Terseret Sentimen Timur Tengah, Rupiah Tertekan ke 18.080 per Dolar AS
Rupiah mengalami tekanan pada perdagangan awal pekan ini, tertekan oleh sentimen global yang terkait dengan ketegangan di Timur Tengah. Nilai tukar mata uang Indonesia ini tercatat menguat tipis pada level Rp 18.080 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot interbank Jakarta, Senin (22/1/2024).
Menurut data yang diperoleh dari Bloomberg, nilai tukar rupiah dibuka pada level Rp 18.075 per dolar AS. Selama bertransaksi, nilai tukar mata uang Indonesia ini bergerak dalam rentang Rp 18.065 - Rp 18.085 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan, rupiah ditutup pada level Rp 18.080 per dolar AS, menguat tipis 0,02% dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pengaruh Konflik Timur Tengah
Ketegangan di Timur Tengah menjadi faktor utama yang mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai safe haven atau tempat perlindungan. Konflik antara Iran dan Israel yang memanas membuat investor lebih berhati-hati dan beralih ke mata uang dolar yang dianggap lebih stabil.
Analis dari PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Ari Soelistijo menjelaskan bahwa sentimen geopolitik global menjadi pembeda utama bagi pergerakan mata uang di pasar Asia. "Ketegangan di Timur Tengah mendorong investor untuk mencari safe haven, dan dolar AS menjadi pilihan utama. Hal ini tentu berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah," ujarnya.
Sebelumnya, konflik antara Iran dan Israel memuncak setelah serangan udara Iran ke Irak dan Suriah yang diduga menewaskan seorang jenderal Iran. Sebagai balasan, AS memberikan dukungan militer kepada Israel, yang memperburuk ketegangan regional.
Peran Indikator Ekonomi AS
Selain faktor geopolitik, indikator ekonomi Amerika Serikat juga memberikan tekanan terhadap rupiah. Data inflasi AS yang tetap tinggi membuat pasar memperkirakan Bank Sentral AS (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi untuk lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya.
"Kenaikan suku bunga AS yang berkelanjutan akan membuat dolar AS tetap menarik bagi investor. Ini berdampak negatif terhadap mata uang emerging market termasuk rupiah," kata Kepala Riset PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Destry Damayanti.
Data inflasi AS yang dirilis pekan lalu menunjukkan inflasi tetap berada di level 3,4% (y-o-y) pada Desember 2023, di atas target The Fed sebesar 2%. Hal ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan tidak akan melakukan penurunan suku bingga pertengahan tahun 2024.
Respons Bank Indonesia
Bank Indonesia (BI) terus memantau perkembangan nilai tukar rupiah dan siap melakukan intervensi jika diperlukan. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa BI memiliki instrumen lengkap untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
"BI akan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah. Selain itu, BI juga akan memanfaatkan instrumen forward dan swap untuk mengurangi volatilitas," ujar Perry.
Menurut Perry, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil dan inflasi terkendali. Pada kuartal IV-2023, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,04% (y-o-y), sedangkan inflasi pada Desember 2023 tercatat sebesar 2,61% (y-o-y), berada dalam rentang target BI 2,5-4,5%.
Outlook Rupiah
Untuk periode mendatang, rupiah diperkirakan akan terus menghadapi tekanan namun potensi depresiasi masih terbatas. Analis dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) memperkirakan rupiah akan bergerang dalam rentang Rp 17.900 - Rp 18.200 per dolar AS pada kuartal I-2024.
"Rupiah masih memiliki potensi untuk menguat jika sentimen global membaik dan kinerja ekspor Indonesia terus meningkat. Namun, risiko dari ketegangan geopolitik global dan kebijakan The Fed masih menjadi ancaman utama," kata Kepala Riset BNI, Muhammad Hanif.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekspor Indonesia pada November 2023 mencapai US$22,35 miliar, meningkat 13,05% (m-o-m). Ekspor nonmigas mencapai US$19,89 miliar, meningkat 15,34% (m-o-m). Kinerja ekspor yang baik akan mendukung nilai tukar rupiah di masa depan.
Secara teknis, analis dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menyatakan bahwa support utama rupiah berada di level Rp 18.100 per dolar AS. Jika rupiah berhasil menembus level tersebut, potensi untuk terdepresiasi lebih dalam masih terbuka hingga ke area Rp 18.300 per dolar AS.
"Sebaliknya, jika rupiah berhasil menembus resistance di level Rp 17.950 per dolar AS, maka potensi untuk menguat masih terbuka hingga ke area Rp 17.800 per dolar AS," ujar Kepala Riset BRI, David Sumual.
Komentar (0)