23, 2026
Nasional

3 Hari Kebakaran TPA Supiturang Malang, BNPB Kerahkan Heli Water Bombing

Titik panas masih terdeteksi di TPA Supiturang, Malang, setelah kebakaran. BNPB kerahkan helikopter water bombing untuk pemadaman lebih cepat.]]>

Kirana Utami
Kirana Utami Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

3 Hari Kebakaran TPA Supiturang Malang, BNPB Kerahkan Heli Water Bombing

Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supiturang, Kota Malang, Jawa Timur, belum berhasil dipadamkan meski telah berlangsung selama tiga hari. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan helikopter untuk melakukan water bombing atau pengeboman air dari udara guna mempercepat proses pemadaman pada titik-titik api yang masih aktif.

Pengerahan helikopter tersebut menjadi bagian dari upaya penanganan darurat yang melibatkan pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Pemadam Kebakaran, serta unsur TNI dan Polri. Water bombing dinilai diperlukan karena titik-titik api berada di area timbunan sampah yang luas dan sulit dijangkau oleh kendaraan pemadam kebakaran dari jalur darat.

Penanganan Darurat dan Water Bombing

Operasi water bombing dilakukan dengan menjatuhkan air dari udara tepat di atas zona yang masih mengeluarkan asap tebal dan bara api. Metode ini dipilih untuk menjangkau bagian tengah timbunan sampah yang tidak dapat dijangkau selang pemadam konvensional. Setiap kali air dijatuhkan, tim darat bergerak untuk membuka jalur dan membasahi material yang masih membara agar api tidak kembali menyala.

Selain helikopter, pemadaman di darat tetap dilakukan dengan mengerahkan armada pemadam kebakaran, mobil tangki suplai air, serta alat berat untuk membongkar timbunan sampah. Pembongkaran material dinilai penting karena api pada kebakaran TPA umumnya membakar lapisan dalam timbunan, sehingga penyiraman dari permukaan saja tidak cukup untuk memadamkannya secara menyeluruh.

BNPB menyatakan bahwa penanganan kebakaran TPA membutuhkan strategi khusus dan waktu yang tidak singkat. Karakteristik sampah yang padat, bercampur material organik dan plastik, serta adanya rongga-rongga di dalam timbunan membuat api mudah tersembunyi dan kembali muncul setelah permukaan disiram.

Kendala Pemadaman di Lokasi

Sejumlah kendala di lapangan memperlambat proses pemadaman. Selain akses jalan yang terbatas untuk kendaraan besar, pasokan air menjadi persoalan tersendiri karena kebutuhan air untuk memadamkan area seluas TPA sangat besar. Kondisi angin yang berubah-ubah juga memengaruhi arah penyebaran api dan asap.

Faktor lain adalah potensi gas metana yang terbentuk dari pembusukan sampah organik. Gas ini mudah terbakar dan dapat memicu munculnya titik api baru di bagian timbunan yang sebelumnya telah disiram. Karena itu, tim di lapangan tidak hanya berupaya memadamkan api, tetapi juga melakukan pendinginan pada material yang sudah dibasahi agar tidak terjadi penyalaan ulang.

Dampak bagi Warga dan Lingkungan

Kebakaran yang berlangsung berhari-hari menimbulkan asap tebal yang terbawa angin ke kawasan permukiman di sekitar TPA. Paparan asap dalam waktu lama berpotensi mengganggu kesehatan warga, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan.

Selain dampak kesehatan, asap juga mengganggu aktivitas sehari-hari warga, mulai dari kegiatan di luar ruang hingga aktivitas belajar. Pemerintah daerah diimbau memantau kualitas udara di sekitar lokasi dan menginformasikan langkah perlindungan diri kepada masyarakat, termasuk penggunaan masker ketika beraktivitas di luar ruangan.

Antisipasi dan Pengelolaan Sampah

Kebakaran TPA menjadi persoalan yang berulang di berbagai daerah, terutama pada musim kemarau. Kondisi cuaca panas, tumpukan sampah yang melebihi kapasitas, serta praktik pembakaran sampah di sekitar lokasi menjadi faktor yang memperbesar risiko terjadinya kebakaran.

Karena itu, penanganan jangka panjang tidak cukup hanya dengan pemadaman. Diperlukan pengelolaan sampah yang lebih baik, pemilahan sejak dari sumber, pengurangan timbunan organik, serta pengawasan terhadap aktivitas pembakaran sampah liar. Upaya tersebut dinilai penting untuk menekan potensi kebakaran serupa di masa mendatang.

Hingga kini, proses pemadaman di TPA Supiturang masih berlanjut. Petugas di lapangan terus melakukan pembasahan dan pemantauan titik panas untuk memastikan api tidak kembali membesar. Pemerintah mengimbau warga tetap waspada, menghindari area sekitar TPA, dan mengikuti arahan petugas selama proses penanganan berlangsung.

Pengiriman helikopter untuk water bombing menunjukkan bahwa penanganan kebakaran di TPA Supiturang dilakukan secara terpadu, melibatkan pemerintah pusat dan daerah. Meski demikian, keberhasilan pemadaman tetap bergantung pada kondisi lapangan, ketersediaan air, serta kerja sama seluruh pihak, termasuk masyarakat, agar sumber api tidak kembali muncul dan dampak asap dapat segera berakhir.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Kirana Utami

Reporter lapangan yang kerap menyoroti UMKM dan ekonomi kerakyatan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter