Revitalisasi Blok M Ditargetkan Rampung 2029, Ini 5 Transformasinya
Kawasan Blok M di Jakarta Selatan tengah menjalani babak baru sebagai pusat kegiatan kota. Proyek revitalisasi yang digarap PT MRT Jakarta bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ditargetkan rampung pada 2029. Kawasan yang selama puluhan tahun dikenal sebagai pusat belanja dan hiburan malam ini diproyeksikan berubah menjadi simpul transportasi publik terpadu dengan kawasan berorientasi transit atau transit oriented development (TOD).
Revitalisasi Blok M merupakan bagian dari pengembangan koridor MRT Jakarta Fase 2A yang menghubungkan Bundaran HI hingga Kota. Meski demikian, penataan kawasan Blok M berjalan sebagai proyek tersendiri karena posisinya sebagai salah satu stasiun utama dengan volume penumpang tinggi. Kawasan ini juga menjadi titik integrasi antara MRT, TransJakarta, dan angkutan pengumpan.
Latar Belakang Revitalisasi
Blok M memiliki sejarah panjang dalam perkembangan kota Jakarta. Pada 1970-an, kawasan ini dirancang sebagai pusat pertokoan modern pertama di Indonesia melalui proyek Blok M Mall. Seiring waktu, kawasan ini berkembang menjadi pusat kuliner, mode, dan hiburan yang ramai. Namun, pertumbuhan yang tidak tertata memunculkan sejumlah persoalan, mulai dari kemacetan, pedagang kaki lima yang memadati trotoar, hingga berkurangnya ruang terbuka hijau.
Kehadiran MRT Jakarta sejak 2019 menjadi pemicu perubahan besar. Stasiun Blok M BCA menjadi salah satu stasiun dengan penumpang terpadat. Kondisi itu mendorong pemerintah dan pengelola kawasan untuk menata ulang Blok M agar mampu menampung aktivitas yang lebih beragam sekaligus mendorong warga beralih ke transportasi publik.
Lima Transformasi Utama
1. Integrasi Moda Transportasi yang Lebih Terpadu
Perubahan paling menonjol adalah penataan sistem integrasi antarmoda. Halte TransJakarta Blok M akan dihubungkan langsung dengan stasiun MRT melalui jalur pejalan kaki yang nyaman dan terlindung. Kawasan ini juga akan menampung titik pemberhentian angkutan pengumpan, kendaraan daring, serta layanan sepeda umum. Tujuannya, penumpang tidak perlu berpindah moda dengan berjalan jauh atau menyeberang jalan tanpa fasilitas yang memadai.
2. Penataan Ruang Terbuka Hijau dan Pedestrian
Revitalisasi mencakup penambahan ruang terbuka hijau dan perluasan jalur pedestrian. Trotoar di sekitar Blok M akan diperlebar, dilengkapi jalur pemandu bagi penyandang disabilitas, serta ditanami pohon peneduh. Sejumlah lahan milik pemerintah di sekitar kawasan dialihfungsikan menjadi taman kecil dan area resapan air untuk mengurangi risiko banjir.
3. Pengembangan Pusat Kuliner dan Ekonomi Kreatif
Kawasan Blok M tetap difokuskan sebagai pusat ekonomi. Pemerintah menyiapkan area khusus bagi pedagang kaki lima dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mereka dapat berjualan secara tertib dan higienis. Area ini dirancang terintegrasi dengan bangunan stasiun dan pusat perbelanjaan sehingga tidak mengganggu arus pejalan kaki. Selain itu, ruang kreatif untuk komunitas seni dan acara budaya akan disediakan.
4. Peningkatan Kapasitas Bangunan dan Fasilitas Publik
Beberapa bangunan di kawasan Blok M akan direnovasi atau dibangun ulang dengan kapasitas lebih besar. Terminal Blok M akan ditingkatkan menjadi terminal tipe A dengan fasilitas modern. Ruang publik terpadu yang mencakup area pertemuan, layanan kesehatan, dan ruang laktasi akan ditambahkan. Seluruh bangunan baru wajib memenuhi standar bangunan hijau, termasuk pengelolaan air dan energi yang efisien.
5. Digitalisasi dan Sistem Keamanan Terpadu
Kawasan Blok M akan dilengkapi sistem pemantauan berbasis kamera dan sensor untuk mengatur lalu lintas serta menjaga keamanan. Informasi jadwal transportasi, ketersediaan parkir, dan acara kawasan akan diakses melalui aplikasi digital. Penerapan sistem pembayaran nontunai juga diperluas di seluruh titik layanan.
Tantangan dan Harapan
Proyek revitalisasi Blok M menghadapi sejumlah tantangan, antara lain pembebasan lahan, penataan pedagang yang telah lama berjualan di kawasan tersebut, serta rekayasa lalu lintas selama masa konstruksi. Pemerintah berjanji melibatkan masyarakat dan pelaku usaha dalam setiap tahap perencanaan agar dampak sosial dapat ditekan.
Jika rampung sesuai jadwal pada 2029, Blok M diharapkan menjadi contoh penataan kawasan berbasis transit di Jakarta. Kawasan ini tidak hanya menjadi tempat naik turun penumpang, tetapi juga pusat kegiatan ekonomi, sosial, dan budaya yang tertata, inklusif, dan ramah lingkungan. Keberhasilan revitalisasi ini akan menjadi tolok ukur bagi pengembangan kawasan serupa di titik-titik lain sepanjang jalur MRT Jakarta.
Komentar (0)