04, 2026
Olahraga

Zidane: Jacquet Sangat, Sangat, Sangat, Sangat Bagus

Jeremy Jacquet langsug moncer di dua laga perdana bareng Timnas Prancis. Zinedine Zidane pun sampai dibuat terkesima.]]>

Hesti Nasution
Hesti Nasution Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Zidane: Jacquet Sangat, Sangat, Sangat, Sangat Bagus

Zidane Puji Jacquet: Sosok di Balik Kesuksesan Sepak Bola Prancis

Zinedine Zidane memberikan penghormatan tinggi kepada Aimé Jacquet, pelatih yang membawanya meraih gelar Piala Dunia 1998 bersama tim nasional Prancis. Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan dengan penuh kekaguman, Zidane menyebut Jacquet sebagai sosok yang "sangat, sangat, sangat, sangat bagus" — sebuah penegasan berulang yang menggambarkan betapa besar pengaruh pelatih berusia 83 tahun itu terhadap karier dan kesuksesan sepak bola Prancis.

Pujian tersebut bukan tanpa alasan. Jacquet adalah arsitek utama di balik gelar Piala Dunia pertama dalam sejarah sepak bola Prancis. Di bawah kepemimpinannya, Les Bleus tampil sebagai tuan rumah pada turnamen tahun 1998 dan berhasil mengalahkan Brasil 3-0 di final yang digelar di Stade de France, Saint-Denis. Kemenangan itu menjadi momen bersejarah yang mengubah wajah sepak bola Prancis secara permanen.

Peran Jacquet dalam Karier Zidane

Bagi Zidane, hubungan dengan Jacquet bukan sekadar hubungan antara pemain dan pelatih. Jacquet adalah figur yang memberikan kepercayaan penuh kepada Zidane ketika banyak pihak masih meragukan konsistensi dan mentalitasnya di level internasional. Keputusan Jacquet untuk membangun tim di sekitar kemampuan Zidane menjadi fondasi yang membuat gelandang serang itu berkembang menjadi salah satu pemain terbaik dalam sejarah.

Zidane menegaskan bahwa tanpa visi dan ketenangan Jacquet, timnas Prancis mungkin tidak akan pernah mencapai puncak yang diraihnya pada akhir dekade 1990-an. Pendekatan Jacquet yang disiplin, terstruktur, namun tetap memberi ruang bagi kreativitas individu, menjadi kunci keseimbangan tim yang dihuni nama-nama besar seperti Didier Deschamps, Laurent Blanc, Marcel Desailly, Youri Djorkaeff, dan Fabien Barthez.

Warisan Kepemimpinan yang Bertahan Lama

Jacquet menangani timnas Prancis pada periode 1994 hingga 1998. Selama masa itu, ia membangun fondasi yang tidak hanya menghasilkan satu gelar dunia, tetapi juga menciptakan budaya kerja yang diwarisi oleh pelatih-pelatih berikutnya. Setelah Piala Dunia 1998, Jacquet memilih mundur dari posisi pelatih timnas, sebuah keputusan yang mengejutkan banyak pihak, namun ia meninggalkan warisan yang bertahan hingga generasi berikutnya.

Roger Lemerre yang menggantikan Jacquet kemudian membawa Prancis menjuarai Piala Eropa 2000, membuktikan bahwa fondasi yang dibangun Jacquet tetap kokoh. Sejumlah pengamat menilai bahwa keberhasilan tersebut tidak lepas dari struktur tim dan mentalitas juara yang ditanamkan Jacquet selama bertahun-tahun.

Pengakuan dari Generasi Emas

Pujian Zidane terhadap Jacquet sejalan dengan penghormatan yang diberikan oleh para pemain generasi emas Prancis lainnya. Banyak dari mereka secara terbuka mengakui bahwa Jacquet adalah sosok yang mampu menyatukan berbagai ego besar di dalam ruang ganti dan mengarahkannya menuju satu tujuan bersama. Kemampuannya mengelola kepribadian pemain, menjaga kedisiplinan taktis, dan meredam tekanan media menjadi faktor penting dalam perjalanan Prancis menuju gelar dunia.

Jacquet dikenal sebagai pelatih yang tidak terlalu suka menjadi pusat perhatian. Ia lebih memilih bekerja di belakang layar, membiarkan para pemainnya bersinar di depan publik. Gaya kepemimpinan seperti ini justru mendapat apresiasi tinggi dari para pemain, termasuk Zidane, yang menghargai ketulusan dan kesetiaan Jacquet terhadap proses pembinaan jangka panjang.

Kritik yang Dihadapi Jacquet

Meski akhirnya meraih kesuksesan besar, perjalanan Jacquet tidak selalu mulus. Sebelum Piala Dunia 1998, ia menghadapi banyak kritik dari media Prancis yang meragukan kemampuan taktisnya. Sebagian pihak menilai gaya permainan Prancis terlalu defensif dan kurang menghibur. Namun, Jacquet tetap pada pendiriannya, membangun tim yang solid dan efektif, lalu membungkam kritik dengan hasil nyata di lapangan.

Kemenangan di Piala Dunia 1998 menjadi jawaban paling tegas terhadap semua keraguan tersebut. Sejak saat itu, nama Jacquet dikenang sebagai salah satu pelatih paling berpengaruh dalam sejarah sepak bola Prancis, sosok yang berani mengambil keputusan sulit dan tetap tenang di bawah tekanan.

Dampak bagi Sepak Bola Prancis Modern

Keberhasilan Jacquet menjadi titik balik bagi perkembangan sepak bola Prancis secara menyeluruh. Setelah 1998, sistem pembinaan usia muda di Prancis semakin diperkuat, menghasilkan generasi pemain berkualitas yang terus bermunculan. Gelar Piala Dunia 2018 yang diraih Prancis di Rusia disebut-sebut sebagai kelanjutan dari fondasi yang diletakkan Jacquet dua dekade sebelumnya.

Dalam konteks itu, pujian Zidane terhadap Jacquet bukan sekadar nostalgia atas masa lalu. Pujian tersebut adalah pengakuan atas kontribusi nyata seorang pelatih yang mampu mengubah arah sejarah sepak bola sebuah bangsa. Bagi Zidane, Jacquet tetap menjadi teladan tentang bagaimana kesabaran, kerja keras, dan keyakinan pada sebuah visi dapat menghasilkan sesuatu yang luar biasa.

Hingga kini, nama Aimé Jacquet tetap dihormati di Prancis, baik oleh para pemain, pelatih, maupun penggemar sepak bola. Warisannya tidak hanya berupa trofi Piala Dunia, tetapi juga budaya kerja dan mentalitas juara yang terus hidup dalam tubuh timnas Prancis dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Hesti Nasution

Analis pasar modal dengan pengalaman lebih dari satu dekade di industri.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter