Abu Anak Krakatau Belum Hilang, Belajar Online di Jakarta Diperpanjang
Gunung Anak Krakatau yang kembali memunculkan aktivitas vulkanik sejak akhir Agustus lalu masih terus mengalami erupsi. Abu vulkanik yang dihasilkan gunung berapi ini masih terdeteksi di wilayah Jakarta dan sekitarnya, sehingga pemerintah daerah memutuskan untuk memperpanjang kebijakan belajar online bagi sejumlah sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan Jakarta, Ngatarina Aruan, mengatakan bahwa keputusan untuk memperpanjang pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar online diambil setelah mempertimbangkan kondisi cuaca dan kualitas udara di ibu kota. "Kami masih mendapatkan laporan bahwa tingkat partikulat halus (PM2.5) di beberapa wilayah Jakarta masih berada di atas ambang batas normal. Untuk itu, kami memutuskan untuk melanjutkan belajar online untuk beberapa tingkat pendidikan," ujarnya, Selasa (12/9).
Kondisi Abu Vulkanik Masih Terdeteksi
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih menunjukkan aktivitas vulkanik yang tinggi. Sejak Agustus 2023, gunung ini telah mengalami lebih dari 50 kali letusan dengan tinggi kolom abu mencapai 800-1.200 meter di atas puncak.
"Abu vulkanik dari Anak Krakatau masih terbawa angin dan menyebar ke beberapa wilayah di Jawa Barat dan Banten. Beberapa kali, Jakarta juga terdampak dengan tingkat partikulat yang bervariasi," kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Gempa BMKG, Hendra Gunawan.
Menurut data BMKG, konsentrasi PM2.5 di Jakarta pada beberapa hari terakhir masih berkisar antara 15-45 mikrogram per meter kubik, yang masih di atas ambang batas aman sebesar 15 mikrogram per meter kubik menurut standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Dampak pada Aktivitas Belajar
Dengan kondisi ini, pemerintah provinsi Jakarta memutuskan untuk memperpanjang kebijakan belajar online untuk tingkat SD dan SMP hingga 22 September 2023. Sementara itu, untuk jenjang SMA/SMK dan perguruan tinggi, pembelajaran dilakukan secara tatap muka namun dengan protokol kesehatan yang ketat.
"Kami memprioritaskan kesehatan para siswa, terutama yang masih berusia dini. Anak-anak lebih rentan terhadap dampak kualitas udara yang buruk. Untuk itu, kami meminta sekolah untuk tetap melakukan pembelajaran online hingga kondisi membaik," tambah Ngatarina.
Sejumlah kepala sekolah di Jakarta menyambut baik keputusan ini. Kepala SDN Menteng 01, Iwan Setiawan, mengatakan bahwa para guru telah menyiapkan berbagai metode pembelajaran daring yang efektif. "Kami menggunakan berbagai platform digital seperti Google Classroom, Zoom Meeting, dan juga mengirimkan materi pembelajaran melalui WhatsApp. Para orang tua juga telah terbiasa dengan sistem ini selama pandemi COVID-19," jelasnya.
Persiapan untuk Pembelajaran Tatap Muka Kembali
Meskipun pembelajaran online diperpanjang, pemerintah daerah Jakarta sudah mempersiapkan langkah-langkah untuk kembali ke pembelajaran tatap muka sepenuhnya. Salah satu persiapan yang sedang dilakukan adalah pengecekan kualitas udara secara rutin di seluruh sekolah.
"Kami akan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dan BMKG untuk memantau kualitas udara setiap hari. Jika dalam tiga hari berturut-turut tingkat partikulat turun di bambing ambang batas aman, maka kami akan segera mengizinkan kembali pembelajaran tatap muka," jelas Ngatarina.
Para siswa dan orang tua di Jakarta diminta untuk tetap waspada terhadap perkembangan kondisi cuaca dan kualitas udara. Jika merasa ada gejala gangguan pernafasan seperti batuk, sesak napas, atau iritasi mata, disarankan untuk segera berkonsultasi dengan tenaga medis.
Sementara itu, Gunung Anak Krakatau terus dipantau oleh PVMBG. Warga di sekitar wilayah Selat Sunda diminta untuk tetap waspada dan mematuhi instruksi pemerintah terkait aktivitas gunung berapi tersebut.
Komentar (0)