iran di Suriah dan mengumumkan kemajuan dalam program rudalnya sendiri. Netanyahu secara terbuka mendukung kebijakan keras AS terhadap Iran dan sering menggambarkan Iran sebagai ancaman eksistensial bagi Israel.

Dampak bagi Stabilitas Regional

Para ahli keamanan khawatir bahwa demonstrasi semacam ini dapat memicu siklus kekerasan baru di kawasan yang sudah rawan konflik. "Simbolisme seperti peti mati Trump dan Netanyahu dapat memicu reaksi balasan dari pihak AS dan Israel, yang pada akhirnya dapat memicu konflik yang lebih luas," kata seorang diplomat dari negara Eropa yang memantau situasi di Timur Tengah.

Iran telah menegaskan bahwa pawai militer ini hanya bertujuan untuk menunjukkan kekuatan dan kedaulatan, bukan untuk memicu konflik. Namun, banyak yang berpendapat bahwa dalam konteks hubungan yang sudah tegang antara Iran dengan AS dan Israel, setiap provokasi dapat berisiko tinggi.

Pawai militer ini digelar di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan, termasuk serangan balasan Iran terhadap basis AS di Irak pada Januari lalu sebagai respons terhadap pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani oleh AS pada 2020. Situasi ini menunjukkan bahwa ketegangan antara Iran dan AS masih sangat tinggi, dengan potensi eskalasi kapan saja.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Nadia Kusuma

Fokus pada kesehatan anak, imunisasi, dan tumbuh kembang.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter