16, 2026
Nasional

Akses Rumah Pasutri Lansia di Jaktim Ditembok Tetangga, Lurah Mediasi

Pasangan lansia di Cipinang Melayu terkurung di rumah karena akses jalan ditutup tetangga. Mediasi dilakukan untuk mencari solusi dan membuka kembali akses.]]>

Galih Nasution
Galih Nasution Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Akses Rumah Pasutri Lansia di Jaktim Ditembok Tetangga, Lurah Mediasi

Akses Rumah Pasutri Lansia di Jakarta Timur Diblokir Tembok, Lurah Langsung Turun Tangan

Sebuah konfek antara dua tetangga di Jakarta Timur menimbulkan kecaman khususnya pasutri lanjut usia yang akses masuk ke rumahnya diblokir tembok oleh tetangganya sendiri. Kejadian ini terjadi di Kelurahan Cipinang, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, dan memerlukan intervensi lurah setempat untuk menyelesaikan masalah yang semakin memanas tersebut.

Menurut keterangan saksi mata, konflik bermula ketika pasutri lanjut usia, Bapak Ahmad (72) dan Ibu Siti (68), merasa terganggu dengan aktivitas tetangganya, Bapak Eko (45), yang sering mengadakan pesta hingga larut malam. Keluhan dari pasutri lansia ini kemudian berujung pada konflik fisik yang membuat hubungan tetangga semakin memburuk.

Kronologi Konflik Antara Tetangga

Konfek antara kedua belah pihak terjadi sekitar tiga bulan lalu ketika Bapak Ahmad mendatangi rumah Bapak Eko untuk mengeluh tentang kebisingan yang terjadi hingga tengah malam. Namun, pertemuan tersebut berujung pada adu mulut dan hampir terjadi perkelahian jika tidak ada tetangga lain yang memisahkan keduanya.

Sejak insiden tersebut, hubungan antara kedua tetangga menjadi sangat tegang. Bapak Eko merasa tersinggung dengan keluhan yang dia anggap tidak proporsional, sementara pasutri lansia merasa terganggu dengan aktivitas yang terus berulang. Situasi ini mencapai titik kritis ketika Bapak Eko memutuskan membangun tembok di bagian akses jalan menuju rumah pasutri lansia, yang secara efektif memblokir akses masuk dan keluar mereka.

Tembok Blokir Akses Rumah

Tembok setinggi dua meter dengan lebar sekitar tiga meter tersebut dibangun Bapak Eko di sepanjang jalan kecil yang menjadi akses utama menuju rumah pasutri lansia. Akses ini satu-satunya jalan yang bisa dilalui oleh pasutri lansia untuk keluar masuk ke rumah mereka, mengingat bagian belakang rumah mereka berbatasan dengan sungai dan tidak dapat dilalui.

"Kami tidak bisa keluar masuk dengan mudah. Jalan ini satu-satunya akses kami. Ketika kami hendak ke dokter atau membeli kebutuhan sehari-hari, kami harus berjauh lebih jauh atau minta tolong tetangga lain membuka tembok tersebut," keluh Ibu Siti saat ditemui di kediamannya, Senin (15/5).

Keberadaan tembok ini tidak hanya menyulitkan aktivitas sehari-hari pasutri lansia, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran akan masalah kemanusiaan lainnya. Dikhawatirkan jika terjadi keadaan darurat seperti kebakaran atau kondisi kesehatan mendesak, pasutri lansia akan kesulitan untuk dievakuasi.

Intervensi Lurah

Mendapati kondisi yang semakin memanas, Lurah Cipinang, Bapak Hendra, langsung turun tangan untuk melakukan mediasi antara kedua belah pihak. Pihak kecamatan merasa perlu segera menyelesaikan masalah ini guna mencegah konflik yang lebih besar yang dapat merusak ketentraman warga setempat.

"Kami sudah melakukan beberapa kali mediasi. Awalnya Bapak Eko bersikeras tidak akan merobohkan tembok tersebut dengan alasan untuk keamanan dirinya. Namun setelah kami jelaskan dampaknya terhadap pasutri lansia, akhirnya dia bersedia berunding," jelas Lurah Hendra.

Dalam mediasi yang dipimpin langsung oleh lurah tersebut, kedua belah pihak sepakat untuk menyelesaikan masalah secara damai. Bapak Eko setuju untuk merobohkan sebagian tembok yang memblokir akses utama, dengan catatan pasutri lansia tidak akan lagi mengeluhkan kebisingan yang terjadi di rumahnya.

Solusi Jangka Panjang

Untuk mencegah konflik sering terulang, pihak kecamatan berencana membentuk forum komunikasi tetangga yang rutin diadakan setiap tiga bulan sekali. Forum ini bertujuan untuk membangun komunikasi yang lebih baik antar tetangga serta menjadi sarana untuk menyelesaikan masalah secara kekeluargaan.

Selain itu, pihak kecamatan juga akan memfasilitasi pembangunkan akses alternatif bagi pasutri lansia agar tidak sepenuhnya bergantung pada jalan yang sebelumnya diblokir. "Kami akan koordinasi dengan dinas terkait untuk membangun jalan kecil di sisi lain yang dapat diakses oleh pasutri lansia," tambah Lurah Hendra.

Kasus ini menjadi pelajaran bagi masyarakat Jakarta khususnya tentang pentingnya kebersamaan dan komunikasi dalam membangun ketentraman permukiman. Konflik yang sepele dapat menjadi besar jika tidak segera ditangani dengan cara yang konstruktif.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Galih Nasution

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter