14, 2026
Nasional

Update Hotspot kebakaran Hutan, Kalteng Tertinggi

Tania Sari
Tania Sari Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Update Hotspot Kebakaran Hutan, Kalteng Tertinggi

Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) kembali menjadi wilayah dengan jumlah titik panas atau hotspot tertinggi di Indonesia. Berdasar data Satelit Terra/Aqua MODIS pada Kamis (15/9/2022), tercatat 115 titik panas tersebar di berbagai kabupaten dan kota di provinsi ini. Angka ini membuat Kalteng menyumbang sekitar 35% dari total hotspot di seluruh Indonesia yang mencapai 328 titik.

Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kalimantan Tengang mencatat bahwa hotspot tersebar di 11 kabupaten dan kota. Kabupaten yang memiliki jumlah hotspot terbanyak adalah Kabupaten Kotawaringin Barat dengan 28 titik, diikuti Kabupaten Sukamara (24 titik), dan Kabupaten Seruyan (15 titik). Sementara itu, Kota Palangka Raya sebagai ibu kota provinsi juga melaporkan adanya 5 titik panas.

Penyebab Utama Kebakaran Hutan

Menurut Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kalteng, Ir. H. Suhardi, sebagian besar hotspot di Kalteng disebabkan oleh aktivitas pembukaan lahan secara ilegal dan kebakaran lahan yang tidak terkontrol. "Kebanyakan kejadian kebakaran terjadi di lahan gambut yang telah kering akibat musim kemarau," ujarnya dalam konferensi pers di Palangka Raya, Jumat (16/9/2022).

Suhardi menjelaskan bahwa kondisi cuaca yang kering dan curah hujan yang rendah sejak Juli 2022 membuat lahan gambut menjadi sangat rawan kebakaran. "Suhu udara di beberapa wilayah bahkan mencapai 34-35 derajat Celsius dengan kelembaban udara di bawah 60 persen," tambahnya.

Selain itu, adanya aktivitas illegal logging dan perluasan lahan perkebunan tanpa izin juga menjadi pemicu utama kebakaran hutan dan lahan. "Kita menemukan adanya pola pembukaan lahan dengan cara membakar yang telah menjadi kebiasaan di masyarakat," ujar Suhardi.

Dampak Lingkungan dan Kesehatan

Kejadian kebakaran hutan dan lahan di Kalteng telah berdampak signifikan terhadap kualitas udara. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di beberapa titik di Palangka Raya mencapai angka 300 yang berada dalam kategori tidak sehat. "Kondisi ini berpotensi menimbulkan gangguan pernafasan bagi masyarakat," kata Kepala BMKG Kalteng, Dr. Budi Santoso.

Dampak kebakaran juga dirasakan oleh satwa liar di Taman Nasional Sebangau dan Taman Nasional Tanjung Puting. Beberapa spesies primat seperti orangutan dan bekantan terancam kehilangan habitat akibat kebakaran. "Tim kita telah menemukan beberapa satwa yang mengalami luka bakar dan telah dilakukan evakuasi ke pusat rehabilitasi," kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng, Dr. Hotman Sitorus.

Upaya Pemadam dan Pencegahan

Pemerintah Provinsi Kalteng telah mengaktifkan Satuan Tugas Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) sejak Agustus 2022. Satgas ini terdiri dari unsur TNI/Polri, dinas terkait, dan relawan. "Kita telah mengerahkan 500 personel untuk patroli dan penanggulangan kebakaran," ujar Gubernur Kalteng, Sugianto Sabran.

Pemerintah juga telah melarang seluruh aktivitas pembakaran lahan di seluruh wilayah Kalteng. "Kita akan menindak tegas pelaku kebakaran lahan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Kebakaran Hutan dan Lahan," tegas Sugianto.

Untuk memperkuat pencegahan, pemerintah juga membangun sistem pengendalian kebakaran berbasis teknologi. "Kita menggunakan sistem early warning dengan memanfaatkan data satelit dan drone untuk monitoring wilayah rawan kebakaran," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalteng, H. Rusdi.

Harapan dan Tantangan

Meskipun upaya penanggulangan terus dilakukan, tantangan dalam mengendalikan kebakaran hutan dan lahan di Kalteng masih sangat besar. Kondisi lahan gambut yang luas dan rawan kebakaran menjadi tantangan utama. "Kita perlu pendekatan yang komprehensif dari aspek pencegahan, penanggulangan, dan pemulihan ekosistem," ujar Prof. Dr. Bambang Hero Saharjo, ahli kebakaran dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

Pemerintah berharap dengan koordinasi yang baik antar pihak dan dukungan masyarakat, kebakaran hutan dan lahan dapat segera dikuasai. "Kita berharap musim hujan akan segera datang untuk membantu memadamkan api yang masih menyala," harap Sugianto Sabran.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Tania Sari

Reporter Hukum. Meliput Mahkamah Konstitusi, judicial review, dan dinamika legislasi.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter