Jakarta – Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI) Moeldoko menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh sekadar menjadi pasar bagi kendaraan listrik global. Menurutnya, ambisi besar untuk membangun ekosistem kendaraan listrik nasional harus diwujudkan agar Indonesia berperan sebagai pemain utama dalam rantai pasok dunia, bukan hanya sebagai konsumen yang menyerap produk jadi dari luar negeri.
Pernyataan tersebut disampaikan Moeldoko dalam sejumlah forum diskusi ekonomi dan industri belakangan ini. Ia menilai kekayaan sumber daya alam Indonesia, khususnya nikel dan bahan baku baterai, seharusnya menjadi fondasi kuat untuk membangun industri kendaraan listrik yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Selama ini, kata dia, sebagian besar nikel Indonesia masih diekspor dalam bentuk bahan mentah atau setengah jadi, sementara produk akhir kendaraan listrik justru dipasok dari negara lain.
Peringatan soal Ketergantungan Impor
Moeldoko mengingatkan bahwa tanpa strategi industri yang jelas, Indonesia berisiko terjebak dalam pola ketergantungan impor kendaraan listrik. Pasar domestik yang besar dinilai hanya akan menguntungkan produsen asing apabila pemerintah dan pelaku usaha dalam negeri tidak mampu membangun kapasitas produksi sendiri. Ia menyoroti pentingnya penguasaan teknologi, riset, dan pengembangan sumber daya manusia sebagai kunci untuk keluar dari posisi sebagai pasar semata.
“Ini soal kedaulatan industri. Jangan sampai Indonesia hanya jadi tempat menjual mobil listrik, sementara nilai tambah terbesar dinikmati negara lain,” ujar Moeldoko dalam salah satu kesempatan, menggambarkan kekhawatiran yang selama ini ia sampaikan kepada para pemangku kepentingan.
Ia menilai hilirisasi nikel yang telah berjalan harus dilanjutkan ke tahap yang lebih tinggi, tidak berhenti pada produksi baterai atau komponen dasar. Langkah berikutnya adalah mendorong produksi sel baterai, motor listrik, dan perakitan kendaraan utuh di dalam negeri. Dengan begitu, Indonesia dapat menciptakan lapangan kerja berkualitas serta meningkatkan penerimaan negara dari sektor industri bernilai tambah tinggi.
Peran Kawasan Industri dan Investasi
Sebagai Ketua Umum HKI, Moeldoko menekankan bahwa kawasan industri memiliki peran strategis dalam mewujudkan cita-cita tersebut. Kawasan industri yang tertata, terintegrasi dengan infrastruktur energi, dan memiliki fasilitas pendukung dinilai mampu menarik investasi sektor kendaraan listrik, termasuk dari produsen global yang tengah mencari lokasi produksi baru. Ia menyebut sejumlah kawasan industri di Jawa dan luar Jawa tengah bersiap menampung investasi industri baterai dan kendaraan listrik.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa daya tarik investasi tidak cukup hanya mengandalkan insentif fiskal. Kepastian regulasi, kemudahan perizinan, ketersediaan energi bersih, dan kualitas tenaga kerja menjadi faktor penentu. Menurutnya, pemerintah perlu menyusun peta jalan yang konsisten agar pelaku usaha memiliki kepastian jangka panjang untuk menanamkan modal.
Kolaborasi Lintas Sektor Diperlukan
Moeldoko mendorong kolaborasi antara pemerintah, badan usaha milik negara, swasta nasional, dan investor asing dalam membangun ekosistem kendaraan listrik. Ia mencontohkan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dan lembaga riset untuk mengembangkan teknologi baterai, sistem pengisian daya, serta komponen kendaraan yang selama ini masih diimpor. Kolaborasi semacam ini dinilai dapat mempercepat alih teknologi dan mengurangi ketergantungan pada pasokan luar negeri.
Selain aspek industri, ia menyoroti pentingnya pengembangan pasar domestik yang sehat. Insentif pembelian kendaraan listrik, pembangunan stasiun pengisian daya yang merata, serta standar teknis yang jelas disebut dapat mendorong adopsi masyarakat. Namun, kebijakan tersebut harus dirancang agar tetap mendorong produksi dalam negeri dan tidak sekadar memperbesar impor kendaraan jadi.
Tantangan dan Peluang
Sejumlah tantangan masih membayangi ambisi Indonesia menjadi pemain utama kendaraan listrik. Mulai dari persaingan global yang ketat, fluktuasi harga nikel, hingga kebutuhan investasi besar pada infrastruktur dan teknologi. Meski demikian, Moeldoko optimistis Indonesia memiliki modal dasar yang kuat. Posisi sebagai salah satu produsen nikel terbesar dunia, pasar domestik yang besar, serta bonus demografi dinilai menjadi kombinasi yang sulit ditandingi negara lain.
Ia menekankan bahwa keputusan politik dan keberlanjutan kebijakan akan menentukan apakah ambisi tersebut dapat terwujud. Menurutnya, pergantian pemerintahan tidak boleh mengubah arah besar pembangunan industri kendaraan listrik, karena investasi di sektor ini bersifat jangka panjang dan membutuhkan kepercayaan dari pelaku pasar.
Dengan menggabungkan hilirisasi sumber daya alam, penguatan kawasan industri, dan pengembangan teknologi, Moeldoko berharap Indonesia tidak lagi hanya menjadi pasar mobil listrik dunia. Ia ingin Indonesia dikenal sebagai negara produsen yang mampu memasok kendaraan listrik ke pasar global, sekaligus menikmati nilai tambah terbesar dari rantai pasok industri yang sedang tumbuh pesat tersebut.
Komentar (0)