3 Bandara Tutup Gara-Gara Erupsi Krakatau, Penumpang Diminta Cek Jadwal Terbaru
Erupsi Gunung Krakatau yang terjadi pada Rabu (11/1) berdampak signifikan pada operasional penerbangan di wilayah Banten dan Lampung. Tiga bandara di sekitar wilayah tersebut harus ditutup sementara akibat abu vulkanik yang menyelimuti langit. Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) di Tangerang, Bandara Raden Intan di Bandar Lampung, dan Bandara Internasional Sultan Thaha di Jambi menjadi korban dampak erupsi tersebut.
Menurut informasi dari pihak pengelola bandara, penutupan dilakukan sebagai langkah preventif untuk memastikan keselamatan penerbangan. Abu vulkanik yang mencapai ketinggian ribuan meter di atas permukaan laut dapat membahayakan mesin pesawat jika terhirup selama proses penerbangan.
Dampak pada Bandara Soekarno-Hatta
Bandara Internasional Soekarno-Hatta, yang menjadi gerbang utama transportasi udara di Indonesia, harus menunda sejumlah penerbangan pada siang hari. Sebanyak 25 penerbangan domestik dan 15 penerbangan internasional terkena dampak penundaan ini.
"Kami memutuskan untuk menutup sementara landasan pacu dan ruang udara di atas bandara mulai pukul 10.00 WIB hingga 16.00 WIB," ujar Kepala Unit Operasional Bandara Soetta, Budi Santoso dalam konferensi pers singkat.
Penumpang yang terkena dampak diminta untuk menghubungi maskapai masing-masing untuk informasi jadwal terbaru. Sejumlah maskapai seperti Garuda Indonesia, Lion Air, dan Sriwijaya Air telah mengeluarkan statement resmi mengenai penundaan dan pengalihan penerbangan.
situasi di Bandara Raden Intan dan Sultan Thaha
Sementara itu, di Bandara Raden Intan, Lampung, kondisi terlihat lebih parah. Abu vulkanik tebal menyebabkan visibilitas menurun drastis, sehingga pengoperasian bandara harus dihentikan total sejak pagi hari. Pihak bandara memprediksi operasional baru akan normal besok hari tergantung kondisi cuaca.
"Kami melakukan monitoring terus-menerus. Saat ini tingkat konsentrasi abu masih di atas ambang batas yang aman," jelas Kepala Bandara Raden Intan, Eko Prasetyo.
Di Jambi, Bandara Sultan Thaha juga mengalami situasi serupa. Meskipun tidak seberat di Lampung, namun abu vulkanik yang menutupi wilayah bandara membuat penerbangan tidak bisa dilakukan. Sejumlah penerbangan dari dan ke Jambi dialihkan ke bandara alternatif seperti Palembang dan Pekanbaru.
Respon Pemerintah dan Maskapai
Kementerian Perhubungan segera mengambil langkah untuk mengantisipasi dampak lebih luas. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memimpin rapat koordinasi dengan pihak terkait untuk mengevaluasi situasi dan menentukan langkah selanjutnya.
"Kami meminta seluruh pihak untuk bersabar dan kooperatif. Keselamatan adalah prioritas utama," ujar Budi Karya.
Sementara itu, maskapai-maskapai besar telah mengantisipasi situasi dengan menyiapkan tim khusus untuk menginformasikan penumpang. Garuda Indonesia mengoperasikan call center 24 jam untuk menangani pertanyaan penumpang mengenai jadwal penerbangan.
"Kami memahami situasi ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan. Oleh karena itu, kami akan memberikan kompensasi sesuai peraturan yang berlaku," tambah Corporate Secretary Garuda Indonesia, Pujo Handoko.
Rekomendasi untuk Penumpang
Para penumpang yang memiliki jadwal penerbangan di wilayah terdampak diminta untuk memeriksa status penerbangan melalui aplikasi atau situs web maskapai sebelum berangkat ke bandara. Pihak bandara juga menyarankan untuk membawa masker sebagai persiapan mengantisipasi kondisi udara yang buruk.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi abu vulkanik akan terus menyebar hingga Kamis (12/1) pagi. Namun, intensitasnya diperkirakan akan menurun seiring dengan menurunnya aktivitas erupsi Gunung Krakatau.
Penutupan bandara ini bukan kali pertama terjadi akibat aktivitas vulkanik. Sebelumnya, erupsi Gunung Agung di Bali pada 2017 lalu juga menyebabkan penutupan sementara Bandara Ngurah Rai selama beberapa hari. Pihak berharap situasi di tiga bandara yang terdampat dapat segera normal kembali.
Komentar (0)