06, 2026
Nasional

Video: Kandidat WHO RI Sebut AS Perlu Gabung Kembali

Kandidat WHO RI Sebut AS Perlu Gabung Kembali]]>

Wulan Simanjuntak
Wulan Simanjuntak Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Video: Kandidat WHO RI Sebut AS Perlu Gabung Kembali

Kandidat Dirjen WHO dari Indonesia Serukan Kembalinya Amerika Serikat ke Organisasi Kesehatan Dunia

Kandidat Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang berasal dari Indonesia, dr. Terawan Agus Putranto, menyatakan bahwa Amerika Serikat perlu bergabung kembali ke dalam organisasi kesehatan global tersebut. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah forum internasional yang membahas arah kebijakan kesehatan global pasca pandemi COVID-19. Menurutnya, kehadiran Amerika Serikat sebagai salah satu kontributor terbesar bagi anggaran WHO sangat krusial untuk memperkuat sistem kesehatan dunia, terutama dalam menghadapi ancaman pandemi di masa depan.

Dalam paparannya, ia menekankan bahwa tantangan kesehatan global tidak dapat diselesaikan secara parsial oleh satu negara atau sekelompok negara saja. Amerika Serikat, sebagai negara dengan kapasitas riset, teknologi, dan sumber daya finansial yang besar, dinilai memiliki peran strategis untuk memastikan WHO tetap berfungsi secara optimal. Keputusan Amerika Serikat untuk menarik diri dari keanggotaan WHO pada masa pemerintahan sebelumnya menjadi salah satu isu yang menyita perhatian dalam diskursus kesehatan internasional.

Dampak Absennya Amerika Serikat bagi Anggaran dan Program WHO

Ketidakhadiran Amerika Serikat dalam struktur keanggotaan WHO membawa konsekuensi signifikan, khususnya pada aspek pendanaan. Amerika Serikat selama ini dikenal sebagai penyumbang dana terbesar, baik melalui kontribusi wajib maupun sumbangan sukarela. Penarikan diri negara tersebut membuat organisasi harus menyesuaikan berbagai program prioritas, mulai dari imunisasi global, penanggulangan penyakit menular, hingga kesiapsiagaan menghadapi krisis kesehatan.

Kandidat Dirjen WHO dari Indonesia menilai bahwa kekosongan peran Amerika Serikat berpotensi memperlambat pencapaian target-target kesehatan global, termasuk agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) di bidang kesehatan. Ia mengingatkan bahwa solidaritas lintas negara merupakan prasyarat utama dalam membangun arsitektur kesehatan global yang tangguh. Tanpa keterlibatan kekuatan besar seperti Amerika Serikat, upaya kolektif menghadapi ancaman biologis dan pandemi akan menghadapi hambatan yang lebih berat.

Dorongan Reformasi dan Kolaborasi Multilateral

Dalam forum tersebut, ia juga menyoroti perlunya reformasi tata kelola WHO agar organisasi ini lebih responsif, transparan, dan adaptif terhadap dinamika global. Reformasi tersebut diyakini dapat menjadi daya tarik bagi Amerika Serikat untuk kembali bergabung, karena negara-negara anggota akan melihat WHO sebagai institusi yang mampu menjalankan mandatnya secara efektif dan akuntabel. Pendekatan ini sejalan dengan seruan sejumlah negara yang menginginkan perbaikan mekanisme surveilans, distribusi sumber daya, serta pengambilan keputusan yang lebih inklusif.

Ia menambahkan bahwa kolaborasi multilateral bukan sekadar pilihan politik, melainkan kebutuhan mendesak. Pandemi COVID-19 telah membuktikan bahwa virus tidak mengenal batas negara, sehingga respons yang terfragmentasi hanya akan memperpanjang krisis. Kembalinya Amerika Serikat ke WHO dipandang sebagai langkah simbolik sekaligus praktis yang dapat memulihkan kepercayaan terhadap sistem kerja sama kesehatan internasional.

Posisi Indonesia dalam Peta Kesehatan Global

Pencalonan dr. Terawan Agus Putranto sebagai Direktur Jenderal WHO menjadi perhatian publik dalam negeri. Ia dikenal melalui berbagai terobosan di bidang kesehatan, termasuk pengembangan metode pengobatan yang menuai pro dan kontra di kalangan akademisi. Meski demikian, pencalonan ini menempatkan Indonesia pada posisi penting dalam percaturan kebijakan kesehatan global. Dukungan diplomatik dan komunikasi lintas negara menjadi faktor penentu untuk memperkuat peluang Indonesia memimpin WHO.

Dalam konteks ini, isu keterlibatan Amerika Serikat menjadi salah satu topik yang diangkat untuk menunjukkan visi kepemimpinan yang inklusif. Ia berargumen bahwa WHO harus menjadi rumah bagi semua negara, tanpa terkecuali, agar mandat kesehatan untuk semua dapat terwujud. Pendekatan ini dinilai relevan dengan posisi Indonesia yang selama ini aktif menjalin kerja sama Selatan-Selatan dan mendorong kemandirian kesehatan di negara berkembang.

Tantangan Diplomasi dan Harapan Ke Depan

Mengajak Amerika Serikat kembali ke WHO bukanlah persoalan sederhana karena melibatkan dinamika politik domestik di negara tersebut. Namun, dari perspektif kesehatan global, langkah itu dipandang perlu untuk menjaga stabilitas pendanaan dan kesinambungan program. Kandidat dari Indonesia itu berharap agar dialog antara WHO dan Amerika Serikat dapat terus dibangun secara konstruktif, dengan menempatkan kepentingan kesehatan umat manusia di atas perbedaan politik.

Ia menutup paparannya dengan pesan bahwa masa depan kesehatan dunia bergantung pada kemampuan negara-negara untuk bekerja sama, bukan untuk saling menjauh. Kembalinya Amerika Serikat ke pangkuan WHO akan menjadi sinyal positif bahwa multilateralisme kesehatan masih memiliki tempat di tengah ketidakpastian global. Indonesia, melalui pencalonannya, berkomitmen mendorong agenda tersebut demi terciptanya sistem kesehatan dunia yang lebih adil, kuat, dan berkelanjutan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Wulan Simanjuntak

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter