Abu Vulkanik Anak Krakatau Capai Banten, Warga Keluhkan Mata Perih
Abu vulkanik dari letusan Gunung Anak Krakatau pada Kamis (5/9/2023) terdeteksi menyelimuti wilayah Banten. Warga setempat mengeluhkan kondisi mata yang terasa perih dan iritasi akibat debu vulkanik yang menyebar. Dinas Kesehatan Provinsi Banten segera mengimbau warga untuk mengenakan masker saat aktivitas di luar ruangan guna mengurangi dampak negatif terhadap kesehatan.
Menurut informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Abu vulkanik dari Anak Krakatau terdeteksi di beberapa titik di wilayah Banten, termasuk Kota Serang, Kabupaten Serang, dan Kabupaten Pandeglang. Kondisi ini terjadi menyusul letusan terjadi pada pukul 10.15 WIB dengan tinggi kolom abu mencapai 500 meter di atas puncak gunung.
Dampak Terhadap Kesehatan Warga
Beberapa warga di Banten melaporkan gejala masalah kesehatan setelah terpapar abu vulkanik. Keluhan yang paling umum adalah mata yang terasa perih, bersin-bersin, dan batuk-batuk. "Mata terasa perih dan berair sejak pagi tadi. Saya juga sering bersin," ujar Siti, warga Kecamatan Baros, Kabupaten Serang, kepada wartawan.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, dr. H. Rudiawan, menjelaskan bahwa abu vulkanik mengandung partikel-partikel halus yang dapat merangsang saluran pernafasan dan mata. "Partikel-partikel ini dapat masuk ke saluran pernafasan hingga ke paru-paru dan menimbulkan iritasi. Untuk mata, partikel debu dapat menyebabkan iritasi konjungtiva," jelasnya.
Rudiawan menambahkan bahwa kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita asma atau alergi lebih berisiko mengalami dampak serius dari paparan abu vulkanik. "Kami sudah meminta puskesmas untuk siap mengantisipasi peningkatan pasien dengan gejala terpapar abu vulkanik," tambahnya.
Upaya Pencegahan dan Tanggap Darurat
Pemerintah Provinsi Banten telah mengeluarkan beberapa imbauan untuk mencegah dampak buruk dari abu vulkanik. Warga diminta untuk mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama masker N95 atau KN95 yang dapat menyaring partikel-partikel halus. Selain itu, warga juga disarankan untuk memakai kacamata pelindung dan kausa untuk menutupi wajah.
"Kami juga telah mempersiapkan beberapa rumah sakit dan puskesmas untuk menangani pasien yang terkena dampak abu vulkanik. Obat-obatan seperti obat batuk, obat pereda gejala alergi, dan tetes mata telah disiapkan," jelas Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten.
Sementara itu, Dinas Perhubungan Banten telah meminta para pengendara sepeda motor untuk berhati-hati saat berkendara karena kondisi jalan yang mungkin licin akibat debu. "Para pengendara juga disarankan untuk memakai helm dengan visor tertutup atau kacamata pelindung untuk melindungi mata dari debu," ujar Kepala Dinas Perhubungan Banten.
Status Gunung Anak Krakatau
Gunung Anak Krakatau terus dimonitor oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Geologi (PVMBG). Status gunung saat ini masih berada pada Level II (Waspada) dengan potensi letusan kecil hingga sedang.
"Kami terus memantau aktivitas Anak Krakatau. Jika ada peningkatan aktivitas, kami akan segera memberikan peringkat yang lebih tinggi," jelas Kepala PVMBG, Kasbani, dalam keterangannya.
Warga di sekitak Gunung Anak Krakatau diminta untuk tetap waspada dan mematuhi imbauan dari pihak berwenang. "Jangan beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari puncak gunung karena risiko jatuhnya material vulkanik masih tinggi," tambah Kasbani.
Letusan Gunung Anak Krakatau pada 2018 pernah menewaskan sejumlah warga dan mengakibatkan tsunami. Meskipun aktivitas saat ini dianggap tidak sebesar letusan pada 2018, pihak berwenang tetap waspada dan mengimbau warga untuk selalu siap menghadapi kemungkinan bencana.
Komentar (0)