145 Warga Serpong Terdampak Kekeringan, Pasokan Air Ditemukan Positif E. coli
Sebanyak 145 warga di wilayah Serpong, Tangerang Selatan, mengalami kekeringan akibat terhambarnya pasokan air bersih. Masalah ini diperparah dengan temuan pasokan air yang mengandung bakteri E. coli yang berbahaya kesehatan. Warga terpaksa mengandalkan air dari sumur bor atau membeli air dalam kemasan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kepala Kelurahan Serpong Timur, Ahmad Fauzi, mengatakan bahwa kekeringan ini telah berlangsung selama dua pekan terakhir. "Awalnya hanya beberapa RT yang terdampak, namun sekarang sudah menyebar ke 15 RT dengan total 145 keluarga yang terkena imbasnya," ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (15/9).
Menurut Fauzi, kekeringan disebabkan oleh penurunan muka air tanah yang drastis. "Kita curiga ada penambangan air tanah secara ilegal di sekitar wilayah kami. Selain itu, curah hujan yang rendah di musim kemarau juga turut memperparah kondisi," jelasnya.
Temuan Bakteri Berbahaya
Lebih mengkhawatirkan, hasil uji laboratorium yang dilayakan warga menunjukkan pasokan air dari sumber-sumber yang tersisa mengandung bakteri Escherichia coli (E. coli). "Dari 15 sampel air yang diuji, 10 di antaranya positif mengandung E. coli. Tentu ini sangat berbahaya, terutama bagi anak-anak dan lansia," kata Kepala Bidang Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Tangsel, dr. Ratna Sari.
Ratna menjelaskan bahwa E. coli adalah bakteri yang biasanya ditemukan dalam usus manusia dan hewan. Keberadaannya dalam air minum menunjukkan adanya kontaminasi tinja. "Konsumsi air yang terkontaminasi E. coli dapat menyebabkan diare, muntah-muntah, hingga infeksi saluran kemih. Dalam kasus berat, dapat menyebabkan gangguan ginjal dan kematian," tambahnya.
Warga yang terdampak kekeringan terpaksa menggunakan air dari sumur bor atau membeli air dalam kemasan. "Saya harus menghabiskan Rp50.000 sehari hanya untuk membeli air minum. Karena anak saya masih kecil, saya khawatir jika menggunakan air dari sumur bor," ujar Siti Rohani, warga setempat.
Upaya Penanganan Darurat
Pemerintah setempat telah melakukan sejumlah upaya penanganan darurat. "Kami telah menyediakan mobil tangki air untuk memasok ke 3 titik di wilayah terdampak. Namun, kapasitasnya terbatas sehingga belum bisa memenuhi kebutuhan semua warga," jelas Ahmad Fauzi.
Sementara itu, Dinas Kesehatan Tangsel telah melakukan penyemprotan disinfektan di area-area terdampak dan memberikan edukasi tentang pentingnya menjaga kebersihan air. "Kami juga mendistribusikan tablet pemutih air (chlorine tablet) untuk membantu warga mengolah air sumur menjadi lebih aman diminum," kata Ratna Sari.
Dinas Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) Tangsel sedang menyelidiki penyebab penurunan muka air tanah. "Kami akan melakukan monitoring intensif selama satu minggu ke depan untuk mengetahui kondisi air tanah di wilayah tersebut. Jika memang ada penambangan air tanah ilegal, kami akan melapor ke pihak terkait," ujar Kepala Dinas AMPL Tangsel, Budi Santoso.
Kritik Terhadap Penanganan
Meski telah ada upaya penanganan, sebagian warga merasa kurang puas dengan respons pemerintah. "Mobil tangki air hanya datang sekali sehari, padahal kebutuhan air kami sangat banyak. Selain itu, tidak ada penjelasan kapan masalah ini akan selesai," keluh Ahmad, warga lainnya.
Wakil Ketua DPRD Tangsel, Herman Wijaya, menyoroti lambatnya respons pemerintah. "Pemerintah daerah seharusnya memiliki rencana darurat yang lebih komprehensif. Masalah kekeringan ini sudah bisa diprediksi, sehingga seharusnya ada antisipasi sejak dini," tegasnya.
Dinas AMPL menegaskan sedang mengupayakan solusi jangka pendek dan panjang. "Untuk jangka pendek, kami akan menambah mobil tangki air dan koordinasi dengan pihak swasta untuk menyumbangkan air. Sedangkan untuk jangka panjang, kami akan membangun sistem pengolahan air bersih di wilayah tersebut," ujar Budi Santoso.
Warga berharap masalah ini segera tuntas agar kehidupan kembali normal. "Kami hanya ingin bisa mendapatkan air bersih yang aman dan terjangkau. Air adalah hak dasar setiap warga, bukan barang mewah," pungkas Siti Rohani sambil menatap mobil tangki air yang sedang mengisi drum air di depan rumahnya.
Komentar (0)