Wakil Ketua Komisi VIII DPR Minta Peternak Lokal Diutamakan Jadi Pemasok Bahan Makanan Bergizi
Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, M Arsyadjuliandi Rachman, menegaskan pentingnya mengutamakan peternak lokal sebagai pemasok bahan makanan bergizi (MBG) bagi program pemerintah. Hal ini disampaikannya dalam rapat dengar pendapat dengan Kementerian Pertanian dan Kementerian Kesehatan beberapa waktu lalu. Menurutnya, kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan peternak sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.
Dalam kesempatan itu, Arsyadjuliandi menyoroti bahwa Indonesia memiliki potensi peternakan yang besar namun belum optimal dalam menghasilkan produk berkualitas tinggi. "Kita memiliki banyak peternak di berbagai daerah yang memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan MBG, namun seringkali mereka tidak diakui sebagai pemasok utama dalam program pemerintah," ujarnya.
Peran Penting Peternak Lokal
Menurut Arsyadjuliandi, peternak lokal memiliki beberapa keunggulan dibandingkan pemasok dari luar negeri. Pertama, mereka lebih memahami kondisi iklim dan lingkungan setempat sehingga produk yang dihasilkan lebih sesuai dengan kebutuhan nutrisi masyarakat Indonesia. Kedua, dengan memprioritaskan peternak lokal, pemerintah dapat mengurangi ketergantungan pada impor yang pada akhirnya akan menghemat devisa negara.
Ia juga menekankan bahwa peternakan lokal memiliki dampak positif terhadap perekonomian daerah. "Dengan membeli produk dari peternak lokal, kita tidak hanya memenuhi kebutuhan nutrisi tetapi juga membantu peningkatan pendapatan masyarakat di pedesaan," tambahnya.
Kendala yang Dihadapi Peternak Lokal
Meski memiliki potensi besar, peternak lokal masih menghadapi berbagai kendala dalam memenuhi kebutuhan MBG. Salah satu hambatan utama adalah akses terhadap modal dan teknologi modern. Banyak peternak masih menggunakan cara tradisional yang kurang efisien, sehingga produktivitasnya masih rendah.
Selain itu, infrastruktur transportasi dan akses pasar yang kurang memadai juga menjadi masalah serius. Banyak peternak yang kesulitan menjangkau pasar yang lebih luas karena jarak yang jauh dan biaya transportasi yang tinggi.
Untuk mengatasi masalah ini, Arsyadjuliandi mengusulkan pemerintah memberikan bantuan modal ringan, pelatihan teknologi pertanian modern, serta membangun infrastruktur pendukung seperti jalan dan gudang penyimpanan yang memadai.
Program Pendukung Peternakan Lokal
Dalam rapat tersebut, Arsyadjuliandi juga menyampaikan berbagai program yang telah dan akan dijalankan untuk mendukung peternak lokal. Salah satunya adalah program percepatan peningkatan produksi dan produktivitas ternak melalui peningkatan kualitas bibit, pakan, dan kesehatan hewan.
"Kita sedang merancang program khusus untuk membantu peternak dalam akses bibit unggul dan pakan berkualitas. Selain itu, kita juga akan meningkatkan layanan kesehatan hewan agar produktivitas ternak bisa maksimal," jelasnya.
Ia juga menyebutkan pentingnya peran Bank Indonesia dan lembaga keuangan lain dalam menyediakan fasilitas pembiayaan bagi peternak. "Kita berharap ada program khusus yang memberikan suku bunga rendah untuk peternak agar mereka bisa berkembang pesat," tambahnya.
Target Peningkatan Produksi MBG
Menurut Arsyadjuliandi, target utama dari kebijakan ini adalah meningkatkan produksi MBG secara nasional minimal 20% dalam tiga tahun ke depan. "Dengan produksi yang lebih tinggi, kita bisa memenuhi kebutuhan domestik bahkan memiliki surplus untuk ekspor," ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah akan terus berupaya untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi peternak berkembang. "Kita akan memastikan semua kebijakan yang dibuat benar-benar menguntungkan peternak dan tidak menciptakan beban baru bagi mereka," pungkasnya.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan peternak lokal semakin diperhatikan dan menjadi tulang punggung dalam penyediaan bahan makanan bergizi bagi bangsa Indonesia.
Komentar (0)