13, 2026
Nasional

Update Sebaran Kabut Asap Karhutla, Udara Singapura dan Malaysia Tidak Sehat

Budi Santoso
Budi Santoso Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Update Sebaran Kabut Asap Karhutla, Udara di Singapura dan Malaysia Tidak Sehat

Kabut asak akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus melanda wilayah Asia Tenggara, khususnya Singapura dan Malaysia. Kondisi udara di beberapa wilayah kedua negara tersebut mencapai tingkat yang tidak sehat, memicu peringatan kesehatan dari pemerintah setempat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia melaporkan bahwa titik panas kebakaran hutan terus terjadi di beberapa provinsi di Sumatera dan Kalimantan.

Sebagaimana dilansir dari berbagai sumber, Singapura pada Rabu (15/11) pagi tercatat memiliki Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang mencapai angka 138 di beberapa titik monitoring, termasuk di wilayah Tengah dan Selatan. Angka tersebut masuk dalam kategori tidak sehat untuk kelompok rentan. Pemerintah Singapura telah mengimbau warganya, terutama anak-anak, lanjut usia, dan mereka yang menderita penyakit pernapasan, untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kondisi udara buruk ini berlangsung.

Situasi di Malaysia

Di seberang Selat Malaka, Malaysia juga menghadapi kondisi serupa. Negara bagian Selangor dan Wilayah Federal Kuala Lumpur dilaporkan memiliki kualitas udara yang menurun, dengan beberapa stasiun pemantauan mencatat nilai PSI (Pollutant Standards Index) di atas 100. Nilai PSI antara 101 hingga 200 dikategorikan sebagai tidak sehat, sementara nilai di atas 200 dianggap sangat tidak sehat.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Air Malaysia (KEWAS) dalam siarannya menyatakan bahwa mereka terus memantau perkembangan situasi kabut asak dan telah mengaktifkan mekanisme tanggap darurat. Pemerintah telah menyiapkan masker medis untuk didistribusikan kepada warga yang membutuhkan, terutama di daerah-daerah yang terdampak parah.

Penyebab Utama Kabut Asap

Kabut asak yang melanda wilayah ini berasal dari aktivitas pembakaran lahan di Indonesia, terutama di provinsi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Kalimantan. Musim kemarau yang saat ini berlangsung memperburuk kondisi, menyebabkan kekeringan yang memungkinkan api dengan mudah menyebar. Upaya pemadaman kebakaran di lapangan dilakukan oleh tim dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan TNI/Polri, namun tantangan besar masih dihadapi mengingarkan luasnya area yang terbakar.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Abdul Muhari, mengatakan bahwa hingga saat ini tercatat sebanyak 1.234 titik panas tersebar di seluruh Indonesia, dengan mayoritas berada di wilayah Sumatera dan Kalimantan. "Kondisi kekeringan yang berkepanjangan mempersulit upaya pemadaman. Kami terus melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah dan pihak terkait untuk memastikan api dapat segera dipadamkan," ujarnya.

Dampak Kesehatan dan Aktivitas

Dampak buruk dari kabut asak tidak hanya terasa di Indonesia, tetapi juga negara tetangga. Di Singapura, beberapa sekolah telah menghentikan kegiatan olahraga di luar ruangan, sementara di Malaysia, beberapa penerbangan domestik mengalami penundaan akibat visibilitas yang buruk. Kementerian Kesehatan kedua negara telah meningkatkan kewaspadaan terhadap peningkatan kasus penyakit pernapasan akut seperti ISPA, asma, dan iritasi mata.

Dokter spesisi paru-paru dari RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, dr. Tirta Mandira Hudhi, menjelaskan bahwa partikel-partikel halus dalam kabut asak dapat masuk ke sistem pernapasan manusia hingga ke alveoli (cantung udara di paru-paru). "Partikel PM2.5 ini sangat berbahaya karena dapat menembus sistem pertahanan tubuh dan menyebabkan peradangan. Bagi mereka yang sudah menderita penyakit kronis, kondisi ini bisa memperburat gejalanya," jelasnya.

Tanggapan Pemerintah dan Masyarakat

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi masalah ini, termasuk penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan yang disengaja. "Kami tidak akan berkompromi dengan mereka yang sengaja membakar lahan. Tim kami telah melakukan penyelidikan dan beberapa orang telah diamankan," kata Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar.

Di tingkat internasional, ASEAN telah mengaktifkan mekanisme ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution (AATHP) untuk mengkoordinasi respons regional. Forum ASEAN Haze Monitoring System (AHMS) juga digunakan untuk berbagi data dan informasi mengenai titik panas dan sebaran kabut asak secara real-time.

Masyarakat di wilayah yang terdampak diimbau untuk mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, membatasi aktivitas fisik berat, dan menyediakan alat kesehatan seperti inhaler bagi mereka yang membutuhkan. Selain itu, masyarakat juga diminta untuk tetap waspada terhadap potensi kebakaran di sekitar lingkungan tempat tinggalnya dan segera melapor apabila menemukan adanya aktivitas pembakaran mencurigakan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Budi Santoso

Penulis kesehatan pria dan pencegahan penyakit degeneratif.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter