13, 2026
Nasional

Kronologi Warga vs Penghuni Cluster di Depok soal Bakar Sampah, Akses Ditembok

Warga klaster dan warga RT Tapos, Kota Depok berselisih karena masalah pembakaran sampah. Hingga warga RT mendirikan tembok untuk menutup akses warga perumahan.]]>

Dian Simanjuntak
Dian Simanjuntak Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Kronologi Warga vs Penghuni Cluster di Depok soal Bakar Sampah, Akses Ditembok

Kronologi Konflik Warga dan Penghuni Cluster soal Pembakaran Sampah dan Pembatasan Akses di Depok

Sebuah konflik antara warga setempat dengan penghuni cluster perumahan di Depok tengah memanas. Konflik ini bermula dari adanya praktik pembakaran sampah oleh penghuni cluster yang diduga merusak lingkungan dan kesehatan warga sekitar. Tidak hanya itu, akses jalan yang dibatasi tembok oleh penghuni cluster juga menjadi pemicu utama ketegangan antar kedua belah pihak.

Konflik ini mencapai puncaknya pada Rabu (15/3) lalu, ketika sejumlah warga melakukan aksi unjuk rasa di depan gerbang masuk cluster perumahan yang berlokasi di Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Beji, Kota Depok. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap praktik pembakaran sampah yang sudah berlangsung selama beberapa bulan terakhir.

Awal Mula Konflik

Menurut keterangan beberapa warga yang turun ke jalan, praktik pembakaran sampah oleh penghuni cluster tersebut sudah berlangsung sejak Oktober 2022. Awalnya, warga hanya mengeluhkan asap yang dihasilkan dari aktivitas pembakaran tersebut yang dinilai menyebabkan iritasi mata dan gangguan pernafasan.

"Asapnya sangat pekat dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Apalagi saat musim kemarau, asapnya semakin tebal dan sulit dihindari," ujar Siti, salah seorang warga sekitar yang sudah tiga tahun tinggal di lokasi tersebut.

Selain masalah pembakaran sampah, warga juga mengeluhkan adanya pembatasan akses jalan oleh penghuni cluster. Beberapa titik jalan umum yang biasa dilalui warga untuk menuju pasar atau sekolah diketahui telah dibatasi dengan tembok pagar setinggi dua meter oleh penghuni cluster.

Peningkatan Ketegangan

Ketegangan antara warga dan penghuni cluster semakin memuncak pada Februari 2023 lalu. Saat itu, sejumlah warga mendapati bahwa pembakaran sampah dilakukan lebih rutin bahkan hingga tengah malam. Aktivitas ini dinilai semakin tidak mengindahkan kenyamanan warga sekitar.

Warga juga menyatakan kekecewaan atas sikap penghuni cluster yang menutup akses jalan umum. Menurut mereka, akses jalan yang dibatasi tembok tersebut mengakibatkan warga harus menempuh jalan alternatif yang jauh lebih panjang untuk mencapai pusat kota.

"Kami sudah berulang kali menyampaikan keluhan kepada penghuni cluster, tapi tidak ada respons yang positif. Bahkan ada di antara mereka yang mengancam akan melapor ke polisi jika kami tetap demonstrasi," tambah Ahmad, ketua RT setempat.

Aksi Protes dan Tuntutan Warga

Pada Rabu (15/3) lalu, ratusan warga melakukan aksi unjuk rasa di depan gerbang masuk cluster perumahan. Mereka membawa spanduk bertuliskan protes terhadap pembakaran sampah dan pembatasan akses jalan. Aksi ini berlangsung damai namun menarik perhatian banyak pihak.

Dalam orasinya, warga menyatakan tiga tuntutan utama. Pertama, penghuni cluster diwajibkan menghentikan praktik pembakaran sampah. Kedua, tembok pembatas yang membatasi akses jalan umum harus segera dibongkar. Ketiga, pihak pengelola cluster diminta memberikan kompensasi atas kerugian yang sudah dialami warga selama ini.

"Kami hanya minta hak hidup yang layak. Tidak ada yang salah dengan minta udara bersih dan jalan yang terbuka," ujar salah satu orator dalam aksi tersebut.

Respon Pihak Terkait

Sementara itu, pihak penghuni cluster mengaku tidak tahu menahu mengenai adanya aksi protes yang dilakukan warga. Mereka menegaskan bahwa praktik pembakaran sampah yang dilakukan hanyalah membersihkan kebun dan halaman rumah saja.

Mengenai adanya pembatasan akses jalan, Budi mengklaim bahwa yang dibangun hanyakan pagar untuk keamanan lingkungan cluster saja. "Pagar ini tidak membatasi akses warga, hanya memisahkan antara area perumahan dengan jalan umum," tambahnya.

Sementara itu, pihak pemerintah setempat mengaku tengah memfasilitasi dialog antara warga dan penghuni cluster. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Depok, Dr. Hendra, menyatakan bahwa timnya sudah melakukan verifikasi lokasi dan akan mengambil tindakan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Konflik antara warga dan penghuni cluster di Depok ini masih berlangsung hingga kini. Pihak berwenang berjanji akan segera menyelesaikan masalah ini agar tidak menimbulkan ketegangan lebih lanjut di tengah masyarakat.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Dian Simanjuntak

Peneliti muda yang tertarik pada data, inflasi, dan daya beli masyarakat.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter