30, 2026
Internasional

Tragis! WNI Asal Surabaya Tewas di Perang Ukraina, Baru 1,5 Minggu Dilatih Militer Rusia

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2025/02/07/67a55a3612152-viva-militer-mayat-tentara-rusia_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Lestari Maharani
Lestari Maharani Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

WNI Asal Surabaya Tewas di Perang Ukraina, Baru 1,5 Minggu Dilatih Militer Rusia

Seorang WNI bernama Ahmad Rizki Fauzi (32) asal Surabaya, Jawa Timur, dikabarkan tewas dalam aksi militer di Ukraina. Tragedi ini menimbulkan kekisahan karena korban baru menjalani pelatihan militer Rusia selama 1,5 minggu sebelum diterjunkan ke medan perang. Informasi tentang kematian Rizki pertama kali diungkap oleh keluarganya dan kemudian dikonfirmasi oleh pihak berwenang Indonesia.

Latar Belakang dan Kepergian ke Ukraina

Ahmad Rizki Fauzi, warga Surabaya dengan latar belakang sebagai mantan anggota TNI, memutuskan untuk bergabung dengan pasukan Rusia dalam konflik Ukraina. Menurut keluarga, Rizki memiliki minat khusus pada dunia militer dan sempatan bekerja sebagai pengawal pribadi sebelum memutuskan untuk pergi ke Ukraina pada akhir tahun 2024.

Keluarga Rizki mengaku tidak mengetahui dengan pasti motif di balik keputusannya untuk bergabung dengan pasukan Rusia. Mereka baru mengetahui kepergiannya setelah Rizki mengirim pesan singkat menyatakan bahwa ia akan berada di "tempat yang membutuhkan keberanian". Informasi ini menjadi semakin mencurigakan bagi keluarga ketika komunikasi dengan Rizki terputus sejak Januari 2025.

Kronologi Kematian

Kabar duka tiba di keluarga Rizki pada pertengahan Februari 2025 melalui sumber tidak langsung yang berada di Ukraina. Sumber tersebut menyampaikan bahwa Rizki telah tewas dalam aksi militer di wilayah Donbas, Ukraina timur. Informasi ini kemudian dikonfirmasi oleh pihah Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Moskow setelah melakukan verifikasi dengan pihak berwenang Rusia.

Data yang dihimpun menunjukkan bahwa Rizki tewas hanya 1,5 minggu setelah menyelesaikan pelatihan militer di Rusia. Pelatihan ini dilaksanakan di salah satu pangkalan militer di dekat perbatasan Rusia-Ukraina. Korban kemudian diterjunkan ke medan perang tanpa pengalaman tempur yang signifikan.

Respon Pemerintah Indonesia

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) mengecam keras keterlibatan WNI dalam konflik bersenjata di Ukraina. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyatakan bahwa pemerintah sedang melakukan upaya maksimal untuk mengidentifikasi dan memulangkan jenazah Rizki ke Indonesia.

"Kami mengecam keras keterlibatan WNI dalam konflik bersenjata. Pemerintah telah mengingatkan warga Indonesia untuk tidak terlibat dalam konflik di Ukraina karena berbahaya dan melanggar hukum internasional," ujar Retno dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (19/2/2025).

Kepala Biro Penerangan, Data, dan Informasi (Bindata) Polda Jatim, Kombes Pol. Ahmad Ramadhan, mengatakan pihaknya sedang menyelidiki kasus ini dari sisi hukum. "Kami akan memeriksa apakah ada unsur pidana dalam kasus ini, terutama terkait penyalahgunaan dokumen perjalanan dan pelanggaran hukum negara," jelas Ramadhan.

Dampak dan Implikasi

Kasus kematian Rizki menyoroti potensi bahaya yang dihadapi para "tentara bayaran" atau sukarelawan asing yang bergabung dalam konflik Ukraina. Banyak warga dari berbagai negara yang tertarik untuk bergabung dengan pasukan Rusia karena imbalan finansial yang ditawarkan, namun seringkali tidak menyadari risiko nyawa yang harus ditanggung.

Para ahli hukum internasional menegaskan bahwa keterlibatan warga sipil dalam konflik bersenjata dapat dianggap sebagai pelanggaran hukum humaniter. Mereka dapat kehilangan status perlindungan sebagai warga sipil jika secara langsung terlibat dalam pertempuran.

Kelompok advokasi hak asasi manusia di Indonesia meminta pemerintah untuk memberikan edukasi yang lebih kuat kepada masyarakat tentang bahaya keterlibatan dalam konflik bersenjata. "Kami meminta pemerintah untuk melakukan kampanye preventif agar warga Indonesia tidak terjebak dalam jebakan seperti yang dialami Rizki," kata aktivis dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Ahmad Hilmi.

Upaya Repatriasi Jenazah

Pihak Kemenlu dan KBRI Moskow sedang berkoordinasi dengan pihak Rusia untuk memulangkan jenazah Rizki ke Indonesia. Proses ini melibatkan berbagai tahapan, termasuk identifikasi jenazah, pemenuhan persyaratan administrasi, serta pengaturan transportasi jenazah.

"Kami sedang berkoordinasi dengan pihak berwenang Rusia untuk memastikan jenazah Rizki dapat segera dipulangkan ke Indonesia. Proses ini membutuhkan waktu karena melibatkan koordinasi antar negara dan pemenuhan persyaratan administrasi yang ketat," jelas juru bicara KBRI Moskow, Budi Santoso.

Keluarga Rizki yang berduka menyampaikan harapan agar jenazahnya dapat segera pulang ke Indonesia untuk dimakamkan dengan layak sesuai agama dan adat istiadat. "Kami hanya ingin anak kami pulang ke rumah agar dapat dimakamkan dengan baik di tanah air," ucap ayah Rizki, Hasan Fauzi, dengan suara penuh haru.

Kasus ini menjadi pengingat bagi masyarakat Indonesia akan pentingnya waspada terhadap iming-iming yang ditawarkan oleh pihak-pihak yang tidak jelas dalam konflik bersenjata. Pemerintah terus memperingatkan bahwa keterlibatan dalam konflik di luar negeri dapat membahayakan keselamatan dan melanggar hukum negara.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Lestari Maharani

Kolumnis yang gemar mengupas isu perdagangan internasional dan rantai pasok.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter