JAKARTA — Pemerintah mempercepat pelaksanaan uji coba kedua sistem pembayaran tol tanpa berhenti atau Multi Lane Free Flow (MLFF) setelah tahap pertama dinilai memberikan hasil yang positif. Percepatan ini dilakukan seiring target penerapan penuh sistem tersebut pada akhir tahun ini di sejumlah ruas jalan tol utama.
Latar Belakang Uji Coba MLFF
Sistem MLFF merupakan mekanisme pembayaran tol yang memungkinkan kendaraan melintas tanpa harus berhenti di gerbang tol. Transaksi dilakukan melalui teknologi Global Navigation Satellite System (GNSS) yang memanfaatkan satelit untuk mendeteksi posisi kendaraan, sehingga nantinya tidak lagi dibutuhkan gardu tol maupun palang penghalang. Uji coba tahap pertama dilakukan pada Desember 2023 di ruas Jalan Tol Bali Mandara dengan hasil yang dianggap memenuhi indikator teknis, meski masih menyisakan sejumlah catatan terkait akurasi dan integrasi sistem.
Uji coba kedua ini memperluas cakupan lokasi dan jumlah kendaraan yang terlibat. Pemerintah menargetkan pengujian dapat memvalidasi kesiapan infrastruktur, perangkat on-board unit (OBU), serta sistem pembayaran dan penagihan yang terhubung dengan berbagai bank dan lembaga penerbit kartu uang elektronik.
Percepatan dan Ruang Lingkup Uji Coba
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menyatakan bahwa percepatan jadwal dilakukan agar proses migrasi dari sistem transaksi tertutup ke transaksi terbuka dapat berjalan lebih dini. Menurutnya, ruas yang akan menjadi lokasi uji coba antara lain sebagian Jalan Tol Jakarta–Cikampek, Jalan Tol Cipularang, dan beberapa ruas di Jawa Timur. Pemilihan ruas didasarkan pada volume lalu lintas yang tinggi serta keragaman karakteristik pengguna.
Dalam uji coba ini, kendaraan yang dilengkapi OBU akan melewati titik pemantauan tanpa mengurangi kecepatan. Sistem kemudian mencatat titik masuk dan titik keluar kendaraan, menghitung tarif sesuai jarak tempuh, dan memotong saldo secara otomatis. Jika perangkat bekerja normal, pengguna tidak perlu melakukan tapping atau menyerahkan kartu kepada petugas.
Teknologi GNSS dan Integrasi Sistem
Direktur Jenderal Bina Marga menjelaskan bahwa teknologi GNSS yang digunakan berbeda dengan sistem radio frequency identification (RFID). GNSS memungkinkan penentuan posisi kendaraan secara presisi di jalan tol, sehingga penetapan tarif dapat lebih adil karena berbasis jarak. Namun demikian, penerapan teknologi ini menuntut konektivitas yang stabil, keandalan perangkat, serta perlindungan data pengguna yang ketat.
Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) menyebut bahwa uji coba kedua juga menguji interoperabilitas antara sistem MLFF dengan sistem pembayaran yang dikelola perbankan. Beberapa aspek yang dievaluasi meliputi kecepatan transaksi, akurasi pembacaan titik, penanganan kegagalan pembayaran, hingga mekanisme penagihan bagi pengguna yang saldo uang elektroniknya tidak mencukupi.
Tantangan dan Antisipasi
Sejumlah tantangan masih membayangi percepatan ini. Pertama, kesiapan pengguna. Tingkat adopsi OBU masih rendah sehingga diperlukan sosialisasi masif serta insentif agar pengguna memasang perangkat tersebut. Kedua, aspek regulasi. Pemerintah perlu memastikan payung hukum untuk transaksi tanpa palang, termasuk penegakan hukum bagi pengendara yang tidak melakukan pembayaran. Ketiga, perlindungan data pribadi, karena sistem ini merekam posisi dan pergerakan kendaraan secara berkelanjutan.
Pengamat transportasi menilai percepatan uji coba merupakan langkah strategis untuk mengurangi kemacetan di gerbang tol, yang selama ini menjadi titik antrean utama. Namun mereka mengingatkan agar pemerintah tidak mengorbankan keandalan sistem demi mengejar target. Uji coba bertahap dengan evaluasi independen dinilai lebih bijak dibanding penerapan serentak di seluruh ruas.
Dampak yang Diharapkan
Jika berhasil, MLFF diproyeksikan mampu meningkatkan kapasitas jalan tol karena kendaraan tidak lagi mengantre di gardu. Waktu tempuh menjadi lebih singkat, konsumsi bahan bakar berkurang, dan emisi gas buang menurun. Dari sisi operator, sistem ini menekan biaya operasional gardu tol serta mengurangi kebutuhan tenaga kerja pada pos transaksi.
Selain itu, data perjalanan yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk perencanaan transportasi dan manajemen lalu lintas, termasuk penerapan tarif dinamis pada jam-jam tertentu. Pemerintah menegaskan bahwa tahap uji coba kedua akan diikuti evaluasi menyeluruh sebelum keputusan penerapan komersial diambil.
Dengan percepatan ini, Indonesia menargetkan menjadi salah satu negara di Asia Tenggara yang menerapkan sistem pembayaran tol tanpa berhenti secara luas. Keberhasilan uji coba kedua akan menjadi penentu apakah target tersebut dapat direalisasikan sesuai jadwal atau perlu disesuaikan dengan kesiapan teknis dan penerimaan masyarakat.
Komentar (0)