01, 2026
Olahraga

Timnas Indonesia Masih Punya PR di FIFA ASEAN Cup, Pengamat Soroti Taktik John Herdman

Hesti Kusuma
Hesti Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Timnas Indonesia masih menyisakan pekerjaan rumah besar di ajang FIFA ASEAN Cup. Meski kompetisi belum memasuki babak final, sejumlah pengamat menilai performa skuad Garuda belum menunjukkan konsistensi yang diharapkan, terutama dalam hal penerapan taktik yang diusung pelatih John Herdman.

Evaluasi Performa di Fase Grup

FIFA ASEAN Cup menjadi panggung pertama bagi John Herdman untuk menguji strateginya bersama Timnas Indonesia dalam kompetisi resmi kawasan. Namun, hasil yang diraih sejauh ini belum sepenuhnya memuaskan. Beberapa laga menunjukkan dominasi penguasaan bola, tetapi minim penyelesaian akhir yang efektif. Sebaliknya, dalam pertandingan lain, Indonesia terlihat kesulitan menahan gempuran lawan ketika harus bermain bertahan.

Pengamat sepak bola nasional, Arif Wicaksono, menilai bahwa permasalahan utama bukan terletak pada kualitas individu pemain, melainkan pada transisi antarlini yang belum solid. "Indonesia terlihat nyaman saat menguasai bola, tapi ketika kehilangan bola, reaksi untuk kembali bertahan masih lambat. Ini yang dimanfaatkan lawan-lawan di ASEAN Cup," ujarnya.

Data statistik menunjukkan bahwa Timnas Indonesia rata-rata kehilangan bola di area tengah lapangan lebih sering dibandingkan negara-negara finalis Piala AFF edisi-edisi sebelumnya. Angka passing akurasi memang tergolong tinggi, tetapi tidak diimbangi dengan penetrasi ke kotak penalti lawan.

Kritik terhadap Taktik John Herdman

John Herdman dikenal sebagai pelatih yang gemar menerapkan formasi fleksibel, sering berpindah antara 4-3-3 dan 3-4-3 dalam satu pertandingan. Fleksibilitas ini di satu sisi memberi kejutan bagi lawan, tetapi di sisi lain membingungkan pemain sendiri, terutama saat tempo pertandingan meningkat.

Menurut analis taktik, Bimo Prasetyo, transisi formasi yang terlalu sering justru mengorbankan kestabilan posisi. "Pemain butuh otomatisasi dalam menjalankan peran. Kalau setiap 15 menit formasi berubah, konsentrasi terpecah. Apalagi di level internasional, waktu adaptasi sangat singkat," jelas Bimo.

Ia menambahkan bahwa Herdman cenderung mengandalkan tekanan tinggi di awal pertandingan. Strategi itu efektif untuk mencetak gol cepat, tetapi menyisakan kelelahan pada paruh kedua. Terbukti, beberapa gol yang bersarang ke gawang Indonesia terjadi setelah menit ke-70.

Pekerjaan Rumah di Lini Depan dan Belakang

Selain persoalan taktik, Timnas Indonesia juga dihadapkan pada masalah penyelesaian akhir. Striker utama belum mampu memaksimalkan peluang yang tercipta. Rasio konversi gol dari expected goals (xG) menunjukkan ketidakseimbangan antara peluang yang diciptakan dan gol yang dihasilkan.

Di lini belakang, komunikasi antarpemain masih menjadi sorotan. Beberapa kali terjadi salah antisipasi terhadap bola-bola silang dan umpan terobos. Kiper sering kali harus bekerja ekstra untuk menyelamatkan gawang, yang seharusnya bisa dicegah oleh disiplin garis pertahanan.

Pengamat menilai bahwa Herdman perlu segera menemukan komposisi terbaik di lini belakang. Rotasi pemain yang terlalu banyak di setiap pertandingan membuat kemitraan antar bek tengah tidak terbangun dengan baik. "Di turnamen pendek seperti ASEAN Cup, tim yang bertahan solid biasanya yang melaju jauh. Indonesia punya materi pemain, tinggal bagaimana meraciknya," kata Arif.

Peluang dan Tantangan ke Depan

Meski masih menyisakan banyak kekurangan, peluang Timnas Indonesia untuk bersaing di FIFA ASEAN Cup belum tertutup. Sisa pertandingan menjadi kesempatan bagi Herdman untuk melakukan perbaikan, baik dari segi strategi maupun mental bertanding para pemain.

Beberapa hal yang perlu dibenahi antara lain konsistensi starting eleven, latihan penyelesaian akhir, serta penguatan komunikasi antarlini. Selain itu, manajemen beban pemain juga krusial mengingat jadwal kompetisi yang padat dan cuaca tropis yang menuntut fisik ekstra.

Pengamat juga mengingatkan pentingnya adaptasi cepat terhadap gaya permainan lawan. Di ASEAN Cup, setiap negara memiliki karakter berbeda: ada yang mengandalkan serangan balik cepat, ada pula yang bermain disiplin dengan blok pertahanan rapat. Kemampuan Herdman membaca situasi pertandingan akan sangat menentukan.

Di sisi lain, dukungan suporter tetap menjadi faktor penting. Atmosfer stadion yang bergemuruh terbukti meningkatkan motivasi pemain, terutama di laga-laga krusial. Namun, euforia harus diimbangi dengan ekspektasi yang realistis.

Dengan sisa waktu yang ada, publik sepak bola nasional berharap John Herdman mampu membawa Timnas Indonesia tampil lebih baik dan melangkah sejauh mungkin di FIFA ASEAN Cup. Evaluasi menyeluruh, baik dari tim pelatih maupun pemain, menjadi kunci untuk mengubah pekerjaan rumah menjadi prestasi nyata.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Hesti Kusuma

Peneliti muda yang tertarik pada data, inflasi, dan daya beli masyarakat.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter