30, 2026
Nasional

4.922 Sekolah Terdampak Bencana Sumatera Kembali Gelar Pembelajaran

Lestari Purnama
Lestari Purnama Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Sebanyak 4.922 Sekolah Terdampak Bencana Sumatera Kembali Gelar Pembelajaran

Sebanyak 4.922 sekolah yang terdampak rangkaian bencana di wilayah Sumatera dilaporkan kembali menyelenggarakan kegiatan pembelajaran. Pemulihan aktivitas pendidikan tersebut berlangsung secara bertahap setelah sejumlah daerah dinyatakan cukup aman untuk kembali menggelar kegiatan belajar mengajar, baik secara tatap muka terbatas maupun melalui kombinasi dengan pembelajaran jarak jauh.

Data tersebut dihimpun dari laporan dinas pendidikan di sejumlah provinsi yang mengalami dampak bencana, mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, hingga sejumlah kabupaten di wilayah tengah dan selatan Pulau Sumatera. Pemulihan pembelajaran menjadi salah satu prioritas karena kegiatan pendidikan dinilai penting untuk memulihkan rutinitas anak-anak sekaligus mengurangi risiko dampak psikososial berkepanjangan akibat bencana.

Pemulihan Bertahap di Berbagai Daerah

Proses pemulihan sekolah dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah aspek, antara lain kondisi bangunan, ketersediaan tenaga pendidik, serta situasi keamanan di lingkungan sekitar. Sekolah-sekolah yang bangunannya masih berdiri dan dinilai layak digunakan dapat langsung menggelar pembelajaran tatap muka, sementara sekolah yang mengalami kerusakan berat memanfaatkan ruang alternatif seperti tenda darurat, balai desa, rumah ibadah, atau bangunan fasilitas umum lainnya.

Selain itu, sejumlah sekolah menerapkan pembelajaran campuran dengan memanfaatkan perangkat digital. Pendekatan ini diambil untuk mengakomodasi siswa yang masih berada di lokasi pengungsian atau belum dapat mengakses sekolah karena kendala transportasi dan kondisi jalan yang rusak.

Pemerintah daerah bersama kementerian terkait terus melakukan pendataan terhadap sekolah yang belum dapat beroperasi kembali. Sekolah-sekolah tersebut umumnya berada di kawasan yang mengalami kerusakan infrastruktur paling parah, termasuk akses jalan yang terputus dan pasokan listrik yang belum pulih sepenuhnya.

Kendala yang Dihadapi di Lapangan

Meskipun pembelajaran telah kembali berjalan, sejumlah kendala masih dihadapi di lapangan. Salah satunya adalah keterbatasan sarana dan prasarana, seperti ruang kelas yang rusak, meja dan kursi yang hilang atau tidak layak pakai, serta buku dan alat peraga yang terdampak air atau lumpur.

Kendala lain adalah kondisi psikologis siswa dan guru. Banyak peserta didik yang masih menunjukkan gejala trauma, sehingga membutuhkan pendampingan khusus sebelum dapat mengikuti pembelajaran secara normal. Guru-guru juga menghadapi beban tambahan karena harus menyesuaikan materi dengan kondisi yang serba terbatas, sekaligus turut membantu proses pemulihan di lingkungan sekolah masing-masing.

Keterbatasan tenaga pendidik menjadi persoalan tersendiri di sejumlah daerah. Sebagian guru turut menjadi korban bencana, sementara sebagian lainnya masih mengungsi atau harus mengurus keluarga. Kondisi ini membuat sejumlah sekolah terpaksa menggabungkan beberapa kelas atau mengatur jadwal bergilir agar kegiatan belajar tetap berlangsung.

Dukungan Pemerintah dan Lembaga Kemanusiaan

Pemerintah pusat dan daerah menyatakan terus menyalurkan bantuan untuk mendukung pemulihan pendidikan. Bantuan tersebut mencakup perbaikan sementara bangunan sekolah, pengadaan perlengkapan belajar, distribusi buku, serta dukungan psikososial bagi siswa dan guru.

Sejumlah lembaga kemanusiaan dan organisasi masyarakat juga turut berkontribusi dengan mendirikan kelas darurat, menyediakan paket sekolah, serta menggelar kegiatan pemulihan trauma bagi anak-anak. Kolaborasi lintas sektor dinilai penting mengingat skala dampak bencana yang cukup luas dan mencakup banyak kabupaten di beberapa provinsi.

Kementerian Pendidikan menekankan bahwa pemulihan sekolah tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga pada keberlanjutan proses belajar. Anak-anak diharapkan dapat segera kembali memperoleh hak pendidikan meskipun dalam kondisi darurat, sebagai bagian dari upaya pemulihan sosial dan ekonomi jangka panjang di wilayah terdampak.

Pentingnya Keberlanjutan Pendidikan

Pengamat pendidikan menilai kembalinya kegiatan belajar di 4.922 sekolah menjadi indikator positif bahwa proses pemulihan pascabencana mulai berjalan. Namun, keberlanjutan pemulihan masih bergantung pada konsistensi dukungan, terutama perbaikan infrastruktur dan ketersediaan anggaran pemulihan pendidikan.

Jika pemulihan tidak berjalan merata, dikhawatirkan muncul kesenjangan akses pendidikan antara siswa di daerah yang cepat pulih dan siswa di daerah yang masih tertinggal. Karena itu, pendataan yang akurat dan distribusi bantuan yang tepat sasaran menjadi kunci agar seluruh siswa terdampak dapat memperoleh layanan pendidikan secara setara.

Dengan kembali beroperasinya ribuan sekolah tersebut, harapan akan pemulihan yang lebih menyeluruh di wilayah Sumatera semakin terbuka. Pemerintah menargetkan seluruh sekolah terdampak dapat kembali menyelenggarakan pembelajaran secara normal, seiring dengan percepatan perbaikan infrastruktur dan pemulihan kondisi sosial ekonomi masyarakat di daerah bencana.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Lestari Purnama

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter