Sejumlah pemilik warung kelontong di berbagai daerah membantah narasi yang menyebutkan kelangkaan beras di pasar ritel. Mereka mengklaim stok beras tetap tersedia, meski harga bergerak naik dalam beberapa pekan terakhir. Bantahan itu disampaikan menyusul ramainya pemberitaan mengenai kosongnya pasokan beras di sejumlah gerai ritel modern dan pasar tradisional.
Salah satu pedagang beras di kawasan Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, yang telah berjualan sejak 2010, menegaskan bahwa dirinya tidak pernah mengalami kekosongan stok selama 14 tahun berjualan. Warungnya, yang menyediakan beras medium hingga premium, tetap melayani pembeli setiap hari. Ia menyebutkan bahwa pasokan dari distributor datang secara rutin, meskipun volume pengiriman sempat berkurang pada awal tahun.
"Selama saya jualan, stok beras selalu ada. Mungkin di tempat lain kosong, tapi di sini tetap jalan," ujarnya saat ditemui di warungnya, Selasa (27/2). Ia menjelaskan, fluktuasi pasokan memang terjadi, terutama menjelang musim tanam atau saat musim hujan, tetapi tidak sampai menyebabkan kelangkaan yang signifikan.
Hal serupa disampaikan pedagang lain di Bekasi dan Tangerang. Mereka menyatakan bahwa konsumen masih bisa membeli beras dalam jumlah berapa pun, meski dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Kenaikan harga, menurut mereka, lebih disebabkan oleh naiknya harga gabah di tingkat petani serta biaya distribusi yang ikut terdorong oleh kenaikan harga bahan bakar minyak.
Perbedaan Persepsi di Lapangan
Bantahan dari pedagang kelontong ini berbanding terbalik dengan laporan sejumlah asosiasi dan pengamat pangan yang menyoroti penurunan pasokan beras di pasar induk. Data dari Badan Pangan Nasional menunjukkan bahwa cadangan beras pemerintah masih dalam kondisi aman, namun harga eceran tertinggi (HET) di beberapa daerah tercatat melampaui batas yang ditetapkan.
Seorang pedagang di Rangkasbitung, Banten, mengungkapkan bahwa dirinya sempat kesulitan mendapatkan pasokan beras kualitas medium dari distributor langganannya. Namun, ia beralih ke pemasok lain sehingga stok tetap tersedia. "Kalau satu pemasok kosong, saya cari yang lain. Selama ini selalu ketemu," katanya.
Pengamat pertanian dari IPB University menilai perbedaan persepsi ini muncul karena pemetaan distribusi yang tidak merata. Ia menjelaskan bahwa kelangkaan bersifat lokal dan temporer, bukan nasional. Ia juga menekankan pentingnya pemerintah memperkuat data stok di tingkat pedagang eceran agar kebijakan intervensi pasar lebih tepat sasaran.
Faktor Harga dan Permintaan
Kenaikan harga beras di tingkat warung kelontong berkisar antara Rp1.000 hingga Rp2.000 per kilogram dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Beras medium yang sebelumnya dijual Rp11.000 per kilogram kini mencapai Rp13.000 per kilogram di beberapa wilayah. Meski demikian, para pedagang mengaku tidak mengurangi porsi dagangan mereka.
Menurut pedagang, permintaan justru cenderung stabil, bahkan meningkat menjelang hari besar keagamaan. Mereka menduga lonjakan pembelian terjadi karena masyarakat ingin menyimpan stok di rumah. Namun, mereka memastikan tidak ada panic buying yang signifikan seperti yang terjadi pada awal pandemi.
Seorang pemilik warung di Depok menambahkan bahwa dirinya sengaja menambah stok beras dari biasanya untuk mengantisipasi permintaan Ramadan dan Idulfitri. Ia mengatakan bahwa pasokan dari agen tetap lancar, meskipun ia harus membayar lebih mahal. "Saya tambah stok, bukan karena langka, tapi karena permintaan naik," ujarnya.
Respons Pemerintah dan Harapan Pedagang
Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional telah menyalurkan beras cadangan pemerintah ke sejumlah pasar untuk menstabilkan harga. Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) juga terus berjalan di berbagai daerah. Namun, sejumlah pedagang mengeluhkan bahwa beras SPHP yang dijual dengan harga lebih murah justru membuat konsumen membandingkan harga dan menekan pedagang untuk menurunkan harga jual.
Para pedagang berharap pemerintah tidak hanya fokus pada operasi pasar, tetapi juga memperbaiki tata niaga beras dari hulu ke hilir. Mereka menilai bahwa rantai distribusi yang panjang membuat harga di tingkat konsumen terus melambung. Selain itu, mereka meminta kepastian pasokan dari Bulog dan distributor swasta agar tidak terjadi kekosongan di wilayah tertentu.
Meski ada bantahan dari kalangan pedagang, isu kelangkaan beras tetap menjadi perhatian publik. Sejumlah konsumen mengaku tetap waspada dan membeli beras dalam jumlah lebih banyak dari biasanya. Perbedaan informasi di lapangan ini menunjukkan bahwa persoalan pangan tidak hanya soal ketersediaan, tetapi juga akses dan distribusi yang merata.
Hingga berita ini diturunkan, sejumlah warung kelontong di Jabodetabek masih melaporkan stok beras yang cukup. Mereka berharap situasi ini bertahan hingga masa panen raya berikutnya, yang diperkirakan terjadi pada Maret hingga April. Jika pasokan tetap lancar, mereka optimistis harga beras akan berangsur normal dalam beberapa pekan ke depan.
Komentar (0)