Paris — Gelombang unjuk rasa yang digerakkan kelompok Rompi Kuning (Gilets Jaunes) di Paris berujung ricuh. Kerusuhan meluas ke sejumlah kawasan pusat kota, menyebabkan bangunan bersejarah terbakar, fasilitas publik dirusak, dan ratusan orang diamankan. Kepolisian Prancis melaporkan sedikitnya 1.800 orang ditangkap dalam operasi penertiban yang berlangsung sejak pagi hingga larut malam.
Kerusuhan kali ini disebut sebagai salah satu yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Massa yang mengenakan rompi reflektif kuning berkumpul di sejumlah titik strategis, termasuk sekitar Champs-Élysées, Place de la Concorde, dan kawasan sekitar Arc de Triomphe. Bentrokan dengan aparat keamanan terjadi setelah sebagian peserta aksi menolak membubarkan diri dan melempari petugas dengan batu, botol, serta benda keras lainnya.
Eskalasi dari Demonstrasi Damai Menjadi Kerusuhan
Menurut keterangan kepolisian, aksi dimulai sebagai demonstrasi damai yang menuntut perbaikan daya beli, penurunan harga bahan bakar, dan penolakan terhadap kebijakan ekonomi pemerintah yang dinilai memberatkan kelas pekerja. Namun, situasi berubah cepat ketika sekelompok peserta yang diduga berasal dari kelompok radikal memisahkan diri dari barisan utama dan mulai melakukan perusakan.
Petugas keamanan yang bersiaga sejak pagi mengerahkan kendaraan taktis, meriam air, dan gas air mata untuk membubarkan massa. Sejumlah ruas jalan utama ditutup, sementara beberapa stasiun metro dihentikan operasinya untuk mencegah pergerakan massa yang semakin sulit dikendalikan. Kepulan asap tebal terlihat di beberapa lokasi, memicu kepanikan warga dan wisatawan yang berada di sekitar pusat kota.
Seorang pejabat kepolisian setempat menyatakan bahwa pihaknya mengerahkan personel dalam jumlah besar untuk mencegah kerusuhan menyebar ke kawasan lain. Ia menyebut sebagian besar penangkapan dilakukan karena peserta aksi membawa senjata tajam, benda yang bisa digunakan untuk merusak, serta terlibat langsung dalam aksi perusakan.
Bangunan Bersejarah Ikut Terdampak
Kerusuhan meninggalkan kerusakan signifikan pada sejumlah bangunan bersejarah dan fasilitas umum. Api dilaporkan membakar bagian dari beberapa bangunan tua di kawasan pusat kota, termasuk struktur yang memiliki nilai arsitektural dan historis tinggi. Petugas pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan api di tengah situasi keamanan yang belum kondusif.
Selain bangunan bersejarah, sejumlah kafe, toko, dan kantor bank menjadi sasaran penjarahan serta perusakan. Kaca etalase pecah, fasilitas umum seperti halte dan tempat sampah dibakar, sementara beberapa kendaraan yang terparkir di jalan mengalami kerusakan. Pemerintah kota memperkirakan kerugian material mencapai angka yang tidak sedikit, meski penghitungan resmi masih dilakukan.
Kerusakan pada bangunan bersejarah menjadi perhatian khusus karena sulit dan mahal untuk diperbaiki. Kalangan pegiat pelestarian cagar budaya mendesak pemerintah melakukan pendataan menyeluruh terhadap bangunan yang terdampak, sekaligus memastikan proses restorasi berjalan sesuai kaidah pelestarian.
Penangkapan Massal dan Respons Aparat
Kepolisian mencatat sekitar 1.800 orang ditangkap dalam rangkaian kerusuhan tersebut. Sebagian dari mereka kemudian dibebaskan karena tidak cukup bukti, sementara sisanya ditahan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Aparat juga menyita sejumlah barang bukti, antara lain benda tumpul, masker, dan perlengkapan yang diduga digunakan untuk menutupi identitas.
Menteri Dalam Negeri menegaskan bahwa negara tidak akan mentoleransi tindakan anarkistis yang mengancam keselamatan warga dan merusak fasilitas publik. Ia menekankan bahwa hak menyampaikan pendapat di muka umum tetap dilindungi, tetapi tidak boleh diwarnai kekerasan dan perusakan properti.
Sejumlah organisasi hak asasi manusia meminta otoritas setempat meninjau prosedur penangkapan, terutama terkait dugaan penahanan terhadap peserta aksi yang tidak terbukti melakukan kekerasan. Mereka mendesak adanya transparansi dalam proses hukum bagi setiap orang yang ditahan.
Latar Belakang Gerakan Rompi Kuning
Gerakan Rompi Kuning muncul sebagai bentuk protes terhadap kebijakan yang dianggap memperlebar kesenjangan ekonomi. Tuntutan awalnya berfokus pada harga bahan bakar dan biaya hidup, tetapi kemudian berkembang mencakup isu upah minimum, pajak, hingga kekecewaan terhadap gaya pemerintahan yang dinilai tidak berpihak pada kelompok berpenghasilan rendah.
Selama ini, aksi serupa beberapa kali berlangsung dengan skala besar dan berdampak pada aktivitas ekonomi, khususnya sektor pariwisata dan ritel di pusat kota. Kalangan pengusaha mengeluhkan penurunan kunjungan wisatawan serta kerugian akibat penutupan jalan dan penghentian operasional transportasi publik.
Imbauan Kewaspadaan bagi Warga Asing
Sejumlah kedutaan besar, termasuk perwakilan Indonesia di Prancis, mengimbau warganya meningkatkan kewaspadaan. Warga diminta menghindari kawasan yang menjadi pusat kerumunan, memantau perkembangan situasi melalui kanal resmi, serta mematuhi arahan aparat keamanan setempat.
Imbauan tersebut menekankan pentingnya komunikasi dengan perwakilan diplomatik apabila terjadi keadaan darurat, serta menyarankan warga untuk tidak melakukan perjalanan ke area yang tengah dilanda kerusuhan tanpa keperluan mendesak.
Kondisi Terkini
Hingga laporan ini disusun, aparat keamanan masih berjaga di sejumlah titik rawan. Pemerintah kota disebut tengah melakukan asesmen terhadap kerusakan infrastruktur dan bangunan bersejarah, sementara proses hukum terhadap mereka yang ditahan berjalan bertahap. Situasi di pusat kota dilaporkan berangsur kondusif, meski aktivitas sebagian warga dan pelaku usaha belum sepenuhnya pulih.
Komentar (0)